Senin, Agustus 31, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 34

Perjalanan Hartawan Sudihardjo Bangun Bisnis Multisektor dari Nol Tanpa Modal Besar

0

Kisah perjalanan Hartawan Sudihardjo menjadi sorotan dalam program yang ditayangkan di kanal Jawa Pos TV Digital. Dalam tayangan bertajuk “Strategi Bangun Bisnis dari Nol Hingga Multisektor”, ia memaparkan bagaimana membangun usaha dari keterbatasan tanpa mengandalkan pinjaman perbankan.

Hartawan Sudihardjo, yang kini menjabat sebagai Business Development Director sekaligus Founder Dissindo Group, berasal dari keluarga sederhana dengan sembilan bersaudara. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan tinggi, meski sempat diterima melalui jalur PMDK. Ia kemudian merantau ke Tangerang dan menjalani berbagai pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup.

Salah satu pekerjaan yang pernah dijalaninya adalah sebagai kuli penarik kabel listrik di pinggir jalan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan mental dan kemandirian sebelum akhirnya terjun ke dunia usaha.

Memasuki dekade 1990-an hingga awal 2000-an, Hartawan bekerja di sejumlah perusahaan dengan upah terbatas. Namun, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari berbagai aspek di luar bidang teknik, seperti manajemen dan sumber daya manusia, melalui pelatihan internal perusahaan. Bekal pengetahuan ini kemudian menjadi fondasi saat ia memutuskan memulai bisnis sendiri.

Pada tahun 2000, sebelum genap berusia 30 tahun, ia mendirikan perusahaan berbentuk perseroan terbatas dengan modal terbatas. Dana yang dimiliki dialokasikan untuk kebutuhan dasar seperti perangkat komputer, legalitas usaha, serta sewa tempat yang difungsikan sebagai kantor sekaligus hunian.

Strategi Bertahan di Tengah Keterbatasan Modal

Minimnya modal mendorong Hartawan mencari sumber penghasilan tambahan. Ia sempat bekerja sebagai sopir taksi, yang tidak hanya menjadi sarana mencari nafkah, tetapi juga alat mobilitas untuk menjangkau calon klien. Waktu pagi digunakan untuk menarik penumpang, sementara siang hingga malam dimanfaatkan untuk menawarkan jasa dan membangun jaringan.

Dalam menjalankan bisnis, ia tidak langsung menawarkan produk, melainkan menggali kebutuhan calon pelanggan terlebih dahulu. Dari situ, ia menawarkan solusi berupa desain mesin dan gambar teknik. Proses produksi dilakukan melalui kerja sama dengan bengkel lokal, sementara dirinya berperan dalam pengawasan kualitas.

Pendekatan ini memungkinkan Hartawan menjual keahlian tanpa harus memiliki fasilitas produksi sendiri di tahap awal. Ia memanfaatkan uang muka dari pelanggan untuk membiayai produksi, sekaligus menjaga arus kas tetap berjalan.

Momentum pascakrisis 1998 turut membuka peluang, ketika banyak pelaku industri kesulitan mengakses mesin impor. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap mesin buatan lokal, termasuk yang dirancang oleh Hartawan.

Seiring waktu, nilai proyek yang ditangani meningkat hingga ratusan juta rupiah. Kepercayaan pelanggan dibangun melalui transparansi dan komitmen terhadap hasil kerja, meski saat itu usahanya masih dalam tahap perintisan. Dari sana, ia perlahan mengembangkan fasilitas produksi sendiri, dimulai dari tempat sederhana yang diperbaiki secara bertahap.

Peran Mental dan Komunitas dalam Pengembangan Usaha

Perkembangan bisnis turut mendorong peningkatan sarana operasional, termasuk pembelian kendaraan niaga untuk menunjang aktivitas perusahaan. Usaha yang dirintis tersebut kemudian berkembang menjadi Dissindo Group dengan berbagai lini bisnis di sektor manufaktur.

Dalam kesempatan yang sama, Hartawan juga menyoroti pentingnya komunitas bagi pelaku usaha, termasuk melalui keterlibatannya di Asosiasi Sejuta Pengusaha Indonesia (Aspin). Ia membagi pelaku usaha ke dalam tiga kategori, mulai dari pemula hingga pengusaha besar, dengan kebutuhan yang berbeda-beda, mulai dari pembentukan pola pikir hingga peluang ekspansi dan akuisisi.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam memulai usaha bukan terletak pada modal uang, melainkan kesiapan mental. Faktor seperti keterbatasan pendidikan, usia, maupun kondisi ekonomi sering kali menjadi alasan untuk menunda langkah, padahal menurutnya hal tersebut dapat diatasi dengan pola pikir yang tepat.

Hartawan Sudihardjo juga mendorong calon pengusaha untuk memulai dari sektor jasa sebagai langkah awal. Dari sana, usaha dapat berkembang menuju produksi, distribusi, hingga penguatan merek.

Menutup perbincangan, ia menegaskan bahwa bisnis tidak semata ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh kemampuan melihat peluang, keberanian mengambil langkah, dan konsistensi dalam menjalankan usaha.

Tarif Listrik Terbaru Berlaku Triwulan II, Masyarakat Diminta Hemat Energi

Pemerintah memastikan tarif listrik terbaru untuk periode 27 April hingga 3 Mei 2026 tetap stabil tanpa perubahan. Kebijakan ini berlaku sepanjang triwulan II 2026, yakni April hingga Juni, dan mencakup seluruh pelanggan, baik yang menerima subsidi maupun yang masuk kategori nonsubsidi.

Penetapan tarif listrik terbaru tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang periode konsumsi tinggi. Pemerintah menilai stabilitas tarif menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi di tengah dinamika global yang masih berfluktuasi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi makro. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena tarif listrik terbaru tetap mengacu pada periode sebelumnya.

Pertimbangan Ekonomi dan Kebijakan Tarif

Penyesuaian tarif listrik pada dasarnya dilakukan setiap tiga bulan sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk triwulan II 2026, pemerintah memutuskan tidak melakukan perubahan terhadap 13 golongan pelanggan nonsubsidi. Sementara itu, 24 golongan pelanggan bersubsidi juga tetap mendapatkan tarif yang sama seperti sebelumnya.

Kebijakan ini merujuk pada regulasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terkait mekanisme penyesuaian tarif tenaga listrik. Dalam penentuannya, terdapat sejumlah faktor yang menjadi acuan, seperti nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia, tingkat inflasi, serta harga batubara acuan.

Dengan mempertimbangkan indikator tersebut, pemerintah menilai kondisi saat ini masih memungkinkan untuk menjaga tarif listrik terbaru tetap stabil. Langkah ini diharapkan mampu membantu masyarakat, khususnya kelompok rentan dan pelaku usaha kecil, agar tidak terbebani kenaikan biaya energi.

Rincian Tarif Listrik Berbagai Golongan

Untuk pelanggan rumah tangga bersubsidi, tarif listrik masih berada di kisaran Rp415 per kWh untuk daya 450 VA dan Rp605 per kWh untuk daya 900 VA. Sementara itu, untuk rumah tangga nonsubsidi, tarif berkisar antara Rp1.352 hingga Rp1.699,53 per kWh, tergantung kapasitas daya yang digunakan.

Pada sektor bisnis, tarif listrik untuk golongan tertentu tetap berada di angka Rp1.444,70 per kWh untuk daya menengah, sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar dikenakan tarif sekitar Rp1.114,74 per kWh. Di sektor industri, tarif juga tidak mengalami perubahan, dengan kisaran antara Rp996,74 hingga Rp1.114,74 per kWh.

Sementara itu, untuk fasilitas umum dan layanan pemerintah, termasuk penerangan jalan, tarif listrik berkisar antara Rp1.522,88 hingga Rp1.699,53 per kWh. Adapun untuk layanan sosial, tarif tetap lebih rendah, dimulai dari Rp325 per kWh hingga Rp925 per kWh tergantung kapasitas daya.

Dengan keputusan ini, pemerintah berharap stabilitas tarif listrik terbaru dapat memberikan kepastian bagi seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menggunakan listrik secara bijak dan efisien guna mendukung ketahanan energi nasional.

Ke depan, pemerintah akan terus memantau perkembangan indikator ekonomi global dan domestik. Penyesuaian kebijakan akan dilakukan secara berkala agar keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan sektor energi tetap terjaga, tanpa mengorbankan stabilitas tarif listrik terbaru di dalam negeri.

Kenapa Komplain Pelanggan Justru Penting untuk Perkembangan Bisnis?

