Keisengan Winston Utomo Lahirkan Media Daring Terhits untuk Generasi Y dan Z

0
837

Dari iseng-iseng, IDN Media kini menjaring 2,5 juta pembaca setiap hari

Berempat.com – “Jujur, kalo ditanya aku gak mikir sejauh ini,” ujar Winston Utomo, CEO sekaligus pendiri IDN Media di hadapan IDN Times Community di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 17 Maret 2018 lalu. Saat itu, Winston yang menggunakan batik tengah membagi sedikit pengalamannya saat pertama kali memulai cikal bakal IDN Media.

Akar IDN Media mulai dirajut Winston saat masih bekerja di Google tiga tahun lalu. Saat itu, Winston yang berusia 24 tahun memiliki semangat muda yang masih menggebu-gebu. Ia kerap merasa bosan setibanya di rumah setelah seharian bekerja. “Pulangnya nganggur. Terus ngapain ya? Masa cuma di rumah browsing-browsing gak jelas,” kisahnya memberikan jawaban pada pertanyaan yang diajukan oleh penulis.

Winston lantas mencari-cari sebuah kegiatan. Terbersitlah di benaknya untuk iseng menulis blog. Di sana, ia menuangkan berbagai opini dan pemikirannya terhadap suatu fenomena yang sedang ramai di Indonesia. Maret 2014, Winston telah rutin menulis hingga ada sekitar 10 artikel yang sudah ditulis dan dimuat pada blog pribadinya.

“Aku cuma ngerjain (nulis) habis pulang kerja setiap hari. Tapi kok lama-lama asyik juga,” ujar pria kelahiran Surabaya 23 November 1990 ini.

Tapi, nyatanya keisengan Winston mendapatkan respon positif dari warganet. Setiap artikel yang ditulisnya selalu berhasil mengundang banyak pembaca. Sampai ia pun mulai menyisihkan gajinya sedikit demi sedikit untuk membangun blognya.

Winston berpikir bahwa keisengan yang dikerjakannya itu mulai memiliki ‘bentuk’. Insting mudanya seolah mampu menangkap ada prospek menjanjikan dari keisengannya itu. Winston pun mulai mencari pekerja paruh waktu untuk rutin mengisi blognya dan mengajak adiknya, William Utomo yang hanya beda usia satu tahun dengannya untuk terlibat.

Kala itu Winston sudah tahu media seperti apa yang ingin dibentuknya. Yaitu media massa yang menyasar pembaca di rentang usia 15-35 tahun, atau Generasi Y (milennial) dan Generasi Z.

“Generasi (sekarang) paling besar itu millenial dan gen z di usia 15-35, tapi kenapa gak banyak media yang fokus ini? Empat tahun lalu media itu (target pembacanya) umur 35 tahun ke atas. Ya udah kita mulai, dulu gak mikirin sejauh ini sih,” tutur pria lulusan S2 Columbia University tersebut.

Tapi, Winston sadar bila ia masih harus mempelajari banyak hal dulu bila ingin benar-benar membangun sebuah portal berita. Winston dan William yang sama-sama bukan berlatar belakang pendidikan jurnalis pun mulai mengikuti berbagai workshop, seminar, maupun berdiskusi dengan pakar di bidang jurnalistik. Mereka juga belajar mengenai programming.

Sampai kemudian merasa cukup menimba ilmu yang dibutuhkan, pada Juni 2014 dua bersaudara ini pun mulai mendirikan portal berita bernama Indonesia Times. Inilah cikal-bakal IDN Media yang semula fokus menyajikan berita singkat hanya 100 kata.

Kala itu Winston sengaja membuat portal berita tak lebih dari 100 kata agar agar masyarakat Indonesia dapat membaca esensi berita dengan lebih efisien. Apalagi, kebiasaan masyarakat Indonesia saat bermain internet cenderung lebih suka membaca berita singkat daripada yang panjang. Indonesian Times saat itu masih dioperasikan oleh 15 orang termasuk Winston dan William di dalamnya.

 

winston - IDN TIMES INFOGRAFIS - Keisengan Winston Utomo Lahirkan Media Daring Terhits untuk Generasi Y dan Z

Mengutip dari Hitsss.com, saat kali pertama memulai portal beritanya, tantangan pertama yang dihadapi oleh Winston ialah bagaimana menciptakan konten yang viral. Karena itu, ia seolah mengadaptasi suasana kantor dan lingkungan kerja dari Google yang tak kaku, melainkan lebih santai seperti rumah sendiri guna memicu kreativitas.

“Kami membebaskan jam masuk kantor, tidak usah pakai seragam, kami sediakan makan siang gratis, mesin kopi, meja pingpong, dan lain-lain agar tidak jenuh dan bisa menghasilkan konten yang segar,” ujarnya di BNCC Techno Fair di Universitas Bina Nusantara, Mei 2016 lalu.

Namun rupanya saat pertama kali mulai benar-benar memutuskan untuk fokus mengembangkan Indonesia Times, Winston yang memutuskan keluar dari pekerjaannya mengaku sempat waswas karena media yang dibangunnya bisa kolaps sewaktu-waktu.

