5 Hal yang Membuat Strategi Pemasaran di Insta Stories Gagal

0
391
Ilustrasi Intsa Stories. (Ayima.com)

Berempat.com – Sudah satu dekade lebih media sosial telah menjadi alat baru dalam dunia pemasaran. Di balik besarnya pengguna, kemudahan mengakses, dan murahnya biaya, membuat media sosial menjadi pilihan utama yang disasar untuk melakukan pemasaran, baik oleh pelaku industri menengah sampai sekelas corporate.

Instagram menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh para pemasar. Selain besarnya pengguna di Indonesia, fitur seperti Insta Stories pun kini sudah sangat mendukung para pemasar yang hendak mengiklankan produknya.

Tapi, mungkin di antara Anda banyak yang sudah memanfaatkan fitur Insta Stories namun tidak mendapatkan hasil maksimal. Itu mungkin saja terjadi karena Anda belum mengetahui apa kesalahan yang Anda lakukan selama mengoperasikan Insta Stories tersebut.

Alex York, seorang penulis sekaligus pakar SEO pernah menulis di laman Sproutsocial mengenai 5 kesalahan yang dilakukan pengguna Insta Storites, sehingga tak mendapatkan tanggapan maksimal dari para pengikutnya.

  1. Gambar atau Video yang Kurang Menarik

Saat ini Instagram memberikan peluang besar kepada merek untuk menyoroti secara visual produk dan layanan mereka secara keseluruhan. Ingat debat yang terjadi di dunia maya hanya untuk menilai apakah warna gaun tersebut emas atau biru.

Intinya selalu ada sudut yang harus diambil dengan membuat indah, menarik perhatian di Instagram Stories. Karena itu Anda perlu memiliki seorang desainer berbakat. Alex menyarankan agar Anda segera memiliki orang-orang kreatif untuk konten Instagram Anda.

  1. Tidak Ada Teks untuk Mendorong Pesan

Pernahkah Anda melihat iklan dan bertanya-tanya pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan?

Alex percaya bahawa teks dapat menegaskan pesan yang ingin disampaikan. Sebagian besar pengguna Instagram membukanya melalui ponsel untuk melihat insta Stories. Itu berarti hanya mengandalkan suara bukan pilihan tepat. Apalagi bila tidak ada nilai story atau cerita di dalamnya.

Dan menurut Alex, lebih sering akan terjadi lonjakan keterlibatan atau tampilan hasil dari satu iklan akan lebih mudah dibaca atau lebih informatif bila disertai teks.

  1. Cerita Instagram Anda Terlalu Mencolok

Memang, menjadi menonjol perlu dilakukan tapi tidak bila terlalu mencolok. Bagi Alex, Insta Stories selalu diisi oleh konten yang menyenangkan, cepat, dan terkadang sempurna. Namun, terlalu sering menyodorkan konten yang terang-terangan berupa iklan kepada pelanggan juga bukan pilihan tepat.

Sebagai merek, bila Anda selalu tampil menjengkelkan secara visual menjengkelkan maka bukan tak mungkin banyak pengikut Anda yang akan menghapus Anda dari pertemanan.

Berdasarkan Sprout Social’s 2017 Q2 Index, sebanyak 51% konsumen akan berhenti mengikuti jika Anda menyebalkan. Yang lebih buruk lagi, hanya 26% yang akan mengabaikan konten Anda yang menjengkelkan. Itu artinya 74% mengambil tindakan untuk mengeluarkan Anda dari perhatian mereka, apakah itu mengejek, memboikot, atau menandai Anda sebagai spam.

  1. Cerita Instagram yang Masih Terlalu Kaku

Menurut Alex, demografi Instagram menunjukkan bahwa 59% anak usia 18-29 tahun menggunakan Instagram, sedangkan mereka yang berusia antara 50-64 tahun hanya 18% yang menggunakan Instagram.

Melihat besarnya pengguna di usia muda, Alex tak menyarankan Anda menghadirkan konten yang membosankan. Sebaiknya buatlah konten yang selaras dengan merek tapi didukung dengan visualisasi yang tinggi dan tak membosankan. Kemudian lakukan terus pengujian terhadap konten Anda untuk melihat mana yang terbaik untuk merek Anda.

  1. Anda Tidak Menceritakan Kisah yang Menarik

Menurut Alex, disebutnya fitur Insta Stories karena suatu alasan, yakni memberikan cerita yang menarik. Jadi jika cerita Anda membosankan, maka orang-orang tidak akan kembali untuk mengintip feed Anda.

Untuk merek yang ingin meningkatkan keterlibatan organik, Anda harus lebih baik dalam menceritakan kisah yang mendorong pengguna untuk terhubung ke gambar berikutnya. Cerita dapat memiliki banyak gambar atau video satu demi satu.

Alex pun mengatakan bahwa lebih baik sebelum mengunggah sebuah cerita, buatlah storyboard cerita Instagram Anda terlebih dahulu dengan tim. Dengan storyboard itu akan membantu Anda menyediakan cakupan menyeluruh dari tema, tujuan, dan sasaran Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.