Nilai Tukar Rupiah Melemah Meski Ekonomi Tumbuh, Ini Penjelasan Pengamat!

0
9
(Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda itu dinilai dipicu kombinasi sentimen global dan persoalan domestik yang datang secara bersamaan, sehingga membuat pasar keuangan nasional berada dalam tekanan cukup berat.

Pengamat komoditas sekaligus Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai pelemahan rupiah saat ini tidak terjadi secara tunggal. Menurut dia, kondisi global yang memanas akibat konflik geopolitik di Timur Tengah berpadu dengan tantangan fiskal di dalam negeri.

Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai “badai sempurna” yang membuat pergerakan rupiah semakin tertekan di pasar keuangan internasional. Menurutnya, Nilai Tukar Rupiah Melemah bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga karena meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik.

“Pelemahan rupiah hingga mencapai level Rp17.500 merupakan dampak gabungan dari eskalasi geopolitik global dan tekanan fiskal nasional,” ujar Sutopo, Selasa (12/5/2026).

PT Mitra Mortar indonesia

Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Keuangan

Sutopo menjelaskan, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu gejolak pasar global. Penolakan proposal perdamaian oleh Amerika Serikat membuat harga energi dunia melonjak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi berkepanjangan.

Situasi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun bertahan di level tinggi sekitar 4,42 persen. Kondisi itu membuat investor global lebih memilih aset berbasis dolar AS dibanding pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari pasar domestik semakin sulit dihindari. Tekanan tersebut membuat Nilai Tukar Rupiah Melemah dalam beberapa pekan terakhir meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level cukup solid.

Selain faktor global, cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut turut memperburuk sentimen pasar. Investor juga mencermati besarnya kewajiban utang pemerintah yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Menurut Sutopo, kombinasi faktor tersebut membuat tingkat kepercayaan investor terhadap pasar obligasi domestik ikut tertekan. Kondisi itu kemudian berdampak langsung terhadap stabilitas rupiah di pasar valuta asing.

Panda Bond Dinilai Jadi Langkah Mitigasi

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah berencana menerbitkan Panda Bond pada Juni 2026 sebagai bagian dari diversifikasi pembiayaan negara. Instrumen tersebut diterbitkan di pasar keuangan Tiongkok menggunakan mata uang yuan.

Sutopo menilai langkah tersebut cukup penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber pembiayaan berbasis dolar AS yang saat ini memiliki bunga tinggi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Panda Bond bukan solusi instan untuk memperkuat rupiah.

Menurutnya, instrumen itu lebih berfungsi sebagai strategi jangka menengah dalam mengelola beban utang pemerintah dibanding alat intervensi langsung di pasar valuta asing.

“Panda Bond bisa menjadi alternatif pembiayaan agar pemerintah tidak terlalu bergantung pada likuiditas Barat yang mahal. Namun dampaknya terhadap penguatan rupiah tidak akan langsung terasa,” jelasnya.

Sementara itu, pemerintah dinilai tepat dengan tidak terburu-buru mengaktifkan skema pendanaan darurat. Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor global.

Sebagai langkah stabilisasi, penguatan bauran kebijakan moneter dinilai lebih efektif. Sutopo menyebut optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penguatan aturan repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA, hingga intervensi pasar secara terukur menjadi strategi yang lebih realistis dalam menghadapi situasi saat ini.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan