Trump Cari Dukungan Xi Jinping untuk Tekan Iran dan Redakan Konflik Global

0
8
Trump Cari Dukungan Xi Jinping untuk Tekan Iran dan Redakan Konflik Global
Trump Cari Dukungan Xi Jinping untuk Tekan Iran dan Redakan Konflik Global (Foto/Reuters)
Pojok Bisnis

Presiden China Xi Jinping dijadwalkan menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi sorotan dunia internasional karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Iran dan isu sensitif terkait Taiwan.

Kunjungan Trump ke Beijing disebut sebagai upaya baru Washington untuk membuka jalur diplomasi dengan pemerintah China setelah selama beberapa pekan gagal mendorong Beijing menekan Iran agar menyepakati penghentian konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Selain itu, Amerika Serikat juga berharap China dapat membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat eskalasi perang.

Meski begitu, banyak pihak menilai pertemuan Trump dengan Xi Jinping kali ini tidak serta-merta akan menghasilkan kesepakatan besar. Hubungan kedua negara masih dibayangi ketegangan lama, mulai dari perang dagang hingga persoalan keamanan kawasan Asia Timur.

Pertemuan tersebut menjadi yang pertama sejak kedua negara sepakat melakukan jeda perang dagang pada Oktober 2025 lalu. Namun sejumlah analis menilai posisi Washington kali ini tidak lebih kuat dibanding Beijing.

PT Mitra Mortar indonesia

Profesor kebijakan luar negeri China dari University of Hong Kong, Alejandro Reyes, mengatakan Trump justru lebih membutuhkan China dalam situasi global saat ini. Menurutnya, Trump memerlukan pencapaian diplomatik untuk memperbaiki citranya di tengah tekanan politik domestik di Amerika Serikat.

“Trump membutuhkan kemenangan kebijakan luar negeri yang bisa menunjukkan bahwa dia mampu menjaga stabilitas global,” ujar Reyes seperti dikutip Reuters.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping Jadi Sorotan Dunia

Agenda pertemuan antara Trump dan Xi Jinping disebut akan berlangsung cukup megah. Kedua pemimpin negara dijadwalkan menghadiri pertemuan resmi di Great Hall of the People atau Balai Agung Rakyat di Beijing.

Selain itu, keduanya juga direncanakan mengunjungi situs warisan dunia UNESCO Kuil Langit, menghadiri jamuan makan malam kenegaraan, hingga melakukan pertemuan santai sambil minum teh bersama.

Namun di balik kemegahan agenda diplomatik tersebut, ekspektasi terhadap hasil konkret dari pertemuan ini disebut masih terbatas. Pengamat melihat banyak persoalan strategis yang belum menemukan titik temu antara Washington dan Beijing.

Salah satu isu utama yang menjadi perhatian adalah konflik Iran serta hubungan Amerika Serikat dengan Taiwan. Dalam pernyataannya kepada media di Gedung Putih, Trump mengakui bahwa isu penjualan senjata AS ke Taiwan akan menjadi salah satu topik yang dibahas bersama Xi Jinping.

Trump menyebut Presiden China tidak menginginkan Amerika Serikat terus memasok persenjataan ke Taiwan. Meski demikian, ia belum memberikan jawaban tegas terkait komitmen Washington terhadap kebijakan tersebut.

“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Xi Jinping. Kami akan membicarakan banyak hal,” ujar Trump.

Isu Taiwan Masih Jadi Titik Sensitif

Persoalan Taiwan kembali menjadi isu sensitif menjelang pertemuan kedua pemimpin negara. China selama ini menegaskan Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya dan menolak campur tangan asing dalam urusan tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menjadi mitra keamanan utama Taiwan. Pemerintah Taiwan bahkan menegaskan akan terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan Washington guna menjaga stabilitas kawasan Selat Taiwan.

Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan pihaknya tetap berkomitmen membangun kemampuan pertahanan yang kuat bersama Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul setelah Trump membuka kemungkinan pembahasan soal penjualan senjata kepada Taiwan dengan Xi Jinping.

Situasi semakin memanas setelah sejumlah senator Amerika Serikat mendesak Trump segera menyetujui paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS kepada Taiwan. Desakan tersebut dipimpin Senator Jeanne Shaheen dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Di tengah dinamika tersebut, pertemuan antara Trump dan Xi Jinping dipandang menjadi momentum penting untuk melihat arah hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia itu ke depan. Meski belum tentu menghasilkan kesepakatan besar, dialog kedua pemimpin dinilai dapat meredakan ketegangan global yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan