Gurihnya Budidaya Ikan Balita

0
1062
Ikan Balita (dok mtw.or.id)

ikan Mas Balita (ukuran 3-8 cm) cukup diminati masyarakat luas yang membuat bisnis budidaya ikan balita ini semakin menarik. Jika sebelumnya ikan balita identik dengan ikan Mas, kini berbagai ikan air tawar seperti ikan Nila, Nilem, Mujair, Lele hingga Gurame mulai banyak dipanen muda untuk dijadikan camilan Ikan Balita Goreng kering.

Selain ikan Mas Balita, kini ikan Nila Balita dan ikan Nilem Balita mulai menyodok dan cukup digemari. Selain sebagai lauk, ikan balita juga bisa dijadikan buah tangan. Sebut saja ikan Mas Balita yang jadi oleh-oleh khas Bogor, dan ikan Nilem Balita yang sejak lama kesohor sebagai oleh-oleh khas Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sentra budidaya ikan Nila menyebar di beberapa derah seperti Cirata Jatiluhur, Cianjur, Tasikmalaya, Sukabumi, Jawa Barat; Gresik, Lamongan, Bali, Jambi, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan; Danau Toba, Sumatera Utara; Karang Intan-Kalimantan Selatan dan Minahasa-Sulawesi Utara.

Nila Gift (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) merupakan jenis ikan yang paling banyak dibudidaya untuk dijadikan Nila Balita. Pasalnya pertumbuhan Nila Gift jauh lebih pesat dari ikan Mas.

“Nila Gift pertumbuhannya sangat cepat, satu bulan saja sudah bisa panen. Hebatnya lagi dari 1 liter benih Nila Gift bisa menghasilkan 100 kg Nila Balita, sedangkan ikan Mas saja hanya 50-60 kg,” ujar Engkos Koswara, pembudidaya Nila Balita di Cianjur, Jawa Barat.

Meski pertumbuhan ikan Nilem tidak sepesat ikan Nila, namun ikan Nilem sangat rendah biaya produksinya. Pasalnya selama pembesaran dari benih (larva) menjadi ikan balita cukup memakan lumut dan plankton yang tumbuh secara alami di kolam. Hanya saja untuk menumbuhkan pakan alami tersebut perlu memberikan kotoran ayam (pupuk kandang) dalam kolam.

Hal yang juga penting di usaha budidaya ikan balita adalah ketersediaan oksigen dalam air dan sirkulasi air yang lancar. Untuk itu, budidaya ikan balita harus memiliki aliran air yang masuk ke dalam kolam dan ada pula air yang keluar dari dalam kolam. Dengan demikian gas amoniak, dari kotoran ikan tidak menumpuk yang dapat memicu datangnya penyakit.

Menurut Adi Sucipto dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, kolam tanah sangat cocok untuk budidaya ikan balita dengan kedalaman 50-70 cm. Selain di kolam, ikan balita juga bisa dibesarkan di sawah dengan sistem minapadi, namun hasilnya kurang optimal dan perlu waktu yang lebih lama.

Sangat Menjanjikan

Ayi Solihin, pengepul ikan balita di daerah Cianjur, Jawa Barat mengatakan prospek usaha budidaya ikan balita ini sangat menjanjikan. Betapa tidak, jika budidaya pembesaran ikan Nila maupun Nilem perlu 5-6 bulan, ikan Nila Balita sudah bisa dipanen mulai umur 1 bulan. Selain waktu panen yang singkat, harga jual ikan balita ke supermarket, catering dan restoran menengah atas itu sangat tinggi.

“Untuk harga Nila Balita saja bisa mencapai Rp 45 ribu/kg setelah dibersihkan bagian dalamnya,” papar Ayi, pemasok Nila Balita segar ke berbagai supermarket besar itu.

Sementara itu untuk ikan Nilem yang dipanen pada umur 2,5-3 bulan dijual dengan harga Rp 14 ribu/kg di tangan petani, Rp 17-20 ribu/kg bila dijual ke supermarket seperti Carrefour, restoran maupun catering dan Rp 15 ribu/100 gram jika Nilem Balita telah digoreng kering dan dikemas dalam plastik bening.

Mengingat pelaku usahanya masih belum banyak, tentu peluangnya terbuka lebar. Apalagi saat ini permintaan baru terpenuhi 70% saja. Sebagai contoh permintaan ikan Nila Balita per bulan saja lebih dari 4 ton. “Permintaannya sih tinggi, tapi saya baru bisa pasok 50-100 kg tiap minggu ke beberapa supermarket yang tersebar di Jakarta dan Cianjur,” ujar Engkos Koswara.

Pemasaran.

Memang pelopor booming ikan balita adalah Catering dan Restoran Karuhun di Bogor, Jawa Barat yang menyajikan menu ikan Mas Balita. Seiring permintaan yang terus meningkat, saat ini permintaan bukan hanya datang dari pengusaha restoran maupun catering. Permintaan pun banyak datang dari supermarket seperti Carrefour, Hypermart, Lotte Mart, Superindo, Diamond, Ranch Market, Kem Chick, Hari-hari, Harmoni, dan Naga.

Namun sayang, karena petani ikan balita juga melayani permintaan dari petani pembesaran ikan, tak ayal satu orang petani belum bisa memasok langsung ke supermarket besar. Padahal selisih harga begitu besar berada di tingkat tengkulak (supplier). “Petani belum bisa menyanggupi jumlah dan kontinuitas dari permintaan supermarket, jadi mereka jual ke tengkulak,” papar Ayi.

Untung Besar

Usaha budidaya ikan balita memang sangat menguntungkan. Selain budidaya yang singkat, penggunaan pakan yang minim (hanya dedak) membuat usaha ini kecil biaya produksinya. Tak ayal petani Nilem Balita bisa untung hingga 95%.

“Karena ikan Nilem termasuk herbivora, jadi makannya lumut dan plankton. Praktis saya nggak pakai pelet. Paling bagus saya berikan dedak padi 100 kg/bulan,” aku Hendra.

Kunci suksesnya adalah ia menggunakan kolam tanah yang memiliki aliran air sungai dan untuk menumbuhkan lumut dan plankton sebagai pakan alami Nilem, ia membuat sistem polikultur atau longyam yakni membudidaya ayam di atas kolam ikan. Dengan begitu kotoran ayam langsung jatuh ke dalam kolam yang menyuburkan tanah sehingga tumbuh lumut dan plankton sebagai pakan alami dalam kolam.

Sementara itu, keuntungan besar hingga 65% juga diperoleh Abang Koswara yang membudidaya Nila Balita. Mumpung pelaku usaha budidaya ikan balita belum banyak, mengapa Anda tak mencoba peluang usaha budidaya ikan balita ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.