Kamis, Mei 7, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 69

Kadin Peringatkan Aksi Unjuk Rasa Bisa Picu Dampak Negatif terhadap Perekonomian

0

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan bahwa gelombang aksi unjuk rasa yang berlangsung belakangan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian nasional. Stabilitas keamanan, menurut Kadin, menjadi kunci utama agar kegiatan usaha, perdagangan, dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan perlunya semua pihak untuk tetap tenang dan mencari solusi bersama. Ia menilai, menjaga ketertiban merupakan langkah penting agar dunia usaha tidak ikut terguncang akibat situasi yang tidak kondusif.

“Selama keamanan tidak terjaga, aktivitas ekonomi jelas akan terganggu, dan dampak negatif terhadap perekonomian pada akhirnya akan dirasakan masyarakat luas,” ujar Anindya di Jakarta, Sabtu (30/8/2025).

Seruan Dialog dan Bela Sungkawa

Anindya menekankan bahwa menyampaikan aspirasi melalui jalur dialog adalah cara terbaik, bukan dengan menciptakan kericuhan. Ia juga menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi korban insiden pada Kamis (28/8/2025).

“Kadin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” katanya.

Selain itu, Kadin juga menaruh simpati kepada Moh Umar Amirudin, pengemudi ojol lainnya yang mengalami luka parah dalam kejadian yang sama.

Dukungan untuk Sikap Presiden

Lebih jauh, Kadin mendukung pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta agar insiden tersebut diusut secara tuntas dan transparan. Presiden juga menyerukan masyarakat tetap tenang dan percaya kepada pemerintah dalam menjaga stabilitas negara.

“Presiden sudah mengingatkan bahwa selalu ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi untuk menimbulkan kekacauan. Karena itu, kewaspadaan dan persatuan menjadi sangat penting,” ujar Anindya.

Ia mendorong pemerintah agar membuka ruang dialog dengan kelompok masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Menurutnya, dengan saling menghargai, aspirasi dapat dipilah mana yang bisa segera dipenuhi dan mana yang harus melalui proses lebih panjang.

Kadin juga meminta agar kebijakan pemerintah benar-benar mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Saat ini, masyarakat masih menghadapi tantangan berat, mulai dari pendapatan yang terbatas, biaya hidup yang meningkat, sulitnya lapangan pekerjaan, hingga kesenjangan sosial yang belum teratasi.

“Yang terpenting, mari berikan kesempatan kepada Presiden dan pemerintahannya untuk bekerja serta merealisasikan janji-janji politik bagi rakyat,” pungkas Anindya.

Melonjak Hampir Rp2 Juta per Gram, Sentimen Global Angkat Harga Emas Antam

0

Harga Emas Antam Melonjak cukup signifikan pada perdagangan Sabtu (30/8/2025). Berdasarkan data dari situs Logam Mulia, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk kini diperdagangkan di angka Rp1,980 juta per gram. Kenaikan ini mencapai Rp16 ribu per gram dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Tidak hanya harga jual, nilai buyback atau harga jual kembali emas batangan Antam juga mengalami peningkatan. Hari ini, buyback ditetapkan di level Rp1,827 juta per gram, naik Rp17 ribu dari perdagangan sebelumnya.

Sentimen Global Dorong Harga Emas Antam Melonjak Naik

Penguatan harga emas kali ini dipengaruhi faktor eksternal, terutama dari Amerika Serikat. Inflasi inti PCE AS pada Juli 2025 tercatat naik ke level 2,9 persen secara tahunan (year on year). Kondisi tersebut memunculkan optimisme bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan September mendatang.

Dalam kondisi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi semakin menarik sebagai instrumen investasi. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven. Tak heran bila pergerakan harga emas di dalam negeri turut terangkat.

Meski harga emas terus menanjak, investor tetap harus memperhatikan aturan pajak yang berlaku. Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, setiap transaksi penjualan emas batangan di atas Rp10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 22. Tarifnya sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan tiga persen untuk yang tidak memiliki NPWP. Potongan ini langsung dikalkulasikan dari nilai buyback.