0

Dalam dunia bisnis, Komplain Pelanggan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Seberapa bagus pun produk atau layanan yang ditawarkan, tetap akan ada pelanggan yang merasa kurang puas. Justru dari Komplain Pelanggan inilah sebuah bisnis bisa belajar dan berkembang.

Sayangnya, tidak semua pelaku usaha siap menghadapi situasi ini. Ada yang menganggap komplain sebagai hal negatif, bahkan mencoba menghindarinya. Padahal, jika ditangani dengan benar, Komplain Pelanggan bisa menjadi peluang untuk memperkuat kepercayaan.

Masalahnya bukan pada komplain itu sendiri, tapi bagaimana cara meresponsnya. Respon yang salah bisa membuat pelanggan semakin kecewa, bahkan menyebarkan pengalaman buruk ke orang lain.

Cara Mengelola Komplain Pelanggan agar Tetap Positif

Langkah pertama yang paling penting adalah mendengarkan. Saat pelanggan menyampaikan keluhan, biarkan mereka berbicara tanpa dipotong. Ini menunjukkan bahwa bisnis benar benar peduli.

Sering kali, pelanggan tidak hanya mencari solusi, tapi juga ingin didengar. Dengan memberikan ruang untuk menyampaikan keluhan, emosi mereka bisa lebih reda.

Setelah itu, berikan respon dengan sikap yang tenang. Hindari defensif atau langsung menyalahkan pelanggan. Justru di sinilah pentingnya menjaga komunikasi tetap profesional.

Selanjutnya, segera cari solusi yang jelas. Jangan membuat pelanggan menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Semakin cepat masalah ditangani, semakin besar peluang untuk menjaga hubungan baik.

Jangan Anggap Komplain Sebagai Serangan

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap komplain sebagai serangan pribadi. Padahal, sebagian besar pelanggan hanya ingin masalahnya diselesaikan.

Dengan pola pikir yang tepat, Komplain Pelanggan bisa dilihat sebagai masukan. Dari sini, bisnis bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Bahkan, banyak bisnis besar justru berkembang karena mampu mengelola komplain dengan baik. Mereka menjadikan keluhan sebagai bahan evaluasi, bukan sesuatu yang dihindari.

Pentingnya Respon yang Cepat dan Tepat

Di era digital, kecepatan respon menjadi sangat penting. Pelanggan terbiasa mendapatkan jawaban cepat, terutama melalui media sosial atau chat.

Jika komplain dibiarkan terlalu lama, rasa kecewa bisa bertambah. Bahkan, bisa berubah menjadi opini negatif yang menyebar luas.

Karena itu, penting untuk memiliki sistem respon yang jelas. Misalnya dengan menetapkan waktu maksimal untuk membalas pesan atau menangani keluhan.

Dengan respon yang cepat dan tepat, Komplain Pelanggan bisa diubah menjadi pengalaman yang justru meningkatkan kepercayaan.

Agar pengelolaan komplain lebih efektif, bisnis perlu memiliki sistem yang sederhana tapi jelas.

Misalnya dengan mencatat setiap keluhan yang masuk, siapa yang menangani, dan bagaimana penyelesaiannya. Dari data ini, bisa terlihat pola masalah yang sering muncul.

Dengan begitu, perbaikan bisa dilakukan secara lebih terarah. Tidak hanya menyelesaikan masalah satu per satu, tapi juga mencegah hal yang sama terulang.

Selain itu, penting juga untuk melatih tim agar memiliki cara komunikasi yang baik. Karena dalam banyak kasus, cara berbicara bisa lebih berpengaruh daripada solusi itu sendiri.

Pemerintah Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,7 Persen di Kuartal II 2026

0

Pemerintah menargetkan ekonomi nasional akan tumbuh dan tetap berada di jalur positif pada kuartal II-2026, dengan proyeksi mencapai 5,7 persen. Optimisme ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai masih ada ruang cukup besar untuk mendorong aktivitas ekonomi hingga pertengahan tahun.

Menurut Purbaya, periode April belum sepenuhnya mencerminkan kinerja kuartal kedua secara utuh. Ia menekankan bahwa pemerintah masih memiliki waktu pada Mei dan Juni untuk memperkuat dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan yang bersifat akseleratif.

