Langkah-Langkah Membuka Gerai Makanan di Mal

0
103
Gerai di Mal (dok franchiseglobal.com)

 

Pilihan membuka usaha makanan di mal juga sangat tepat. Apalagi di kota besar seperti Jakarta yang sangat sibuk dan macet, orang suka memenuhi kebutuhannya di satu tempat yang lengkap yaitu di mal atau pusat pembelanjaan. Ujung-ujungnya kebutuhan makan juga dipenuhi di mal. Bahkan berdasar riset yang saya jalankan tahun ini, sebanyak 80% pengunjung mal di Jakarta akan mampir ke foodcourt atau kedai makanan yang ada di mal. Budget mereka rata-rata sekali makan Rp 25.000 per orang. Tentu peluang pasar yang menarik.

Kalau begitu hal apa saja yang perlu diperhatikan kalau membuka usaha makanan di mal? Pertama, perlu diingat bahwa kesuksesan usaha kita kalau membuka usaha di mal sangat tergantung pada sukses tidaknya mal tersebut menarik pengunjung. Maksudnya, pilihlah mal yang banyak pengunjungnya. Jangan mencari mal yang sepi pengunjung. Karena perlu diingat bahwa bisnis di mal akan laris atau tidak tergantung pada jumlah orang yang berkunjung ke mal tersebut. Sebagai contoh di Jakarta bertebaran banyak mal, namun tidak semua mal penuh pengunjung.

Saya beri contoh salah satu mal di kawasan Mangga Dua, Jakarta. Meski daerah Mangga Dua merupakan kawasan perdagangan yang sangat padat dan laris misalnya di ITC Mangga Dua atau Pasar Pagi, namun ada juga mal di kawasan ini yang sepi, sebutlah mal “W”. Saya amati dari waktu ke waktu jumlah pengunjung mal “W” ini menurun. Akibatnya banyak kios-kios yang tutup termasuk foodcourt-nya yang kembang kempis. Banyak rumah makan di mal ini gulung tikar karena dengan sedikitnya pengunjung otomatis orang yang mau makan juga menyusut. Jadi langkah pertama, amati jumlah pengunjung suatu mal. Kalau perlu lakukan perhitungan berapa orang yang masuk ke mal per hari. Mal-mal besar biasanya memiliki jumlah pengunjung minimal rata-rata 30.000 orang per hari.

Kalau sudah menilai beberapa pilihan mal dengan jumlah pengunjung yang banyak, langkah berikutnya mengamati karakteristik orang-orang yang berkunjung ke mal. Tiap mal memiliki jenis segmen pengunjung yang berbeda-beda. Misalnya dari segi usia, kelas sosial, daya beli, dan sejenisnya. Sebagai contoh pengunjung mal ITC adalah pembeli yang mencari nilai terbaik dari uang yang dibelanjakannya. Artinya, kalau kita membuka konter makanan di mal ini, kita sebaiknya menawarkan dengan porsi banyak harga murah.

Beda lagi dengan pengunjung Plaza Blok M yang kebanyakan anak muda atau ABG. Kalau kita buka usaha makanan di mal ini harus disesuaikan dengan selera makan anak muda dan sesuai kantong mereka. Lain lagi dengan Mal Pacific Place yang banyak didatangi pengunjung berkelas atau orang-orang kantoran dengan jabatan tinggi. Kafe atau rumah makan di mal ini menawarkan suasana yang nyaman untuk pertemuan bisnis. Tak heran menu makanannya premium dengan harga yang mahal. Jadi pada langkah kedua, cermati seperti apa ciri-ciri pengunjung mal yang akan dibidik. Ini penting untuk mengetahui selera kebanyakan pengunjung mal tersebut.

Setelah mengetahui karakteristik pengunjung suatu mal, lalu beri penilaian apakah tawaran rumah makan Anda cocok dengan target pengunjung mal? Sebagai contoh kalau rumah makan Anda dicitrakan sebagai kafe yang berkelas tinggi dengan harga mahal, tentu sebaiknya tidak membuka di mal yang pengunjungnya kelas sosial bawah. Gambaran orang yang mengunjungi mal juga berguna untuk menentukan apakah Anda perlu melakukan penyesuaian atau tidak dengan target pengunjung mal. Kalau pengunjung mal kebanyakan orang-orang Sulawesi Selatan tentu Anda dapat menawarkan menu yang sama di daerahnya.

Namun, kebanyakan pengunjung mal beragam sehingga perlu penyesuaian misalnya dari segi menu masakan. Pertimbangkan, apakah menu daerah Anda cukup dikenal bagi pengunjung mal? Saya sarankan untuk menawarkan menu yang agak umum dan menu khas spesial Sulawesi Selatan. Maksudnya menu umum seperti Ayam Goreng atau Nasi Goreng Sulawesi Selatan yang rasanya mudah diterima lidah orang banyak. Menu-menu ini ditujukan bagi mereka yang ingin menikmati masakan daerah namun tidak terlalu ekstrem. Lalu Anda tawarkan juga menu khas unggulan Sulawesi Selatan yang rasanya unik dan enak. Ini ditujukan bagi mereka yang ingin menikmati kekhasan daerah, yang ingin merasakan sensasi, sesuatu yang berbeda. Pilihlah 4-5 menu unggulan khas Sulsel.

Selanjutnya lebih mikro menyangkut posisi di dalam mal. Penentuan lokasi di dalam mal juga penting. Bidiklah tempat yang banyak dilalui pengunjung  atau traffic-nya tinggi. Hindari lokasi yang sepi pengunjung (dead end) seperti di pojok atau belakang sendiri. Konter Anda harus menarik perhatian mata para pengunjung.

Pertimbangan berikutnya adalah mengamati pesaing-pesaing yang ada di mal. Selidiki strategi para usaha makanan yang ada di mal yang akan dibidik. Apakah mereka menjual sistem paket? Berapa harga rata-rata yang dipatok pesaing ke konsumen sekali makan? Membaca strategi pesaing penting untuk melihat apa peluang pasar yang tersedia dan mana yang harus diikuti.

Terakhir, yang perlu diketahui saat membuka usaha di mal adalah beban biaya operasional yang berbeda antara di mal dan di tempat lain. Biasanya ada aturan yang ketat dari segi ragam barang yang ditawarkan yang dipatok pengelola mal. Juga, adanya service charge yang meliputi biaya operasional di mal yang dibebankan ke Anda sesuai dengan luas area.

Demikian jawaban dan penjelasan saya, semoga membantu Anda dan memperluas pemahaman bagi semua pembaca Peluang Wirausaha. Selamat membuka usaha!

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetya Mulya

Penulis Buku Jurus-Jurus Sakti Wirausaha

www.istijanto.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.