Kewalahan Penuhi Permintaan Belut 2 Ton Sehari

0
353
Permintaan 2 ton belut (dok pertanianku.com)

Berawal saat menyambangi sebuah pasar di Lampung pertengahan tahun 2008, secara tak sengaja M Fajar Junariyata menjumpai pedagang belut. kala itu di Lampung harga belut masih sangat murah Rp 8 ribu per kilo sedangkan di wilayah Jabodetabek harga belut sudah menembus Rp 28 ribu per kilo. Melihat cukup jauhnya ketimpangan harga tersebut membuat pria yang akrab disapa Fajar ini menangkap sinyal bisnis.

Tak menunggu waktu lama Fajar akhirnya melakukan usaha jual beli belut dengan merogoh kocek Rp 1,2 juta sebagai modal awal. Setiap hari belut yang dijualnya di pasar selalu habis, berapa pun jumlah belut yang dibawa. Aktivitas jual beli belut dilakukan Fajar hampir 7 bulan dengan pergi pulang Sentul Lampung setiap akhir pekan.

Memasuki awal 2009 Fajar mengalami kecelakan hebat saat ingin kembali ke Sentul. Hal itu membuat Fajar harus memutar otak agar bisnis belutnya tetap berjalan. Tercetuslah ide untuk membudidaya belut sendiri karena jika terus mengambil dari Lampung dirasa Fajar kurang efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga.

Di masa trial and error Fajar mencoba budidaya belut dengan memakai 6 drum kaleng yang dirangkai menjadi 3 drum berdiameter 80cm di pekarangan rumahnya seluas 800 meter persegi di bilangan Babakan Madang, Sentul Bogor, Jawa Barat dengan modal yang terbilang sangat minim hanya Rp 600 ribu. Dengan mengikuti cara konvensional yaitu menggunakan lumpur sebagai media pembesaran menurut Fajar hasil yang dirasa tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan selama masa pembesaran.

“Saya angkut lumpur dari sungai, sudah cape-cape ternyata hasilnya gak seimbang,” kenang pria kelahiran Sragen 49 tahun lalu ini.

Kendati hasilnya masih belum maksimal Fajar tak patah arang untuk terus mencoba dengan memodifikasi teknik budidaya. Setelah mengalami beberapa kali uji coba akhirnya suami dari Sulistiana ini menemukan cara yang cukup efisien dan mampu meningkatkan produksi hingga 3-4 kali lipat. Yaitu, teknik budidaya belut air bening sehingga tak lagi memerlukan lumpur sebagai media.

“Setelah saya analisis secara berkelanjutan belut itu termasuk hewan yang tidak dapat mempertahankan diri karena tidak memiliki sirip, gigi, patil dan sisik layaknya ikan sehingga belut memerlukan lumpur hanya sebagai tempat mempertahankan diri saja. Dibiakkan tanpa lumpur pun belut tetap bisa hidup dan untuk sekadar perlindungan saya gunakan kedebong pisang,” ujar Fajar.

Seiring waktu Fajar terus mengembangkan usahanya dengan melakukan pembesaran dan pembenihan. Khusus pembenihan wadah penampungan harus tetap terisi lumpur sebagai media untuk berkembang biak.

Fajar bisa memnggeluti usaha di bidang agribisnis karena sudah hobby sedari kecil, semua teknik budidaya belut ia dapatkan secara otodidak tanpa mengikuti pelatihan.

“Kebetulan saya terlahir sebagai anak desa yang gemar berkebun dan beternak oleh karenanya kini saya juga telah mendirikan PKBM Baitul Ilmi sebagai sarana pelatihan budidaya belut,” ujar pria jebolan S3 Ilmu Filsafat UNJ ini.

Pangsa Pasar Luas

Fajar melihat hingga detik ini prospek usaha belut masih cerah karena pangsa pasar yang luar biasa luas. Memenuhi permintaan dalam negeri saja ia masih kewalahan. Seperti permintaan dari salah satu supermarket modern sehari rata-rata 100 kg belut.

Bahkan permintaan jauh lebih tinggi untuk pasar ekspor. Khusus untuk memenuhi pasar Jepang, permintaannya hingga 2 ton setiap hari, namun Fajar belum bisa menyanggupi secara berkesinambungan karena produksi belut yang masih tidak stabil ditambah dengan peternak belut yang jumlahnya belum banyak dan skalanya masih kecil.

“Saya paling baru bisa menyanggupi 1 minggu 2 ton sedangkan untuk kebutuhan dalam negeri 3 hari sebanyak 50 kg,” uajr anak ke-3 dari 7 bersaudara ini.

Melihat jumlah permintaan yang begitu tinggi tak jarang Fajar memenuhinya dengan belut tangkapan alam. Dari permintaan pasar yang begitu tinggi Fajar merasa tak pernah menjumpai pesang karena bagi Fajar sesama peternak belut merupakan suatu usaha yang saling melengkapi, bahkan Fajar sangat menganjurkan bagi siapa pun untuk membudidayakan belut supaya permintaan pasar yang begitu tinggi bisa sedikit tertutupi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.