Ia menjelaskan, setelah data ekonomi April terkumpul secara lengkap, pemerintah akan mengevaluasi kondisi terkini sebelum menentukan langkah lanjutan. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan ekonomi nasional akan tumbuh dan tetap terjaga di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Antisipasi Dampak Harga Komoditas

Di tengah tren kenaikan harga komoditas, pemerintah menilai dampaknya terhadap ekonomi tidak selalu bersifat negatif. Purbaya menyebut, pengaruhnya sangat bergantung pada jenis komoditas serta seberapa luas dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Lonjakan harga CPO berpotensi memberikan tekanan pada sektor tertentu jika tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, pemerintah akan berkoordinasi lintas kementerian guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah cepat apabila terlihat tanda-tanda perlambatan. Stimulus ekonomi dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari penguatan bantuan tunai hingga kebijakan lain yang mampu mendorong daya beli masyarakat.

Percepatan Belanja Negara Jadi Kunci

Selain stimulus, strategi lain yang disiapkan adalah percepatan realisasi belanja kementerian dan lembaga. Langkah ini dinilai efektif untuk mempercepat perputaran uang di dalam negeri, sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan percepatan belanja, diharapkan program-program pemerintah dapat segera berjalan dan memberikan dampak langsung terhadap sektor riil. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Purbaya menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil akan tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat. Pemerintah berupaya memastikan bahwa arah kebijakan ekonomi tetap berpihak pada kepentingan publik, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Fokus utama pemerintah adalah memastikan program-program yang bersifat pro-rakyat dapat segera direalisasikan dan memberikan efek nyata terhadap perekonomian. Dengan kombinasi kebijakan fiskal, stimulus, serta percepatan belanja, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II dapat tercapai sesuai proyeksi.

Kenaikan Harga Tiket Pesawat Disiasati, Tarif Dijaga Tetap Terjangkau

Pemerintah mengambil langkah cepat merespons Kenaikan Harga Tiket Pesawat yang dipicu lonjakan harga energi global, khususnya bahan bakar avtur. Kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan industri penerbangan nasional tetap beroperasi secara berkelanjutan di tengah tekanan biaya yang meningkat.

Dalam beberapa waktu terakhir, Kenaikan Harga Tiket Pesawat menjadi perhatian publik seiring naiknya biaya operasional maskapai. Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah berupaya menahan kenaikan tarif penerbangan domestik agar tetap berada dalam kisaran 9 hingga 13 persen.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah penerbitan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24 Tahun 2026. Aturan ini memberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah untuk tiket pesawat kelas ekonomi pada rute domestik. Dengan kebijakan tersebut, beban biaya yang seharusnya ditanggung penumpang dapat ditekan, sehingga Kenaikan Harga Tiket Pesawat tidak terlalu membebani masyarakat.

Intervensi Fiskal untuk Menekan Biaya

Melalui skema PPN Ditanggung Pemerintah, tarif dasar tiket serta komponen fuel surcharge tidak sepenuhnya dibebankan kepada penumpang. Pemerintah menilai langkah ini penting, mengingat avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.

Fasilitas ini berlaku dalam periode terbatas, yakni selama 60 hari sejak kebijakan diundangkan. Tujuannya agar dampak positifnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat, terutama pada momentum mobilitas yang tinggi.

Kebijakan ini juga dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan perlindungan konsumen. Di satu sisi, maskapai tetap mendapatkan ruang untuk menyesuaikan biaya operasional. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki akses terhadap transportasi udara dengan harga yang relatif terjangkau.

Pengawasan dan Penyesuaian Tarif Tambahan

Untuk memastikan implementasi berjalan sesuai aturan, maskapai penerbangan diwajibkan melaporkan penggunaan fasilitas PPN tersebut secara transparan. Pengawasan ini menjadi penting agar kebijakan benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

Sementara itu, untuk tiket di luar kelas ekonomi, kebijakan perpajakan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku tanpa adanya subsidi tambahan. Pendekatan ini diambil agar dukungan pemerintah lebih terfokus pada segmen masyarakat yang paling membutuhkan.

Di sisi lain, pemerintah sebelumnya juga telah menyesuaikan besaran fuel surcharge melalui kebijakan Kementerian Perhubungan. Tarif tambahan ini kini ditetapkan hingga 38 persen, meningkat dari sebelumnya yang lebih rendah, baik untuk pesawat jet maupun propeler.

Penyesuaian tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Kenaikan Harga Tiket Pesawat dalam beberapa waktu terakhir. Namun dengan adanya intervensi fiskal, tekanan harga diharapkan dapat diredam.

