Mitos Pelayanan

0
49
Service excelence (dok withme.id)

 

Siang itu saya bersama keluarga mampir ke warung sate di bilangan Cikampek. Warung ini, di saat-saat liburan, apalagi ketika long week end, memang sering diantre pengunjung. Nyaris tidak ada bangku kosong. Apalagi di waktu makan siang tiba.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa duduk dan memesan makanan yang akan kami nikmati bersama. Dan butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa menikmatinya. Itu pun dengan sajian yang tidak lengkap sesuai pesanan.

Total ada 4 menu makanan yang kami pilih untuk dinikmati berlima, plus minuman pilihan masing-masing. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan pun datang. Minuman sudah terhidang sesuai order di depan kami. Sayangnya, menu makanan yang kami pesan, terhidang tidak lengkap. Menu utama memang ada, tapi menu tambahan berupa karedok tidak sekalian diantar.

Awalnya kami berniat menunggu, tapi karena khawatir kehilangan kelezatan Sate Maranggi hangat, kami pun mulai makan dengan harapan, menu lainnya diantar kemudian. Sesekali kami menegur pramusaji yang lewat untuk segera menghidangkan karedok. Sayangnya, sampai semua menu di meja tandas, sang karedok pun tak juga muncul.

Kami pun memutuskan untuk menyudahi makan siang itu, dan bergegas menuju kasir. Ternyata, soal pesanan tidak diantar bukan cuma menimpa kami. Beberapa orang lain pun mengalami hal serupa. Pesanan tidak diantar, entah karena pramusaji lupa atau juru masak terlambat menyiapkan pesanan, merupakan kejadian biasa di sini.

Dalam terminologi pelayanan prima, ini jelas-jelas melanggar pakem. Teorinya menyebutkan, mereka yang tidak baik melayani pelanggan cepat atau lambat akan ditinggalkan pelanggannya.

Benarkah demikian? Ternyata tidak juga. Ini bukan kejadian pertama di sini. Hampir setiap kali melalui warung ini, saya selalu mampir untuk mencicipi sate yang istimewa ini. Dan, bisa jadi ini juga dilakukan oleh banyak pelanggan lain di sini. Bertahun-tahun menikmati sate di sini, saya tidak pernah menjumpai warung ini dalam keadaan sepi pengunjung. Bahkan, area warung yang berada di tengah perkebunan karet, tampak cenderung semakin luas.

Buktinya, masih ada saja orang-orang yang rela antre. Masih ada saja orang-orang yang rela mendapat layanan tidak prima. Untuk satu produk istimewa dengan rasa tiada dua. Walau tidak bisa dipukul rata, masih ada warung-warung istimewa, yang mampu membuat pelayanan prima hanya jadi mitos.

 

Oleh: Zainal Abidin

Pengusaha, Pelatih Wirausaha, Penulis Buku,

dan Headmaster Sekolah Monyet

Email: [email protected]

Website: www.zainalabidin.net, www.sekolahmonyet.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.