“Saat peluncuran, saya merasa deg-degan. Karena saya harus menggaji mereka dengan uang pribadi, kalau kolaps, nasib mereka bagaimana,” kisahnya seperti dikutip dari Tech in Asia.

Tapi, perlahan apa yang dikerjakan Winston pun mulai benar-benar membuahkan hasil. Genap satu tahun usia Indonesia Times berdiri, tepatnya pada 2015 silam perusahaan rintisannya itu pun menarik minat investor untuk memberikan pendanaan. Indonesia Times mendapatkan pendanaan tahap awal (seed funding) yang dipimpin oleh East Ventures. Namun, tak disebutkan berapa nilai pendanaan yang diterima kala itu.

Lantaran mendapatkan pendanaan baru, otomatis Winston pun mulai membenahi dan mengembangkan perusahaannya. Pertama ia mulai menambah jumlah personel timnya, hingga kemudian memutuskan untuk berpindah jalur dari yang semula merupakan portal berita 100 kata, menjadi situs berita yang lebih mengedepankan penyajian berita dalam bentuk daftar (listing). Saat itulah portal beritanya telah berubah nama menjadi IDN Times.

Media yang dibangun Winston lantas dapat berkembang pesat berkat menjalankan fokus dalam pembuatan konten kreatif maupun distribusi kontennya. Selain memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan beriklan di Google, IDN Times pun menjalin kerja sama dengan LINE (Line Today) dalam mendistribusikan konten yang dibuat sehingga dapat menjadi viral dan dibaca orang banyak.

Berkat berbagai strategi konten kreatif serta pendistribusiannya itu, pengunjung IDN Times terus menunjukkan kenaikan yang signifikan. Hingga pada September 2016, IDN Times telah mencatatkan sekitar 15 juta pengunjung bulanan mengumumkan bahwa perusahaan kembali dilirik oleh investor yang berujung pada diterimanya pendanaan Seri A yang dipimpin oleh North Base Media, yang juga merupakan investor dari situs media asal Filipina, Rappler.

Selain North Base Media, East Ventures kembali andil dalam pendanaan tersebut yang juga diikuti oleh GDP Venture.

Bagi Winston, apa yang berhasil dicapainya saat itu merupakan buah dari apa yang disukai dan yang ingin dilakukannya sejak dulu.

“Lakuin apa pun yang pengen kamu lakuin. Dan aku selalu percaya, kalo kamu terus ngelakuin kamu pasti bisa. Jadi aku sih gak mikir jauh, aku suka, kita lakuin dan harus suka. Jadi kalo kamu sudah beneran suka, mau seberapa pun susahnya itu, ya enjoy the process lah. Kalo aku (menjalankannya) enjoy kayak main game. Kalo (bisnis) gak ada problemnya, kurang menarik,” tuturnya di hadapan IDN Times Community.

Mendirikan Basis IDN Times Community yang Turut Melejitkan IDN Media

Seiring dengan perjalanannya, Winston mulai membangun beberapa saluran (channel) portal berita yang masih dalam satu jaringan dengan IDN Times, seperti Popbela.com yang fokus menyajikan konten khusus perempuan dari Generasi Y dan Z; Popmama.com yang fokus menyajikan konten untuk para ibu muda; IDN Creator Network; IDN Soundscape; IDN CreativeFest; FYI; dan Yummy Indonesia.

Semua itu ada dalam satu wadah yang kini bernama IDN Media. Namun, inovasi Winston tak sampai di situ. Ada satu terobosan baru yang dihadirkan Winston sehingga turut berperan dalam kemajuan IDN Times maupun IDN Media. Yakni saat Winston memutuskan untuk menghadirkan Community Writer atau komunitas penulis yang tergabung dalam IDN Times Community.

Jadi, siapa saja bisa mempublikasikan opini, artikel, maupun berita yang ditulis di IDN Times. Tapi, tentu saja harus mendaftar lebih dulu dan melewati tahap penyaringan juga penyuntingan oleh tim editor IDN Times. Keberadaan IDN Times Community ini digagas oleh Winston yang melihat besarnya potensi minat generasi Y dan Z dalam menulis yang sayang diabaikan.

“Awalnya dibikin platform nulis itu karena belum ada platform kaum milenial buat nulis gratis. Akhirnya ya sudah dibuat untuk jadi wadah menulisnya pembaca IDN Times. Kalo mereka bisa menulis, kenapa gak nulis,” kisah Winston.

Tapi, Winston tak serta-merta memanfaatkan kreativitas generasi Y dan Z yang memilih IDN Times sebagai wadah menulis dengan cuma-cuma. Ia memberikan timbal balik berupa poin yang bisa ditukar dengan uang tunai bagi komunitas penulis yang tergabung dan bisa mendapatkan banyak pembaca untuk setiap artikel yang ditulis dan sudah dipublikasikan di IDN Times.

Berkat sistem timbal balik dan kemudahan itulah, Winston berhasil menarik minat generasi muda yang suka menulis untuk menuangkan hobinya di IDN Times. Berawal dari puluhan penulis, kini jumlahnya sudah mencapai 59 ribu.