Berapa Idealnya Dana Aman? Ini Cara Realistis Memulai Tabungan Keamanan Usaha Kecil

0

Banyak bisnis sudah berjalan bertahun-tahun, omzet naik turun, pelanggan datang dan pergi, tapi ada satu hal penting yang sering terlewat: tabungan keamanan usaha kecil. Padahal, tanpa “dana aman” ini, bisnis ibarat berjalan tanpa sabuk pengaman. Sekali terguncang—entah karena penurunan penjualan, biaya tak terduga, atau krisis ekonomi—posisinya langsung goyah.

Masalahnya, banyak pemilik usaha berpikir bahwa menyiapkan tabungan keamanan usaha kecil butuh nominal besar. Akhirnya, niat itu terus ditunda karena merasa belum mampu. Padahal, justru kebiasaan menunda inilah yang membuat bisnis rentan dalam jangka panjang.

Realitanya, dana aman bukan soal besar di awal, tapi soal konsistensi. Bahkan nominal kecil pun bisa jadi fondasi kuat kalau dikumpulkan dengan disiplin.

Mulai dari Nominal Berapa Supaya Masuk Akal?

Pertanyaan ini sering muncul, dan jawabannya tidak harus rumit. Untuk tahap awal, angka realistis jauh lebih penting dibanding angka ideal. Banyak pelaku usaha memulai dari 5% hingga 10% dari keuntungan bersih bulanan. Jika dirasa masih berat, bahkan 2% pun sudah cukup sebagai langkah pertama.

Kuncinya bukan pada seberapa besar angka awal, tapi pada kebiasaan menyisihkan secara rutin. Misalnya, bisnis dengan keuntungan Rp5 juta per bulan bisa mulai dari Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Terlihat kecil, tapi dalam setahun sudah terkumpul jumlah yang cukup berarti.

Seiring waktu, nominal ini bisa ditingkatkan. Ketika cash flow mulai stabil, alokasi untuk tabungan keamanan usaha kecil bisa dinaikkan menjadi 10% hingga 20%. Di fase ini, dana aman mulai berfungsi sebagai bantalan nyata saat bisnis menghadapi tekanan.

Idealnya, dana ini mampu menutup biaya operasional selama 3 hingga 6 bulan. Biaya operasional di sini mencakup hal-hal penting seperti gaji karyawan, sewa tempat, listrik, hingga biaya produksi dasar. Dengan memiliki cadangan ini, bisnis tidak langsung panik saat pemasukan tersendat.

Namun perlu dipahami, mencapai angka ideal tidak harus instan. Fokus utama tetap pada progres yang konsisten, bukan target yang terlalu tinggi di awal.

Kenapa Banyak Bisnis Gagal Punya Dana Aman?

Ada beberapa alasan klasik yang sering terjadi. Pertama, semua keuntungan langsung diputar kembali ke operasional atau ekspansi. Kedengarannya produktif, tapi tanpa cadangan, bisnis jadi sangat rentan.

Kedua, tidak ada pemisahan yang jelas antara keuangan pribadi dan bisnis. Akibatnya, dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan keamanan usaha kecil justru terpakai untuk kebutuhan lain.

Ketiga, mindset “nanti saja kalau sudah besar”. Ini jebakan yang paling sering terjadi. Faktanya, kebiasaan finansial tidak tiba-tiba berubah ketika bisnis berkembang. Jika sejak kecil tidak disiplin, saat besar pun biasanya tetap sama.

Padahal, memiliki dana aman justru membuat bisnis lebih leluasa mengambil peluang. Ketika kompetitor kesulitan bertahan, bisnis yang punya cadangan bisa tetap jalan, bahkan berkembang.

Dana Aman Bukan Beban, Tapi Strategi Bertahan

Melihat dana aman sebagai beban adalah sudut pandang yang keliru. Justru ini adalah salah satu strategi paling sederhana untuk menjaga stabilitas bisnis.

Bayangkan ketika ada penurunan omzet mendadak. Tanpa cadangan, pilihan yang tersedia biasanya terbatas: berutang, menunda pembayaran, atau memangkas biaya secara drastis. Semua opsi ini punya risiko masing-masing.

Sebaliknya, dengan tabungan keamanan usaha kecil, bisnis punya ruang bernapas. Keputusan bisa diambil lebih tenang, tanpa tekanan yang berlebihan. Ini yang membedakan bisnis yang sekadar bertahan dengan bisnis yang benar-benar siap menghadapi ketidakpastian.