Sementara untuk pembelian emas batangan, berlaku PPh 22 sebesar 0,45 persen bagi pembeli dengan NPWP dan 0,9 persen bagi yang tidak memilikinya. Setiap transaksi pembelian juga dilengkapi bukti potong pajak sesuai ketentuan.

Rincian Harga Emas Hari Ini

Mengacu pada data Logam Mulia, berikut daftar harga emas batangan Antam per pecahan:

  • 0,5 gram: Rp1,040 juta

  • 1 gram: Rp1,980 juta

  • 2 gram: Rp3,900 juta

  • 3 gram: Rp5,825 juta

  • 5 gram: Rp9,675 juta

  • 10 gram: Rp19,295 juta

  • 25 gram: Rp48,112 juta

  • 50 gram: Rp96,145 juta

  • 100 gram: Rp192,212 juta

  • 250 gram: Rp480,265 juta

  • 500 gram: Rp960,320 juta

  • 1.000 gram: Rp1,920 miliar

Dengan tren ini, para analis menilai kenaikan harga emas masih berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga global. Bagi sebagian besar investor, fakta bahwa Harga Emas Antam Melonjak memberi sinyal bahwa logam mulia tetap menjadi instrumen lindung nilai yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.

HSF Eyewear Luncurkan Koleksi Baru Lewat Co-Branding Wonderful Indonesia

0

Kementerian Pariwisata kembali memperkuat strategi co-branding Wonderful Indonesia dengan melibatkan brand lokal. Kali ini, HSF Eyewear mempersembahkan koleksi terbaru bertajuk HSFxWonderful Indonesia yang terinspirasi dari keindahan alam Nusantara. Peluncuran resmi dilakukan pada Jumat (29/8/2025) di Gaskan Arena Premiere, Sunter, Jakarta Utara.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, langkah ini menjadi bukti nyata bahwa konsep co-branding Wonderful Indonesia bukan hanya memperkenalkan pariwisata Indonesia, tetapi juga mengangkat karya anak bangsa di panggung internasional.

“Merupakan kebanggaan bagi Kemenpar bisa bekerja sama dengan HSF, sebuah brand lokal yang memiliki visi kuat. Saya yakin kerja sama ini tidak hanya bermanfaat bagi HSF, tetapi juga memperkuat citra Wonderful Indonesia,” ujar Ni Luh Puspa dalam sambutannya.

Koleksi Sport Eyewear Bernuansa Alam Indonesia

Koleksi HSFxWonderful Indonesia mengusung tema Active & Sport, yang ditujukan untuk generasi muda dengan gaya hidup aktif, sehat, namun tetap stylish. HSF menghadirkan lima seri produk yang masing-masing terinspirasi dari ikon alam Nusantara.

Beberapa di antaranya adalah HSF Cartensz yang melambangkan puncak tertinggi Indonesia, HSF Binaya yang mewakili kekuatan gunung di Maluku, HSF Prau yang menggambarkan panorama sunrise Dieng, HSF Rinjani dengan keindahan sekaligus tantangannya, serta HSF Krakatau yang penuh energi dan melambangkan kekuatan alam.

Setiap kacamata dirancang dengan teknologi lensa modern, material ringan, dan desain ergonomis sehingga cocok digunakan untuk aktivitas olahraga maupun kegiatan luar ruangan.

Ni Luh Puspa menambahkan, kolaborasi ini memberikan pengalaman berbeda dalam memperkenalkan Indonesia kepada wisatawan. “Melalui karya ini, wisatawan tidak hanya melihat keindahan alam, tetapi juga merasakan kebanggaan terhadap produk lokal yang berkualitas. Ini adalah bentuk promosi pariwisata dengan cara yang kreatif dan stylish,” jelasnya.

Harapan Menembus Pasar Global

Tak hanya untuk pasar dalam negeri, kolaborasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang menuju pasar internasional. “Kami percaya produk ini bisa menembus pasar global. Sudah saatnya kita percaya diri menggunakan karya anak bangsa dan memperkenalkannya ke dunia,” kata Ni Luh Puspa.

Sementara itu, Founder dan CEO HSF Eyewear, Winda Nopitasari, mengatakan peluncuran ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan. “Kami ingin kolaborasi ini menjadi simbol semangat masyarakat untuk menjelajah keindahan Nusantara. Lewat desain kacamata, kami berharap bisa menumbuhkan rasa bangga terhadap Indonesia,” ujarnya.

Kolaborasi antara HSF Eyewear dan Kemenpar ini menegaskan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia tidak hanya terletak pada destinasi, tetapi juga pada produk kreatif lokal yang mampu berbicara di kancah global.

Omzet Naik, Haruskah Langsung Menaikkan Gaji Karyawan?

Banyak pemilik usaha kecil menghadapi dilema saat omzet mulai merangkak naik: apakah sudah saatnya menaikkan gaji karyawan? Pertanyaan ini wajar muncul karena di satu sisi, bisnis butuh menjaga keuangan tetap sehat, sementara di sisi lain, karyawan adalah aset penting yang harus dihargai. Menentukan waktu yang pas untuk menaikkan gaji karyawan bukan hanya soal angka, tetapi juga strategi mempertahankan tenaga kerja agar tetap loyal dan termotivasi.

Karyawan yang merasa dihargai lewat gaji yang layak biasanya akan memberikan kinerja lebih baik. Sebaliknya, jika gaji terlalu lama tidak naik, potensi turnover bisa meningkat, dan mencari karyawan baru jelas lebih mahal dibanding mempertahankan yang lama. Jadi, keputusan soal gaji bukan sekadar beban biaya, melainkan investasi jangka panjang.

Cara Menentukan Kapan Harus Menaikkan Gaji Karyawan

Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan bagi pemilik bisnis kecil dalam mengambil keputusan.

  • Performa Keuangan Perusahaan
    Jika omzet naik konsisten dalam beberapa bulan berturut-turut, itu bisa jadi sinyal bahwa ada ruang untuk menaikkan gaji. Namun, jangan terburu-buru hanya karena ada lonjakan sementara, pastikan tren kenaikan benar-benar stabil.

  • Kontribusi Nyata dari Karyawan
    Tim yang berhasil mendorong penjualan, menjaga kualitas layanan, atau menciptakan inovasi layak mendapatkan apresiasi berupa kenaikan gaji. Hal ini juga bisa jadi motivasi agar karyawan lain ikut berkontribusi lebih besar.

  • Perhitungan Anggaran yang Matang
    Cobalah mengalokasikan persentase tertentu dari laba bersih, misalnya 10–20%, untuk kenaikan gaji. Dengan begitu, beban biaya tetap terukur dan tidak mengganggu cash flow.

  • Patokan UMR dan Industri
    Pertimbangkan juga standar UMR (Upah Minimum Regional) atau gaji rata-rata di industri sejenis. Jika gaji jauh di bawah pasar, ada risiko karyawan pindah ke tempat lain yang menawarkan lebih baik.

  • Keseimbangan dengan Pertumbuhan Bisnis
    Kenaikan gaji sebaiknya sejalan dengan perkembangan bisnis. Jika perusahaan sedang membuka cabang baru, menambah produk, atau berhasil memperluas pasar, momen itu bisa dijadikan waktu tepat untuk menyesuaikan gaji.

Intinya, menaikkan gaji karyawan bukan keputusan yang harus diputuskan secara gegabah, melainkan keputusan strategis. Bisnis kecil yang mampu mengatur waktu dengan tepat akan lebih mudah berkembang karena didukung tim yang loyal dan bersemangat.

Jangan menunggu sampai karyawan merasa tidak dihargai, tapi juga jangan terburu-buru jika kondisi keuangan belum siap. Intinya, sesuaikan dengan performa bisnis dan kontribusi nyata dari setiap karyawan.