“Kita pengen ada targetnya 10 juta community writer. Sekarang kita ada 59 ribu,” ungkap Winston yang meluncurkan IDN Times Community pada Februari 2017.

Winston sendiri mengungkapkan harapannya agar semua orang yang memiliki minat lebih pada kegiatan menulis bisa fokus menulis sekaligus mendapatkan pendapatan di waktu bersamaan.

“Ada yang bisa bayar kuliahnya, ada yang bisa bantu orangtuanya. Jadi kita mau bilang, orang yang hobi nulis juga bisa mendapatkan uang dari situ,” tutur Winston.

Dan apa yang digagas Winston kembali menuai hasil yang besar. Berkat banyaknya jumlah penulis yang tergabung di IDN Times Community, pembaca yang datang ke situs IDN Times pun kian membludak, sampai pada November 2017 IDN Media mendapatkan pendanaan Seri B yang dipimpin oleh East Ventures. Investasi itu juga diikuti oleh perusahaan investasi asal Hong Kong, Central Exchange.

“IDN Media yang kita lihat saat ini baru menyentuh permukaan dari keseluruhan visi kami. Dengan tambahan modal ini, kami akan fokus pada misi untuk membangun perusahaan media multi platform yang lebih baik untuk kaum milenial dan Gen Z,” tutur Winston dalam sebuah rilis yang diterima Tech in Asia.

Mendobrak 3 Teratas Situs Berita Daring Indonesia yang Paling Banyak Dikunjungi

Menurut penuturan Winston, saat ini IDN Times telah mendapatkan jumlah pembaca sekitar 2,5-2,8 juta per hari. Jumlah yang cukup tinggi untuk sebuah media digital di Indonesia. Dan berkat tingginya jumlah pembaca itu, IDN Times pun mengklaim sempat masuk 3 besar situs berita daring di Indonesia yang paling banyak dikunjungi.

“IDN Times jadi omongan di media, karena dalam waktu 3 tahun per Januari kemarin berada di peringkat ke-3 media digital nasional. Dan base datanya itu ComScore,” ujar Editor in Chief IDN Times Uni Lubis, di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Maret 2018 lalu.

Atas pencapaian itu, bagi Lubis, IDN Times merupakan game changer dalam industri media digital karena terus mengalami peningkatan jumlah pengunjung setiap bulannya. “Jadi nomor satu itu Tribun, nomor dua Detik, nomor tiga IDN Times,” tambah Lubis.

Berbarengan dengan itu, IDN Times Community juga terus mengalami pertumbuhan yang positif. Setiap minggu setidaknya Lubis mengklaim bila rata-rata pertumbuhannya mencapai 1.000 penulis baru yang mendaftar setiap minggunya.

Bagi Winston, pencapaian IDN Times ini bukan hanya sekedar keberhasilan dalam menjaring pembaca, melainkan juga keberhasilan IDN Times dalam memberikan inspirasi kepada para pembaca. Karena bagi Winston, sikap dan pemikiran seseorang di masa depan dapat dipengaruhi oleh jenis informasi yang sering dibacanya setiap hari.

“Apa yang terjadi pada generasi orang 18 tahun, 25 tahun sekarang, itu terbagi dari konten yang dia konsum (sebelumnya). Kalo tiap hari konsum yang hoaks, konten yang ngejelekin orang terus, dia akan jadi orang yang punya mindset seperti itu. Tapi kalo dia tumbuh dengan konten yang informatif, akurat, menghibur tapi positif, dalam setahun dua tahun ke depan dia akan menjadi orang yang berpikir positif,” ujar Winston.

Jadi, itulah mengapa Winston berpendapat bila masa depan anak muda Indonesia tergantung dari informasi apa yang dikonsumsinya setiap hari. “Dan itu peranan media sangat-sangat penting,” sambungnya.

Pencapaian IDN Times memang tergolong luar biasa. Saat ini IDN Times bukan hanya memiliki kantor di Surabaya, tetapi juga memiliki kantor media di Palmerah, Jakarta Pusat. Dalam perjalanannya sejak merintis Indonesia Times hingga bisa menjadi seperti ini, Winston mengaku bahwa ia tak pernah takut untuk menghadapi segala tantangan, termasuk menghadapi kegagalan.

“Aku mikir, kalo aku gagal ya aku bakal punya cerita menarik,” ujarnya.

Di sisi lain, ketidaktakutan Winston menghadapi kegagalan dalam mengembangkan perusahaannya juga tak terlepas dari kepastian bahwa setiap manusia memiliki batas usia. Karena itu, menurutnya, yang ia pikirkan selama ini hanyalah melakukan yang terbaik dalam hidup.

“Kamu gak bakal tahu kapan kamu bakal mati. Kamu bisa mati besok, minggu depan, 70 tahun lagi. Make sure, karena kamu tahu kamu bakal mati, jadi seumur hidup kamu bakal berusaha sebaik mungkin,” tutup pria lulusan S1 di University of Southern California ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.