Di Balik Tren Ngopi, Kualitas Kopi Indonesia Terus Diperkuat!

Upaya peningkatan Kualitas Kopi Indonesia terus digencarkan pemerintah seiring pertumbuhan konsumsi kopi yang semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menilai peningkatan kualitas menjadi kunci agar industri kopi nasional tetap kompetitif, baik di pasar domestik maupun global.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa perubahan perilaku konsumen turut mendorong peningkatan standar produk. Menurutnya, saat ini masyarakat tidak lagi sekadar menikmati kopi, tetapi mulai memperhatikan aspek rasa, aroma, hingga karakter khas dari setiap sajian. Hal ini membuat Kualitas Kopi Indonesia menjadi faktor utama dalam menentukan daya tarik produk di pasar.

Data dari International Coffee Organization menunjukkan konsumsi kopi di Indonesia meningkat lebih dari 50 persen dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, pertumbuhan bisnis kafe juga terus meningkat, mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin akrab dengan budaya minum kopi.

Peran Proses Produksi dalam Menentukan Mutu

Meningkatnya permintaan pasar membuat pelaku industri dituntut untuk menjaga konsistensi kualitas di setiap tahapan produksi. Pemerintah menekankan bahwa Kualitas Kopi Indonesia sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan, terutama pada tahap penyangraian atau roasting biji kopi.

Proses ini menjadi penentu utama dalam menghasilkan cita rasa yang khas. Kesalahan dalam teknik roasting dapat memengaruhi aroma dan rasa akhir kopi, sehingga kompetensi sumber daya manusia di bidang ini menjadi sangat penting.

Untuk itu, Ditjen IKMA menggelar program fasilitasi sertifikasi kompetensi bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Amuya Coffee Academy, dengan melibatkan pelaku usaha kopi dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis para pelaku usaha, khususnya para coffee roaster. Dengan peningkatan kompetensi tersebut, diharapkan Kualitas Kopi Indonesia dapat semakin terjaga dan memiliki daya saing tinggi.

Dorong Daya Saing dan Tingkatkan Kualitas Kopi Indonesia untuk Ekspor

Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), saat ini terdapat lebih dari 1.500 unit IKM olahan kopi serta puluhan perusahaan skala besar yang bergerak di sektor ini. Selain itu, terdapat puluhan sentra industri kopi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Potensi besar ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Reni menegaskan bahwa peningkatan Kualitas Kopi Indonesia merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa volume ekspor kopi olahan Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari 117 ribu ton, dengan tujuan utama ke berbagai negara seperti Malaysia, Timor Leste, Tiongkok, Filipina, hingga Arab Saudi.

Dengan tren konsumsi yang terus meningkat dan dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri, prospek kopi Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan. Namun demikian, peningkatan kualitas tetap menjadi prioritas utama agar produk kopi nasional mampu bersaing di tengah ketatnya pasar global.

Emas Antam Naik Lagi, Kenaikan Harga Picu Minat Investor

0

Pergerakan harga logam mulia kembali mencuri perhatian setelah Emas Antam Naik Lagi pada perdagangan Sabtu (25/4/2026). Kenaikan ini memperkuat tren positif yang dalam beberapa waktu terakhir terus terjadi, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data resmi dari PT Aneka Tambang Tbk melalui laman Logam Mulia, harga emas batangan ukuran 1 gram kini dibanderol Rp2,825 juta. Angka tersebut naik Rp20 ribu dibandingkan posisi hari sebelumnya. Dengan kondisi ini, Emas Antam Naik Lagi dan kembali mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Tidak hanya harga jual, nilai pembelian kembali (buyback) juga mengalami peningkatan. Harga buyback tercatat naik Rp23 ribu menjadi Rp2,633 juta per gram. Kenaikan ini menunjukkan bahwa Emas Antam Naik Lagi tidak hanya dari sisi penjualan, tetapi juga dari nilai jual kembali, yang menjadi indikator penting bagi investor.

Kenaikan Harga dan Ketentuan Pajak

Dalam setiap transaksi emas batangan, terdapat ketentuan perpajakan yang harus diperhatikan. Berdasarkan regulasi dalam PMK Nomor 34/PMK.10/2017, transaksi penjualan kembali emas dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22.