IHSG Anjlok Imbas Aksi Massa, Investor Pilih Strategi Bertahan

0

Kinerja pasar modal Indonesia kembali tertekan setelah IHSG anjlok cukup tajam pada penutupan sesi I, Jumat (29/8). Indeks Harga Saham Gabungan turun 180,80 poin atau 2,27 persen ke level 7.771,28 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini dipicu meningkatnya ketidakpastian politik di dalam negeri akibat gelombang aksi demonstrasi di sejumlah titik ibu kota.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai gejolak sosial di Jakarta memberi sinyal negatif yang langsung ditangkap investor. “Pasar modal sangat sensitif terhadap stabilitas. Begitu ada indikasi risiko keamanan, baik investor asing maupun lokal akan mengambil langkah protektif, mulai dari menahan pembelian hingga melakukan aksi jual portofolio,” ujar Hendra dalam keterangannya di Jakarta.

Respons Pemerintah Dinilai Ikut Perburuk Persepsi

Menurut Hendra, situasi ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai kurang tepat. Alih-alih membuka ruang komunikasi dengan publik, langkah yang muncul justru berupa imbauan Work From Home (WFH) bagi anggota DPR. “Kebijakan ini menimbulkan persepsi pemerintah dan wakil rakyat memilih menjaga jarak ketimbang mendengar langsung aspirasi masyarakat. Padahal pasar butuh sinyal kepastian,” jelasnya, dikutip dari ANTARA.

Hendra menambahkan, tak heran bila kondisi tersebut turut disorot media internasional. Investor global yang memantau perkembangan di Indonesia melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik. Hal itu berujung pada aksi jual besar-besaran di pasar keuangan, sehingga tekanan terhadap IHSG yang anjlok semakin kuat.

Jika pelemahan menembus level 7.800, ia mengingatkan koreksi lebih dalam bisa terbuka lebar. Saat ini banyak pelaku pasar memilih strategi defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan. “Namun, jika psikologis pasar terus diganggu ketidakpastian, pelemahan IHSG sulit dihindari meski fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid,” ujarnya.

Ia menegaskan, faktor sentimen sering kali lebih dominan ketimbang analisis fundamental. “Sekuat apa pun data ekonomi, kalau persepsi investor negatif, tekanan jual tetap terjadi. Karena itu menjaga stabilitas sosial dan politik adalah kunci untuk menahan IHSG dari koreksi lebih dalam,” kata Hendra, seperti dikutip dari ANTARA.

Adapun data perdagangan sesi I di BEI mencatat frekuensi transaksi mencapai 1.625.838 kali dengan volume 33,99 miliar lembar saham senilai Rp13,31 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 89 saham menguat, 662 melemah, dan 49 stagnan.

Bagaimana Strategi Rebranding Bisa Ubah Citra Ritel dan Dongkrak Penjualan?

0

Dalam dunia bisnis yang dinamis, banyak perusahaan ritel kini mulai menyadari pentingnya Strategi Rebranding sebagai langkah untuk tetap relevan dan mampu bersaing di tengah perubahan tren konsumen. Rebranding bukan sekadar mengganti logo atau tampilan visual, melainkan juga menyentuh identitas, nilai, hingga pengalaman yang ditawarkan kepada pelanggan. Hal inilah yang membuat strategi ini semakin populer, terutama ketika pasar semakin kompetitif dan preferensi konsumen terus berubah.

Bagi perusahaan ritel, Strategi Rebranding bisa menjadi titik balik penting untuk membangun kembali kepercayaan pelanggan, memperluas segmen pasar, dan meningkatkan citra merek. Langkah ini juga sering dianggap sebagai investasi jangka panjang yang mampu memperkuat posisi bisnis agar tumbuh berkelanjutan.

Mengapa Rebranding Jadi Penting di Sektor Ritel?

Ada banyak alasan mengapa rebranding semakin sering dilakukan oleh perusahaan ritel. Pertama, perubahan gaya hidup konsumen yang cepat menuntut bisnis untuk beradaptasi. Misalnya, tren belanja yang bergeser ke ranah digital membuat ritel harus menyesuaikan identitasnya agar lebih dekat dengan generasi muda yang melek teknologi.

Kedua, persaingan yang ketat membuat perusahaan perlu tampil beda. Brand yang tidak pernah melakukan pembaruan biasanya akan dianggap ketinggalan zaman, sementara konsumen cenderung tertarik pada merek yang segar, modern, dan sesuai kebutuhan mereka saat ini.

Selain itu, rebranding juga sering digunakan untuk menghapus citra negatif di masa lalu. Jika sebuah perusahaan pernah menghadapi krisis, mengganti identitas merek bisa menjadi cara untuk mengembalikan kepercayaan publik sekaligus menunjukkan komitmen baru terhadap kualitas layanan maupun produk.

Tidak kalah penting, rebranding dapat membuka peluang ekspansi bisnis. Dengan identitas yang lebih kuat dan relevan, perusahaan bisa masuk ke segmen pasar baru, baik itu secara demografis maupun geografis.

Beberapa ritel besar di Indonesia maupun global sudah membuktikan bagaimana rebranding bisa menjadi katalis pertumbuhan. Misalnya, brand yang sebelumnya dikenal hanya menjual produk kebutuhan sehari-hari, kini melakukan transformasi dengan menghadirkan konsep lifestyle store. Perubahan tersebut bukan hanya mengubah tampilan toko, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih modern dan menarik bagi konsumen.

Menjaga Keberlanjutan Lewat Rebranding

Namun, rebranding tidak bisa dilakukan asal-asalan. Perusahaan perlu melakukan riset mendalam tentang perilaku konsumen, tren pasar, hingga strategi kompetitor. Tanpa fondasi yang kuat, rebranding justru bisa menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan.

Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, rebranding harus diikuti dengan konsistensi. Artinya, bukan hanya visual yang diperbarui, melainkan juga pelayanan, kualitas produk, hingga komunikasi dengan konsumen. Perubahan yang hanya sebatas kosmetik biasanya tidak akan bertahan lama.

Kinerja Industri Manufaktur Menguat, IKI Sentuh Level Tertinggi dalam Setahun

0

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Dorongan optimisme itu tercermin dari peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang menguat pada Agustus 2025. Capaian ini memperlihatkan bagaimana kinerja industri manufaktur tetap terjaga meski berbagai tantangan global maupun domestik masih membayangi jalannya roda produksi.

Menurut data Kementerian Perindustrian, IKI pada Agustus 2025 berada di level 53,55. Angka ini naik 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 52,89, sekaligus lebih tinggi 1,15 poin dibanding Agustus 2024. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut penguatan indeks tersebut didorong oleh dua variabel penting, yakni meningkatnya indeks pesanan hingga 57,38 dan naiknya persediaan produk ke 57,04.

Namun, ada catatan pada variabel indeks produksi yang justru turun ke angka 44,84, atau merosot 4,15 poin dari bulan Juli 2025. Menurut Febri, pelemahan ini dipicu oleh sikap sebagian pelaku industri yang memilih menahan laju produksi. Mereka cenderung menunggu perkembangan pasar, mengurangi pembelian bahan baku baru, dan mengandalkan stok lama. Selain itu, terbatasnya pasokan gas bagi industri pada Agustus lalu ikut menekan aktivitas produksi.

Gas Industri Jadi Isu Krusial

Febri menjelaskan, harga gas industri berperan penting menjaga daya saing manufaktur nasional, terutama pada sektor padat energi seperti pupuk, petrokimia, baja, dan kaca. “Gas industri dengan harga yang kompetitif terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus setoran pajak. Salah satu contoh, industri oleokimia mencatat lonjakan setoran pajak hingga enam kali lipat setelah mendapatkan pasokan gas HGBT,” ujarnya.

Karena itu, Kemenperin mengapresiasi langkah cepat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam merespons keluhan pelaku industri terkait pembatasan suplai gas. Saat ini, pasokan dinilai lebih stabil dengan harga sesuai regulasi yang berlaku. Harapannya, keberlanjutan suplai energi ini bisa memulihkan kapasitas produksi dan menjaga daya saing industri nasional.

Kemenperin mencatat dari 23 subsektor industri pengolahan, 21 subsektor menunjukkan ekspansi dengan kontribusi mencapai 95,6 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2025. Dua subsektor dengan kinerja terbaik adalah industri alat angkutan lainnya serta industri pencetakan dan reproduksi media rekaman. Keduanya terdorong oleh lonjakan pesanan ekspor dan meningkatnya permintaan domestik.

Sebaliknya, dua subsektor yang mengalami kontraksi yakni industri barang logam (bukan mesin dan peralatannya) serta subsektor reparasi dan pemasangan mesin. Kondisi tersebut dipengaruhi turunnya permintaan sekaligus tingginya biaya produksi.

Optimisme Pelaku Usaha Tetap Terjaga

Selain kinerja subsektor, faktor lain yang turut menguatkan iklim industri adalah meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang pada Juli 2025 mencapai 118,1, serta kenaikan penjualan eceran pada Agustus yang diperkirakan menembus angka 159,3.

Survei Kemenperin juga menunjukkan, 79,8 persen pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil atau meningkat. Dari jumlah tersebut, 32,9 persen mengaku situasi usaha membaik, sementara 46,9 persen menyebut kondisinya relatif stabil. Tingkat optimisme enam bulan ke depan pun naik menjadi 68,1 persen, dengan tingkat pesimisme yang menurun menjadi 5,6 persen.

Febri menegaskan, tren positif ini menjadi sinyal bahwa kinerja industri manufaktur nasional mampu bertahan dan bahkan tumbuh di tengah tekanan global. “Optimisme pelaku usaha masih tinggi, terutama karena permintaan domestik yang kuat serta dukungan kebijakan pro-industri dari pemerintah,” pungkasnya.

Dari Mentah ke Industri, Pemanfaatan Teknologi untuk Hilirisasi Gambir Mulai Digenjot

0

Pemanfaatan Teknologi untuk Hilirisasi menjadi fokus utama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendorong peningkatan nilai tambah komoditas gambir di Sumatera Barat. Upaya ini diharapkan mampu mengubah pola usaha petani gambir yang selama ini masih bergantung pada pasar tradisional menjadi lebih modern, berdaya saing, dan memiliki pasar yang lebih luas.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, saat membuka Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Produksi untuk Mendukung Hilirisasi Komoditas Gambir Bagi Usaha Kecil” di Padang, Selasa (26/8), menegaskan bahwa petani gambir saat ini masih memiliki posisi tawar lemah. Kondisi ini terjadi karena tata niaga yang belum berkembang dan masih bergantung pada India sebagai pembeli utama.

“Kalau terus dijual dalam bentuk mentah, nilai tambah gambir akan selalu rendah. Hilirisasi adalah kunci agar komoditas ini tidak hanya jadi barang dagangan, tetapi bisa masuk ke industri bernilai tinggi,” jelasnya.

Potensi Besar Gambir di Sumbar

Indonesia saat ini menguasai hampir 80 persen pasar gambir dunia dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 16,16 persen per tahun pada periode 2019–2023. Namun sayangnya, sebagian besar produk tersebut masih diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga rentan terhadap fluktuasi harga.

Sebagai provinsi penghasil gambir terbesar, Sumbar diyakini memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk hilir, mulai dari kosmetik, farmasi, hingga pangan. Meski begitu, upaya ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi petani, serta pelaku usaha.

Pada Oktober 2024 lalu, Kementerian UMKM bersama pemerintah daerah dan sejumlah kementerian terkait telah lebih dulu merumuskan rencana aksi hilirisasi gambir melalui FGD. Forum tersebut menjadi pijakan awal dalam menyusun strategi yang lebih konkret untuk memperkuat rantai nilai.

“Pemetaan klaster industri dalam negeri yang membutuhkan produk hilir gambir menjadi langkah penting, sekaligus penyusunan kebijakan yang bisa mengintervensi pasar secara tepat,” ujar Temmy.

Data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) Kementerian UMKM mencatat, 93,95 persen dari 16 juta lebih pelaku UMKM masih berproduksi dengan cara tradisional. Hal ini membuat produktivitas mereka 20–30 persen lebih rendah dibandingkan industri skala menengah maupun besar.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Kementerian UMKM mengembangkan model Rumah Produksi Bersama (RPB) di 16 provinsi dan kabupaten. RPB berfungsi untuk mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi. Skema ini juga dikembangkan dengan melibatkan industri swasta melalui pola business to business.

Digitalisasi Jadi Penopang

Selain Pemanfaatan Teknologi untuk Hilirisasi, digitalisasi juga disebut sebagai elemen penting yang harus dioptimalkan oleh pelaku UMKM. Digitalisasi tidak hanya terkait pemasaran daring, tetapi juga mencakup pencatatan produksi, pengelolaan rantai pasok, hingga traceability produk agar sesuai standar global.

“Kami berharap forum ini tidak berhenti hanya sebagai diskusi, tetapi menghasilkan langkah nyata untuk percepatan hilirisasi gambir. Dengan dukungan teknologi produksi, penguatan rantai nilai, serta sinergi lintas pemangku kepentingan, Sumbar bisa menjadi contoh sukses hilirisasi berbasis UMKM,” pungkas Temmy.

Menumpuk di Rumah? Begini Cara Dapat Cuan dari Galon Tak Terpakai

Di banyak rumah, galon air isi ulang sering menumpuk karena kebiasaan membeli baru alih-alih menukar yang lama. Tanpa sadar, tumpukan ini bisa memenuhi sudut rumah. Pertanyaannya, apakah ada peluang mendapatkan cuan dari galon tak terpakai tersebut? Jawabannya: iya, ada. Bahkan, jika dikelola dengan kreatif, galon yang terlihat sepele bisa memiliki nilai ekonomi.

Beberapa orang menganggap galon hanya sampah plastik besar yang sulit dimanfaatkan. Padahal, dalam dunia bisnis daur ulang dan kreativitas, galon justru punya potensi. Mulai dari dijual kembali ke pengepul plastik hingga dijadikan produk bernilai tambah, peluangnya terbuka lebar. Inilah mengapa pembahasan soal cuan dari galon tak terpakai kini mulai menarik perhatian banyak orang, terutama generasi muda yang jeli melihat peluang usaha dari barang sisa.

Ide Kreatif Mengubah Galon Jadi Bernilai Ekonomi

Salah satu cara paling sederhana adalah menjual galon ke pengepul barang bekas. Meski harga per galon tidak terlalu tinggi, jika jumlahnya banyak bisa jadi tambahan uang yang lumayan. Plastik keras dari galon biasanya diolah kembali untuk bahan baku industri plastik.

Namun, bagi yang ingin lebih kreatif, ada banyak ide menarik. Galon bisa diubah jadi pot tanaman hias, wadah penyimpanan, hingga kerajinan unik yang punya nilai jual. Beberapa UMKM bahkan berhasil memasarkan produk berbahan dasar galon bekas di marketplace, mulai dari tempat sampah mini, lampu hias, hingga wadah pakan ternak.

Selain itu, komunitas pecinta lingkungan sering menggalang program daur ulang dengan sistem insentif. Artinya, setiap galon yang disumbangkan bisa ditukar dengan uang atau produk tertentu. Program semacam ini tidak hanya menghasilkan keuntungan, tapi juga berdampak positif bagi lingkungan.

Dari Rumah ke Bisnis, Galon Sebagai Sumber Cuan Baru

Melihat potensi ini, peluang usaha berbasis daur ulang galon sebenarnya cukup luas. Bayangkan jika sebuah komunitas RT atau kampung mengumpulkan ratusan galon tak terpakai setiap bulannya. Jika dikumpulkan, dijual, atau diolah bersama, hasilnya bisa jadi tambahan kas warga.

Lebih jauh lagi, pengusaha kreatif bisa memanfaatkan galon bekas untuk produksi massal produk ramah lingkungan. Misalnya, membuat pot tanaman besar untuk urban farming yang sedang tren. Dengan sedikit modal kreativitas, galon yang tadinya menumpuk di rumah bisa berubah menjadi bisnis berkelanjutan.

Jadi, jangan buru-buru membuang galon bekas ke gudang atau tempat sampah. Ada baiknya dipikirkan ulang bagaimana cara memanfaatkannya. Selain berkontribusi terhadap pengurangan limbah plastik, siapa tahu justru bisa membuka pintu rezeki baru.

