Sugacube, Pionir 3D Figure di Indonesia

0
225
sugacube bandung (dok dipake.com)

 

Jika biasanya kita melihat action figure dalam bentuk para superhero, bagaimana jadinya jika anda yang menjadi object action figure tersebut?. Ide tersebut yang melatar belakangi berdirinya Sugacube 3D Studio. “Waktu kecil saya dan kakak saya suka mengoleksi action figure superhero. Dari situ kita berkhayal bagaimana rasanya kalau kita sendiri yang menjadi action figure tersebut? Ide masa kecil tersebut akhirnya bisa saya wujudkan lewat Sugacube,” ujar Harry Liong, Pemilik Sugacube.

Dikatakan pria yang akrab disapa Harry ini sebelumnya sudah melakukan research sejak 2013. Dalam melakukan research Harry mengaku dibantu seorang rekan yang kebetulan seorang engineer dari Spanyol yang memang menjadi Negara asal industri 3D scanning dan 3D printing. “Namun itu hanya teori saya sedangkan untuk setting teknologinya benar-benar secara otodidak,” ujarnya.

Setelah mendapatkan metode yang tepat dan efisien, akhirnya Harry memberanikan diri membuka Sugacube pada April 2014 di Bandung, Jawa Barat. Disinggung soal modal awal Hary mengaku harus merogoh kocek sebesar Rp 3 miliar hanya untuk peralatan yang harus di impor dari Amerika. Menurut Harry di Indonesia sendiri belum ada usaha sejenis, dan di dunia sendiri Sugacube merupakan yang ke 6 di usaha ini.

“Di Indonesia sendiri pelaku usahanya belum banyak. Sebelum Sugacube baru ada 1 pelaku usaha 3D printing, namun teknik yang mereka gunakan berbeda dengan saya, selain itu produk yang ditawarkan juga berbeda sehingga segmentasi pasarnya juga berbeda,” ujarnya.

Benar saja, karena masih tergolong baru, Sugacube langsung dibanjiri pelanggan khususnya yang berasal dari Jakarta. “Justru masyarakat Bandung masih skeptis, dan bertanya-tanya aduh ini apa ya?,” ujarnya. Melihat mayoritas pelanggannya dari Jakarta, maka November 2014 Harry memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, sedangkan di Bandung hanya tempat produksinya saja.

3D Figure

Dikatakan Harry teknologi 3D printing memang sudah ada di Indonesia sejak 2007, namun saat itu lebih ke prototype sebuah benda seperti botol, atau rumah. Maka berbeda dengan Sugacube menawarkan kepada pelanggan 3D figure dirinya sendiri yang dapat digunakan sebagai pajangan, dekorasi wedding cake, atau untuk mengabadikan sebuah momen.

Untuk dapat menghasilkan 3D figure Harry harus melewati 2 tahap yaitu 3D scanning dan 3D printing. 3D scanning adalah proses men-scan object (pelanggan,-red) dengan menggunakan 75 kamera agar mendapatkan hasil dimensi yang akurat. Harry mengaku sengaja menggunakan 75 kamera demi memberikan kenyamanan bagi pelanggan.

Bukan tanpa alasan Harry memilih metode 3D scanning dengan menggunakan 75 kamera pasalnya metode scanning lainnya seperti Qnex misalnya, maka objek tidak boleh bergerak dalam 2-3 menit, jika bergerak sedikit saja maka proses scan akan gagal. Sedangkan proses 3D scanning yang dilakukan Harry hanya butuh 1-3 detik saja. “Tentu itu akan sangat sulit dan tidak nyaman bagi pelanggan jika harus diam tidak bergerak dalam beberapa menit, bagi saya juga sangat tidak efisien,” ujarnya.

Gambar yang dihasilkan dari 3D scaning proses selanjutnya direndering (digabungkan) menjadi satu dan di-match untuk mendapatkan bentuk yang sesuai dengan objek yang difoto. Setelah mendapatkan bentuk yang dinginkan proses selanjutnya adalah 3D Printing dengan menggunakan bahan sandstone yang diimpor langsung dari Amerika. “Terakhir kita kita semprotkan cairan khusus agar warnanya lebih keluar,” terangnya.

SugaCube mampu membuat 3D figure dengan tingkat kemiripan hingga 90% dari aslinya, apa yang dipakai pada saat 3D scanning maka itu yang akan di cetak. SugaCube menawarkan 5 skala yang ditawarkan mulai dari paling kecil dengan skala 1:20 hingga paling besar dengan skala 1:5.

Mengingat teknologi yang digunakan masih terbilang baru dan bahan baku yang harus impor, maka harga yang ditawarkan tidak bisa dibilang murah. Harga yang ditawarkan SugaCube berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 30 juta tergantung skala dan banyaknya bahan baku yang digunakan. “Belum lama ini saya mengerjakan pesanan 3D figure pesanan khusus berupa kepala saja dengan skala 1:1,” ujarnya.

Dari harga tersebut Harry mengaku mendapatkan margin keuntungan sebesar 150% dari biaya produksi atau sekitar 60% dari harga yang ditawar. Menurutnya margin keuntungan tersebut sudah termasuk risiko jika proses pembuatan 3D figure mengalami kegagalan. “Prosesnya selama 2 minggu, dan kalau gagal kita malah akan rugi karena harus mengulang lagi dari awal,” ujarnya.

Pemasaran

Untuk pemasaran Harry mengatakan karena yang dijual SugaCube adalah momen, maka Harry banyak melakukan kerjasama dengan EO maupun corporate, misalnya kita bisa bikin wedding topper cake. Belum lama ini SugaCube bekerja sama dalam peluncuran Starwars. “Beberapa kita suruh orang yang memakai costume tokoh dalam Starwars untuk melepas topengnya dan kita beri penghargaan kepada mereka,” ujarnya.

Selain itu Harry juga menjalin kerjasama dengan corporate yang ingin mengadakan gala dinner dan memberi penghargaan pada seseorang. Untuk event gala dinner Harry mengaku mampu melakukan setup cukup dengan 20 kamera dan scan setengah badan. Selain EO dan corporate, ada juga perorangan yang sengaja datang ke SugaCube untuk mengabadikan momen mereka. “Misalnya ada yang ingin dibuatkan patung saat sedang hamil atau wisuda,” tambahnya.

Kedepannya karena banyaknya permintaan, Harry berencana untuk membuka cabang SugaCube di kota-kota lain seperti Surabaya dan Makasar. Harry juga mengaku tertarik untuk mengembangkan usahanya lewat sistem franchise. “Sudah banyak permintaan khususnya dari musium-musium,” terangnya.

Kendala dan Promosi

Dikatakan Harry, yang menjadi kendala selama menjalani usaha SugaCube adalah mahalnya harga bahan baku, imbasnya harga jual juga menjadi mahal. Padahal menurutnya banyak permintaan dari kalangan menengah yang ingin mengabadikan moment mereka, namun dengan harga yang terjangkau.

Solusinya Harry mencoba menawarkan setengah badan dengan skala yang lebih kecil. “Sampai saat ini saya juga tetap mencari bahan baku yang lebih murah agar dapat terjangkau oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya. Kendala lainnya adalah pelanggan masih harus datang langsung ke SugaCube untuk di-scanning, namun Harry mengaku tengah mengembangkan bagaimana caranya bisa scan hanya melalui foto saja sehingga pelanggan di daerah tidak perlu datang ke Jakarta.

Harry sadar usahanya masih seumur jagung dan masih tahap branding dan butuh banyak promosi. Harry mengaku masih mengandalkan media sosial Intagram sebagai media promosi, serta mengikuti sejumlah pameran. Meski begitu Harry optimis prospek usahanya mengingat di Singapore dan Australia juga tengah booming 3D figure. “Bahkan di Spanyol sendiri orang yang ingin membuat 3D figure harus antri 3 bulan,” pungkasnya. Fazri

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.