Besaran pajak tersebut ditetapkan sebesar 1,5 persen bagi pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen bagi yang tidak memiliki NPWP. Pajak ini langsung dipotong dari total nilai buyback yang diterima.

Sementara itu, untuk pembelian emas batangan, tarif PPh 22 sebesar 0,45 persen berlaku bagi pemegang NPWP, dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap transaksi pembelian disertai bukti potong pajak sebagai bagian dari administrasi yang berlaku.

Kenaikan harga yang terjadi saat ini membuat Emas Antam Naik Lagi menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan, terutama di kalangan investor ritel yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Daftar Harga Emas Antam Terbaru

Selain ukuran 1 gram, harga emas Antam juga tersedia dalam berbagai pecahan dengan nilai yang menyesuaikan beratnya. Berikut rincian harga emas batangan per 25 April 2026:

  • 0,5 gram: Rp1,462 juta
  • 1 gram: Rp2,825 juta
  • 2 gram: Rp5,590 juta
  • 3 gram: Rp8,360 juta
  • 5 gram: Rp13,900 juta
  • 10 gram: Rp27,745 juta
  • 25 gram: Rp69,237 juta
  • 50 gram: Rp138,395 juta
  • 100 gram: Rp276,712 juta
  • 250 gram: Rp691,515 juta
  • 500 gram: Rp1,382 miliar
  • 1.000 gram: Rp2,765 miliar

Kenaikan harga di berbagai pecahan ini mempertegas bahwa Emas Antam Naik Lagi secara merata di seluruh lini produk.

Penguatan harga emas umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, hingga meningkatnya permintaan terhadap aset aman. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, emas masih menjadi pilihan utama bagi investor untuk menjaga nilai aset.

Kenapa Bisnis Waralaba Semakin Diminati Pemula? Ini Faktanya

Belakangan ini, Bisnis Waralaba semakin sering dilirik, terutama oleh pemula yang ingin terjun ke dunia usaha tanpa harus membangun semuanya dari nol. Banyak yang menganggap Bisnis Waralaba sebagai jalan pintas karena sistemnya sudah siap pakai, mulai dari produk, branding, hingga operasional.

Fenomena ini memang cukup menarik. Di satu sisi, Bisnis Waralaba terlihat lebih aman dibanding memulai bisnis sendiri. Tapi di sisi lain, tetap ada hal hal yang perlu dipahami sebelum benar benar terjun. Tidak semua waralaba otomatis menguntungkan, dan tidak semua cocok untuk setiap orang.

Karena itu, penting untuk melihat secara lebih realistis: apakah benar waralaba adalah pilihan terbaik untuk pemula, atau justru ada tantangan yang sering tidak terlihat di awal?

Kenapa Bisnis Waralaba Menarik untuk Pemula?

Salah satu alasan utama kenapa banyak orang memilih Bisnis Waralaba adalah karena sistemnya sudah terbukti. Pemilik usaha tidak perlu memikirkan konsep dari awal, karena semuanya sudah disiapkan oleh pemilik merek.

Biasanya, waralaba juga menyediakan pelatihan, standar operasional, hingga dukungan pemasaran. Hal ini tentu sangat membantu, terutama bagi yang belum punya pengalaman bisnis.

Selain itu, brand yang sudah dikenal membuat proses menarik pelanggan menjadi lebih mudah. Dibandingkan memulai dari nol, waralaba memberikan keuntungan dari sisi kepercayaan pasar.

Faktor inilah yang membuat banyak pemula merasa lebih percaya diri untuk memulai usaha melalui jalur ini.

Tapi, Apakah Benar Lebih Mudah?

Meskipun terlihat praktis, bukan berarti Bisnis Waralaba bebas dari tantangan. Salah satu hal yang sering tidak disadari adalah adanya biaya awal yang cukup besar.

Selain biaya franchise, biasanya ada juga biaya operasional, bahan baku, hingga royalty fee yang harus dibayar secara berkala.

Selain itu, pemilik usaha juga harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Tidak bisa bebas berinovasi karena semua sudah diatur oleh pusat.

Bagi sebagian orang, ini menjadi keterbatasan. Terutama jika ingin mengembangkan ide sendiri atau menyesuaikan dengan kondisi pasar lokal.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih

Sebelum memutuskan masuk ke Bisnis Waralaba, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, pahami model bisnisnya. Jangan hanya tergiur dengan nama besar, tapi pastikan sistemnya benar benar berjalan dengan baik.