TKDN Mobil Listrik Naik Bertahap, 40% Jadi 60% Mulai 2027

0

Kementerian Perindustrian menegaskan agar produsen otomotif yang telah memperoleh insentif impor mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) tidak mengabaikan kewajiban produksinya di Indonesia. Setelah masa impor berakhir pada 31 Desember 2025, para produsen diwajibkan memproduksi mobil listrik dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sesuai aturan yang berlaku.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, menuturkan kewajiban tersebut merupakan kelanjutan dari insentif yang sudah diterima. “Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, perusahaan harus memproduksi mobil listrik dengan jumlah setara kuota impor CBU yang pernah mereka lakukan. Produksi itu wajib mengikuti aturan TKDN, yang saat ini minimal 40 persen,” ujarnya dalam diskusi di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (25/8).

Hingga Maret 2025, terdapat enam produsen yang mendaftar dalam program ini, yakni BYD Auto Indonesia, Vinfast Automobile Indonesia, Geely Motor Indonesia, Era Industri Otomotif (Xpeng), National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus, VW), serta Inchape Indomobil Energi Baru (GWM Ora). Enam produsen tersebut, kata Tunggul, berkomitmen menambah investasi hingga Rp15 triliun dengan rencana peningkatan kapasitas produksi sekitar 305 ribu unit.

Aturan TKDN Mobil Listrik

Regulasi mengenai kandungan lokal ini telah ditegaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023. Dalam aturan tersebut, TKDN mobil listrik produksi dalam negeri ditetapkan sebesar 40 persen untuk periode 2022–2026. Angka ini harus meningkat bertahap menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan mencapai 80 persen mulai 2030.

Tunggul menjelaskan pencapaian target tersebut memerlukan strategi bertahap. Pada 2026, produsen masih diperbolehkan menggunakan skema Completely Knocked Down (CKD). Namun, mulai 2027 harus beralih ke Incompletely Knocked Down (IKD) agar kandungan lokal bisa naik menjadi 60 persen. “Kalau masih bertahan di CKD, mustahil angka itu tercapai. Selanjutnya, untuk mencapai 80 persen, proses manufaktur harus dilakukan per bagian (part by part),” jelasnya.

Tren Pasar Mobil Listrik

Menurut data Kemenperin, pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat. Pada 2024, jumlah populasi mobil listrik mencapai 207 ribu unit, naik 78 persen dibandingkan 2023 yang hanya 116 ribu unit. Porsi pasar kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) dan BEV juga melesat. HEV naik dari 0,28 persen pada 2021 menjadi 7,62 persen hingga Juli 2025, sementara BEV meningkat dari 0,08 persen menjadi 9,7 persen.

Sebaliknya, kendaraan berbasis mesin konvensional (internal combustion engine/ICE) mengalami penurunan pangsa pasar signifikan. Dari 99,64 persen pada 2021, kini pangsanya merosot menjadi 82,2 persen per Juli 2025. Tunggul menyebut kondisi ini sebagai bukti bahwa insentif pemerintah telah mendorong peralihan ke kendaraan ramah lingkungan.

Industri Otomotif Nasional Merasa Tertekan

Meski adopsi mobil listrik meningkat, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai insentif impor BEV menekan industri otomotif nasional. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan penjualan mobil domestik turun drastis. Pada 2014, penjualan mencapai 1,2 juta unit, namun pada 2024 hanya 865 ribu unit. Hingga Juli 2025, angkanya kembali merosot 10 persen menjadi 453 ribu unit.

Kukuh menilai salah satu penyebab utama adalah insentif besar yang diberikan untuk BEV impor, sementara mobil listrik dengan TKDN tinggi justru tidak semuanya mendapatkan keringanan. “Produsen dengan TKDN 80–90 persen merasa dirugikan. Apalagi banyak pemasok komponen mengeluh karena produksi berkurang, bahkan sebagian sudah melakukan PHK,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintah sebaiknya menyiapkan insentif serupa untuk mobil entry level dengan harga Rp200–400 juta, seperti yang pernah dilakukan saat pandemi 2021. Menurutnya, langkah itu terbukti mampu menghidupkan kembali pasar mobil nasional. “Jangan sampai pasar otomotif Indonesia justru kalah dari negara tetangga seperti Malaysia,” tegas Kukuh.