Untung Besar dari Buah Naga Hitam dan Super Red Organik

0
102
Buah naga (dok tentangbuahnaga.blogspot.com)

 

Tanaman buah naga berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman yang dikenal juga dengan nama kaktus madu ini memiliki bentuk yang sangat eksotik, yakni tanamannya memanjang/menjalar dengan buah bersisik seperti sosok naga dalam cerita legenda. Buah ini pun cukup harum dan rasanya manis. Kini, beragam jenis buah naga  terus meramaikan pasar buah lokal di Indonesia.

Buah naga yang saat ini dibudidayakan di Indonesia ada empat jenis, yaitu buah berkulit merah dengan warna daging putih (Hylocerous undatus), kulit merah berdaging merah (Hylocerous polyrhizus), kulit merah berdaging super merah/Super Red (Hylocerous costaricensis) dan kulit kuning daging putih (Hylocerous megalanthus).

Dari keempat jenis buah naga tersebut yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia adalah buah naga Super Red atau juga dikenal dengan sebutan buah naga daging ungu. Super Red ini masih terbilang baru dan paling diminati masyarakat. Kepekatan warna merahnya yang cenderung ungu menunjukkan buah ini kaya akan betakaroten (provitamin A), zat besi, Vitamin B, C dan zat gizi lainnya.

Satu lagi yang kini mulai banyak dicari adalah buah naga dengan daging buah berwarna hitam. Varietas baru yang sedang naik pamor ini dikembangkan pertama kali oleh Prof. DR. AP Kusumaningrat, PhD, yang juga menjadi Dosen Kewirausahaan di Universitas Nusantara PGRI Kediri, Jawa Timur.

“Saya ingin menciptakan buah naga yang nggak biasa. Berbagai macam cara sudah saya coba, dan terakhir saya berhasil menciptakan buah naga berdaging hitam yang ternyata dari rasa dan manfaatnya jauh lebih tinggi dibanding jenis yang sudah umum,” ujar professor yang biasa disapa Mas Demang ini.

Mas Demang  melakukan eksperimen untuk menemukan varietas baru ini cukup memakan waktu lumayan lama, yaitu sekitar lima tahunan.

Dengan  perlakuan tertentu, warna daging buah naga bisa berubah, seperti yang terjadi pada buah naga hitam. Menurut Mas Demang, buah naga hitam sebenarnya adalah jenis buah naga daging merah. Namun, akibat penggunaan pupuk khusus yaitu pupuk natural hitam (campuran kotoran sapi, ampas jamu, cengkok cengkeh atau cengkeh sisa dari pabrik rokok, dolomit, dan abu sekam) warna dagingnya bisa menjadi hitam. Fermentasi cengkok cengkeh atau cengkeh sisa pabrik rokok inilah yang membuat daging buah didominasi warna hitam. Orang pun menyebutnya buah naga daging hitam.

Banyak manfaat yang bisa diambil jika rajin mengonsumsi buah naga, yakni menurunkan kolesterol, menyeimbangkan kadar gula darah, menurunkan demam berdarah, pencegah kanker, pelindung kesehatan mulut, mencegah kanker usus, menguatkan fungsi ginjal, tulang dan daya kerja otak, meningkatkan ketajaman mata, mencegah pendarahan dan obat keputihan, mengobati sembelit, hipertensi dan memperhalus kulit wajah.

Prospek dan Persaingan

Prospek agribisnis buah naga masih sangat bagus terkait banyaknya buah naga impor di pasaran Indonesia dari berbagai negara. Artinya, permintaan akan buah naga semakin tinggi, seiring dengan semakin tingginya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan, sehingga peluang untuk membudidaya buah naga semakin besar.

Bayangkan saja, dari data ABNI, saat ini buah naga impor yang ada di pasar lokal mencapai 85%. Buah naga di supermarket lebih banyak berasal dari Vietnam, Thailand dan China dengan harga  yang lebih murah,  atau selisihnya sekitar Rp 5-6 ribu dibandingkan harga buah naga lokal.

“Masyarakat hanya tahu buah naga supermarket dijual dengan harga murah. Padahal harga tersebut menunjukkan bahwa kualitas buah impor lebih rendah dari hasil kebun lokal,” ungkap Gunung Soetopo.

Ditambahkan Gunung, buah naga impor rasanya kurang manis, warna buah pun kurang cerah, jauh di bawah kualitas buah naga lokal.

Guna mengembangkan usaha  budidaya buah naga,  pemerintah  saat ini membantu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan usaha budidaya, kapasitas breeding (pembibitan) dan memfasilitasi pengadaan pameran pertanian.

Agar tidak terus menerus mengimpor bibit, pemerintah bekerja sama dengan para breeder untuk menghasilkan bibit yang baik. Misalnya bibit buah naga dari Sabila Farm milik M Gunung Soetopo yang telah disahkan pemerintah (Menteri Pertanian) sebagai varietas lokal dengan nama Sabila Putih dan Sabila Merah.

Menurut Agus Rhoma, pemilik Keboen Nogo, bibit yang baru dibeli bisa langsung ditanam dengan catatan sudah berakar. Saat ini harga bibit di pasaran mencapai Rp 10-50 ribu/batang dengan tinggi 30 cm sampai 2 m. Dari 1 pohon indukan berumur 3 tahun ke atas, bisa dilakukan perbanyakan untuk menghasilkan bibit dengan cara stek.

Satu pohon bisa menghasilkan 10 batang bibit setiap 4-6 bulan sekali. Kriteria bibit yang bagus, antara lain sehat, bebas dari bekas serangan jamur dan bakteri, sudah berakar serabut, batang gemuk dengan diameter sekitar 7 cm dan berwarna hijau tua.

Syarat Iklim

Menurut Sri Kuntarsih, kelebihan tanaman buah naga yakni ketahanan simpan yang cukup lama meski tanpa perlakuan pascapanen. Kulitnya yang tebal merupakan “selimut” atau pelindung daging buah dari benturan, air, udara atau apapun penyebab kontaminasi atau kebusukan buah.

Budidaya buah naga termasuk mudah dan minim perawatan. Bahkan tanaman buah naga Super Red bisa ditanam secara tabulampot. Seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan, Indian Hill Farm yang juga menjual tanaman buah naga sebagai tabulampot (tanaman buah dalam pot) dan parcel. Penampilan bunga yang cantik dan buah yang menarik (berkulit merah dengan ujung jumbai/sisik warna hijau), membuat ttanaman buah naga  Super Red  bisa dimanfaatkan  juga sebagai tanaman hias.

Saat ini sentra penanaman buah naga tersebar di daerah Jawa Barat  adalah Bogor, Sukabumi,  dan Sumedang. Sentara di Jawa Tengah  ada di Pati, Kendal, Sukoharjo, dan  Kulonprogo. Untuk  Jawa Timur  ada dua tempat Pasuruan, dan  Jember.  Sedangkan  untuk wilayah Sumatera, sentranya ada di Karimun Kepulauan Riau, Kota Pekanbaru, Kota Batam,  dan Padang Pariaman. Selaian itu sentara buah naga juga ada di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.

Teknik budidaya tanaman buah naga sendiri,  kini diarahkan ke tren organik, sebab selama ini buah naga masih ditanam secara anorganik. Dengan cara organik bisa dihasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik, salah satunya tahan simpan di suhu ruang biasa sampai 10 hari, sedangkan jika dalam refrigerator/kulkas sampai 1 bulan.

Buah yang dihasilkan juga sehat tanpa residu bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh dan lingkungan sekitar. Biaya produksi menjadi lebih rendah, karena bisa menggunakan pupuk organik (sisa tanaman dan kotoran hewan) yang banyak ditemukan dan mudah didapatkan dari lingkungan sekitar.

Pemasaran

Data dari Direktorat Budidaya Tanaman Buah Kementrian Pertanian menunjukkan, standar mutu buah naga yang sering dijual di pasaran  adalah  grade Super, grade A dan grade B. Grade Super, bobot buah biasanya di atas 700 gr, tingkat kemanisan minimal 11°brix dengan penampilan buah dan kulitnya yang normal tanpa cacat.

Grade A, ukuran buah 500-700 gr dengan tingkat kemanisan dan penampilan yang sama dengan grade Super. Sedangkan grade B, ukuran buah hanya 350-500 gr dengan tingkat kemanisan dan penampilan buah yang sama dengan grade lainnya.

Grade buah yang bisa masuk supermarket adalah grade Super dan grade A, sedangkan grade B biasanya dipasok ke pasar tradisional atau toko buah. Buah naga dari kebun petani ada yang langsung dijual ke supermarket atau terlebih dahulu melalui supplier, baru ke pasar tradisional atau toko buah.

Dijelaskan, M. Gunung Soetopo, buah yang dipetik dari kebun untuk dijual umumnya sudah matang 100%, karena buah naga merupakan jenis buah non-klimakterik (buah yang harus mengalami pemeraman/penyimpanan setelah dipetik  untuk mencpai kematangan).

Berdasarkan data Asosiasi Buah Naga Indonesia, harga di tingkat konsumen untuk beberapa buah naga di pasaran seperti  buah naga daging putih lokal harganya  Rp 15-20 ribu/kg, buah naga daging putih impor Rp 10-14 ribu/kg, buah naga daging merah lokal Rp 25-70 ribu/kg, buah naga daging merah impor Rp 20 ribu/kg. Selisih harga dari kebun, di tingkat pengumpul, dan di supermarket biasanya sekitar Rp 4 ribu/kg.

Diingatkan Gunung Soetopo, kendala utama dalam usaha budidaya buah naga, antara lain masih terus membanjirnya buah naga impor. Untuk itu pelaku usaha sudah berusaha menggenjot produksi dan pihak ABNI (Asosiasi Buah Naga Indonesia) harus lebih vokal meminta agar pemerintah mengurangi impor buah naga.

Kendala lain berupa cuaca yang tidak menentu dan perubahan cuaca ekstrem bisa mengganggu pola tanam petani. Untuk itu perlu ditanam varietas yang tetap produktif pada kondisi cuaca apapun, misalnya Super Red.

Paling Untung

Harga buah naga organik di pasaran lebih tinggi dibandingkan buah naga anorganik, dengan selisih Rp 5-10 ribu/kg. Dengan biaya produksi yang cukup rendah karena pemeliharan mudah, membuat keuntungan yang didapat dari pembudidayaan buah naga secara organik cukup besar.

Dari pengalaman pembudidaya buah naga organik jenis Super Red dan  buah naga hitam, keuntungan paling besar  diperoleh pada budidaya buah naga hitam seperti yang dilakukan  Mas Demang, pemilik Wana Natural Farm,  dimana tingkat keuntungan sampai  83%. Sementara Sinatra Hardjadinata, pemilik Indian Hill Farm yang membudidaya Super Red meraup keuntungan 60%, sedangkan jenis yang lain di bawah itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.