Kedua, hitung potensi keuntungan secara realistis. Perhatikan semua biaya yang harus dikeluarkan, termasuk biaya tersembunyi yang mungkin muncul.

Ketiga, pilih waralaba yang sesuai dengan minat. Meskipun sistem sudah ada, tetap dibutuhkan komitmen untuk menjalankannya setiap hari.

Selain itu, lakukan riset terhadap reputasi brand. Lihat bagaimana performa outlet lain dan apakah bisnis tersebut benar benar berkembang.

Waralaba atau Bangun Sendiri?

Pilihan antara waralaba dan membangun bisnis sendiri sebenarnya tergantung pada tujuan masing masing.

Jika ingin sistem yang lebih praktis dan minim risiko awal, waralaba bisa menjadi pilihan. Tapi jika ingin kebebasan dalam mengembangkan ide, membangun bisnis sendiri mungkin lebih cocok.

Yang perlu diingat, tidak ada bisnis yang benar benar tanpa risiko. Baik waralaba maupun bisnis mandiri, keduanya tetap membutuhkan pengelolaan yang baik.

Kemasan Kertas Didorong Jadi Solusi Industri Makanan dan Minuman

0

Upaya penguatan industri makanan dan minuman terus dilakukan pemerintah, salah satunya melalui dorongan penggunaan Kemasan Kertas sebagai alternatif pengganti plastik. Langkah ini dinilai tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga menjawab tuntutan industri terhadap solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kementerian Perindustrian menilai penggunaan Kemasan Kertas berbasis teknologi aseptik semakin relevan di tengah perubahan kebutuhan pasar. Selain mampu menjaga kualitas produk tanpa tambahan bahan pengawet, jenis kemasan ini juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap sistem rantai pendingin yang selama ini menjadi salah satu komponen biaya besar dalam distribusi.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong industri untuk beralih ke bahan kemasan non-plastik. Ia menyebutkan bahwa penggunaan Kemasan Kertas saat ini sudah cukup luas, terutama untuk produk susu dan minuman siap konsumsi.

Menurutnya, kontribusi kemasan berbasis kertas di sektor makanan dan minuman telah mencapai sekitar 28 persen dari total penggunaan kemasan. Angka ini menunjukkan bahwa tren peralihan ke bahan yang lebih ramah lingkungan mulai mendapatkan respons positif dari pelaku industri.

Dorong Efisiensi dan Inovasi Industri

Pemerintah tidak hanya mendorong penggunaan bahan baku alternatif, tetapi juga memfasilitasi kolaborasi antara produsen dan pengguna melalui skema business matching. Langkah ini bertujuan mempercepat adopsi Kemasan Kertas di berbagai lini industri.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa pemanfaatan kemasan berbasis kertas sejalan dengan kebijakan industri hijau yang tengah dikembangkan pemerintah. Menurutnya, inovasi dalam sektor kemasan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui kegiatan workshop dan kunjungan industri yang melibatkan pelaku usaha. Salah satunya dilakukan bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia di fasilitas PT Lami Packaging Indonesia.

Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa kegiatan tersebut penting untuk mencari solusi atas tantangan industri, terutama dalam hal pengadaan bahan baku dan efisiensi produksi. Ia menilai, eksplorasi terhadap Kemasan Kertas menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Solusi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar, Merrijantij Punguan Pintaria, menambahkan bahwa penggunaan kemasan aseptik berbasis kertas memang memiliki struktur biaya yang berbeda dibandingkan plastik. Namun, jika dihitung secara menyeluruh, efisiensi yang dihasilkan bisa lebih kompetitif.

Ia menjelaskan bahwa Kemasan Kertas tidak memerlukan fasilitas penyimpanan dingin, sehingga mampu menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Selain itu, ketersediaan bahan baku kertas yang relatif stabil juga menjadi keunggulan tersendiri.

Secara nasional, kebutuhan kemasan aseptik diperkirakan mencapai 8,3 miliar unit per tahun. Sekitar 4,8 miliar di antaranya digunakan untuk produk susu dan turunannya, sementara sisanya berasal dari minuman berbasis teh, kopi, serta produk nabati seperti oat milk dan santan.

Sebagai salah satu produsen utama, LamiPak memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan per tahun. Kapasitas ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor.