Jumat, September 4, 2026
Top Mortar Gak Takut Hujan
Beranda blog Halaman 107

Pelaku Industri Sektor Kosmetik Jadi Motor Inovasi Lokal, Gimana Strategi Pemerintah?

0

Upaya pemerintah dalam memperkuat industri nasional terus digalakkan, salah satunya lewat peningkatan daya saing pelaku industri sektor kosmetik dan obat tradisional. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian konsisten memberikan pembinaan agar para pelaku usaha, terutama yang tergolong IKM, mampu naik kelas dan bersaing di level nasional maupun internasional.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menyatakan bahwa memperluas skala usaha menjadi hal penting yang perlu dilakukan agar pelaku IKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Menurutnya, dengan naik kelas, pelaku industri sektor kosmetik tak hanya meningkatkan daya saing, tapi juga memperluas akses pasar dan berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.

“Pertumbuhan IKM seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas, tapi juga kualitas. Ketika sebuah IKM mampu menjadi merek yang dikenal luas, maka dampaknya akan dirasakan hingga ke level konsumen dan perekonomian secara keseluruhan,” ujar Reni dalam keterangan tertulis, Selasa (5/8).

Dominasi IKM dan Kinerja Ekspor Menjanjikan

Saat ini, sektor kosmetik dan obat tradisional berada dalam posisi yang cukup strategis dalam peta industri manufaktur nasional. Selain jumlah pelakunya yang besar, sektor ini juga menunjukkan potensi nilai ekonomi yang menjanjikan. Berdasarkan data 2024, tercatat ada 1.292 industri kosmetik di Indonesia, di mana sekitar 89% di antaranya berasal dari kalangan IKM. Untuk industri obat tradisional, dari 1.043 unit usaha yang terdata, 86% juga dikuasai oleh pelaku IKM.

Tak hanya unggul dalam jumlah, kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, produk kosmetik Indonesia berhasil mencatatkan nilai ekspor mencapai USD 410,7 juta. Sementara produk obat tradisional menyumbang ekspor senilai USD 6,9 juta, dengan negara tujuan utama seperti Taiwan, Malaysia, dan Filipina.

Meski begitu, Reni mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan teknologi dan kapasitas produksi, kurangnya pemahaman terkait perizinan seperti BPOM, hingga strategi pemasaran dan branding yang belum optimal.

Program Pembinaan dan Kolaborasi Strategis

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ditjen IKMA telah menggulirkan berbagai program pembinaan yang dirancang agar IKM di sektor ini bisa berkembang. Mulai dari fasilitasi sertifikasi produk, pelatihan formulasi, hingga pendampingan standardisasi mutu dan reimburs pembelian mesin lewat program restrukturisasi industri.

Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri besar, akademisi, dan asosiasi. “Kami terus mendorong IKM agar bisa belajar langsung dari para pelaku industri yang telah sukses melakukan scale-up, agar terbentuk ekosistem industri yang saling menguatkan,” tambah Reni.

Salah satu langkah nyata dari kolaborasi ini adalah terselenggaranya webinar bertema “Strategi Scale-Up: Dari IKM ke Brand Nasional” pada 29 Juli 2025. Acara tersebut menghadirkan tokoh industri seperti Nurhayati Subakat (Komisaris Utama PT Paragon) dan Maria R. Hidayat (Direktur Marketing PT Sido Muncul), yang berbagi pengalaman sukses mereka dalam membesarkan bisnis.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, menyatakan harapannya agar forum ini menjadi wadah inspirasi dan pembelajaran. Menurutnya, ketika pelaku IKM bisa melihat dan memahami perjalanan bisnis para figur sukses, mereka akan lebih percaya diri menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya.

Dengan dukungan kebijakan, kemitraan yang kuat, dan inovasi berkelanjutan, sektor kosmetik dan obat tradisional dinilai mampu menjadi pendorong industri bernilai tambah lokal yang siap menembus pasar global.

Polytron Masuk Pasar Laptop! Seri Luxia Tawarkan Fitur Premium Mulai 5 Jutaan

0

Laptop Polytron kini resmi hadir sebagai pemain baru di pasar perangkat komputasi Tanah Air. Melalui lini produk Luxia, brand elektronik lokal ini memperkenalkan tiga varian laptop yang menyasar kebutuhan berbeda namun tetap mengusung ciri khas: ringan, bertenaga, dan elegan. Kehadiran Laptop Polytron ini menjawab kebutuhan masyarakat yang mendambakan perangkat kerja stylish tanpa mengorbankan performa.

Dengan mengusung slogan “BE MORE”, Polytron Luxia hadir dalam tiga model: Luxia Pro Ultra 5, Luxia Pro i5, dan Luxia i3. Ketiganya dirancang untuk mendukung produktivitas pengguna aktif — baik untuk bekerja, belajar, maupun berkarya secara kreatif.

Varian Pro untuk Profesional Aktif dan Kreator Konten

Luxia Pro Ultra 5 menjadi varian paling premium dengan spesifikasi tinggi, mengandalkan prosesor Intel Core Ultra 5, AI Dedicated NPU, serta GPU Intel ARC. Kombinasi tersebut menjadikannya pilihan ideal bagi pengguna profesional di bidang desain grafis, editing video, hingga multitasking berat.

Dengan bobot hanya 1 kg dan bodi magnesium premium, laptop ini juga membawa layar 14 inci berpanel IPS WUXGA yang mendukung 100% sRGB. Fitur modern seperti fingerprint scanner, E-shutter untuk kamera, hingga port lengkap (HDMI 2.0, USB Type-C Full Function, dan USB 3.0) turut disematkan. Daya tahan baterainya mencapai 10 jam, menjadikannya sahabat perjalanan bagi para pekerja dinamis.

Sementara itu, Luxia Pro i5 hadir untuk konten kreator dan pengguna yang kerap mengolah foto maupun video. Ditenagai Intel Core i5 dan grafis Intel Iris Xe, performanya tetap bisa diandalkan. RAM 16GB DDR4 dan kecepatan turbo hingga 4.4GHz memastikan kinerja tetap mulus tanpa gangguan. Sama seperti varian Ultra 5, laptop ini juga menawarkan layar berkualitas tinggi dan konektivitas lengkap.

Solusi Ringan untuk Mahasiswa dan Pengguna Harian

Bagi kalangan pelajar maupun mahasiswa, Luxia i3 menjadi alternatif menarik. Dibekali prosesor Intel Core i3 serta RAM 8GB (dapat ditingkatkan hingga 64GB), laptop ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan akademis, streaming, hingga belajar daring. Penyimpanan SSD 256GB turut melengkapi kemampuannya sebagai perangkat belajar serbaguna.

Tak hanya itu, bodi berbahan metal, layar 14 inci WUXGA berasio 16:10, dan bobot ringan menjadikan Luxia i3 mudah dibawa ke kampus, kafe, atau ruang belajar lainnya. Port yang tersedia mencakup HDMI, USB-C, USB 3.0, dan USB 2.0, memastikan kompatibilitas dengan berbagai perangkat tambahan.

Dalam hal layanan purnajual, Polytron menghadirkan Protect Plus yang mencakup perlindungan kerusakan tak disengaja (ADP) selama dua tahun. Ditambah lagi dengan dukungan 66 service center yang tersebar di 33 provinsi, konsumen mendapat jaminan servis yang mudah dijangkau dan andal.

Program pre-order Laptop Polytron Luxia sudah dibuka secara eksklusif di platform Blibli mulai 5 hingga 15 Agustus 2025. Berikut adalah daftar harga resmi:

  • Luxia Pro Ultra 5 (16GB/512GB): Rp10.999.000

  • Luxia Pro i5 (16GB/512GB): Rp7.899.000

  • Luxia Pro i5 (16GB/256GB): Rp7.599.000

  • Luxia i3 (8GB/256GB): Rp5.499.000

Ekonomi Digital Dorong Pertumbuhan Indonesia, Target USD600 Miliar di 2030

0

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia terus menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan data terbaru, ekonomi nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,12 persen pada kuartal II tahun 2025—angka tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir. Angka ini sekaligus menegaskan bahwa laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang stabil, sejalan dengan optimisme pemerintah terhadap daya tahan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakorkernas) ke-34 APINDO yang digelar di Bandung, Selasa (5/08). Ia menuturkan bahwa pertumbuhan ini turut tercermin dari kinerja positif sejumlah perusahaan terbuka, terutama di sektor ritel, yang berhasil membukukan hasil lebih baik dibandingkan semester pertama tahun lalu.

Konsumsi dan Ekonomi Digital Jadi Motor Penggerak

Di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang semakin selektif dan cenderung mengarah ke kanal digital, pemerintah menilai fenomena seperti “Rojali” atau “rombongan jarang beli” tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Justru, pertumbuhan di sektor ritel dan e-commerce menunjukkan bahwa konsumsi domestik masih kuat, meski cara masyarakat membelanjakan uang telah bergeser.

Airlangga juga menyoroti pentingnya sektor digital dalam mendorong ekonomi nasional. Ia menyebut bahwa secara global, ekonomi digital sudah menyumbang lebih dari 15,5 persen terhadap total PDB dunia. Di kawasan ASEAN, Indonesia bahkan menguasai sekitar 40 persen pasar ekonomi digital.

“Kalau kita lihat hampir semua sektor berbasis digital mengalami pertumbuhan signifikan. Inilah sektor yang menjadi pengungkit tambahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya. Ia pun menargetkan kontribusi ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD600 miliar pada 2030, beriringan dengan kerangka kerja sama DEFA yang menjadi agenda utama ASEAN.

Strategi Pemerintah Jaga Permintaan dan Sektor Eksternal

Menghadapi dinamika global, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi. Di sisi permintaan, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi guna menjaga konsumsi dalam negeri. Sementara untuk menjaga sektor eksternal, strategi seperti kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), negosiasi dagang, serta perluasan perjanjian dagang seperti CEPA dan FTA terus dioptimalkan.

Tak hanya itu, Airlangga menambahkan bahwa industri padat karya yang terdampak tarif ekspor juga mendapat perhatian khusus melalui skema Kredit Industri Padat Karya. Skema ini ditujukan untuk membantu industri merevitalisasi peralatan dan meningkatkan efisiensi produksi.

Dalam konteks global, posisi Indonesia semakin strategis berkat pendekatan politik luar negeri yang bebas aktif. Indonesia aktif berperan dalam forum-forum internasional seperti G20, BRICS, RCEP, hingga ASEAN, dan saat ini tengah berupaya bergabung dalam OECD dan CPTPP.

“Saya optimis, jika seluruh pelaku usaha tetap menjaga semangat dan keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional, maka target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah bukan hal yang mustahil untuk dicapai,” tutup Airlangga dalam sambutannya.

Daya Beli Lesu? Ini Penjelasan OJK soal Tren Rojali dan Rohana

0

Fenomena Rojali dan Rohana kini jadi sorotan, bukan hanya di media sosial tapi juga di tingkat pengambil kebijakan. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyebut istilah tersebut mencerminkan sikap hati-hati masyarakat dalam merespons situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (4/8/2025), Mahendra menegaskan bahwa kecenderungan menahan konsumsi seperti yang ditunjukkan kelompok Rojali dan Rohana adalah reaksi wajar.

“Ketika ekonomi belum menunjukkan kepastian, sebagian besar orang cenderung menunda keputusan pembelian,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Menurut Mahendra, bukan hanya konsumen yang bersikap demikian. Sikap serupa juga terlihat di kalangan produsen dan investor. Mereka sama-sama memilih untuk menunggu sinyal positif sebelum melangkah lebih jauh, baik dalam berbelanja maupun dalam berinvestasi.

Rojali dan Rohana Jadi Simbol Baru Daya Beli Lemah

Istilah Rojali merupakan singkatan dari Rombongan Jarang Beli, merujuk pada kelompok masyarakat yang kerap mengunjungi pusat perbelanjaan namun enggan melakukan transaksi. Sementara Rohana adalah Rombongan Hanya Nanya, menggambarkan pengunjung yang sekadar bertanya soal produk tanpa berniat membeli. Keduanya mencerminkan situasi ekonomi masyarakat yang cenderung defensif akibat tekanan global dan domestik.

Tren ini menurut OJK juga menjadi indikator penting dalam mengukur psikologi pasar. Saat ketidakpastian mereda dan arah kebijakan ekonomi lebih terarah, maka rasa percaya diri konsumen diyakini akan kembali. Mahendra pun berharap tren ini bersifat sementara dan akan membaik seiring pulihnya kondisi makroekonomi.

OJK Dorong Kepastian agar Konsumsi Pulih

Dalam upaya mendorong pemulihan konsumsi, OJK menekankan pentingnya kejelasan kebijakan dan komunikasi yang efektif kepada publik. Konsumen akan lebih berani membelanjakan uang jika merasa yakin terhadap kondisi ekonomi ke depan. Mahendra optimistis bahwa sinyal-sinyal positif dari pemerintah dapat mengubah sikap wait and see menjadi tindakan nyata di pasar.

“Sama halnya dengan produsen dan investor, konsumen juga butuh keyakinan agar bisa membuat keputusan. Dan dengan situasi yang mulai membaik, kami percaya pemulihan konsumsi hanya soal waktu,” tegas Mahendra.

Dengan perbaikan bertahap di sektor ekonomi dan stabilitas harga, Mahendra berharap istilah seperti Rojali dan Rohana tak lagi menggambarkan situasi masyarakat ke depan. Sebaliknya, semangat belanja dan konsumsi diyakini akan kembali tumbuh sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Cara Jitu Bikin Konten untuk Bisnis Barbershop agar Makin Dikenal di TikTok dan IG Reels

Tren barbershop di Indonesia bisa dibilang nggak pernah surut. Meski banyak usaha baru bermunculan, bisnis potong rambut pria tetap punya pasar yang kuat. Tapi di tengah persaingan yang makin padat, satu hal jadi kunci agar barbershop tetap relevan: konten digital yang kreatif. Yap, sekarang banyak pemilik usaha mulai menyadari pentingnya konten untuk bisnis barbershop, apalagi yang bisa viral di TikTok dan Instagram Reels.

Dengan algoritma media sosial yang makin memihak konten visual pendek, barbershop bukan cuma tempat potong rambut, tapi juga bisa jadi panggung branding yang menarik. Cukup bermodal kamera ponsel dan ide konten yang relate, bisnis barbershop bisa jadi dikenal luas tanpa harus keluar biaya besar buat iklan. Pertanyaannya, konten kayak apa yang cocok? Dan seberapa efektif sih konten bisa jadi alat marketing gratis?

Bikin Konten yang Dekat dengan Pelanggan

Kunci pertama dalam membuat konten untuk bisnis barbershop adalah memahami siapa target pasar. Umumnya, anak muda dan pria dewasa jadi segmen utama. Maka kontennya pun harus ngena di mereka—misalnya, video transformasi dari “gondrong berantakan” jadi “clean look”, tips merawat rambut, hingga behind the scene proses cukur dengan musik yang catchy.

Beberapa ide konten yang bisa dicoba:

  • Before–after potongan rambut

  • Review pomade atau produk styling

  • Reaksi pelanggan setelah potong rambut

  • Mini vlog suasana barbershop

  • Kolaborasi dengan influencer lokal

Konten seperti ini nggak hanya menarik, tapi juga meningkatkan kepercayaan. Orang jadi lebih tahu suasana tempat dan hasil potongannya. Kalau mereka suka, kemungkinan besar mereka datang atau setidaknya menyimpan akun barbershop buat referensi.

Modal Konten = Alat Marketing Gratis?

Banyak yang bertanya, “Emang bisa dari konten doang, barbershop bisa rame?” Jawabannya: bisa banget! Konten yang konsisten dan menarik bisa menjangkau ribuan orang tanpa harus bayar iklan. Platform seperti TikTok dan Instagram punya potensi viral yang sangat besar. Sekali video potong rambut lo trending, bisa-bisa pelanggan membludak hanya dari satu konten.

Apalagi kalau pelanggan juga diajak ikut promosiin. Misalnya, beri diskon kecil kalau mereka mau diambil videonya saat potong rambut. Otomatis barbershop lo dapat konten baru plus jangkauan dari akun mereka. Strategi word of mouth digital kayak gini bisa jadi senjata jitu marketing era sekarang.

Di zaman serba digital, bikin konten untuk bisnis barbershop itu bukan sekadar pelengkap, tapi jadi kebutuhan. Nggak perlu alat mahal, yang penting ide kreatif, konsisten, dan tahu tren. Dengan strategi konten yang tepat, barbershop bukan cuma bisa bertahan, tapi juga berkembang pesat di tengah persaingan saat ini.

Stok Cadangan Beras Pemerintah Nyaris 4 Juta Ton, Publik Diimbau Tak Panik

0

Pemerintah memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam kondisi sangat aman, dengan total persediaan mendekati 4 juta ton per awal Agustus 2025. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menyampaikan bahwa angka tersebut menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi isu beras.

“Per 1 Agustus 2025, total stok beras yang ada di Bulog mencapai 3,97 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 3,95 juta ton merupakan stok Cadangan Beras Pemerintah dan sisanya beras komersial,” ungkap Arief saat mendampingi kunjungan kerja Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Lombok Barat, NTB, Sabtu (2/8/2025).

Penyerapan produksi dalam negeri juga berjalan positif. Hingga saat ini, realisasi pengadaan setara beras telah mencapai 2,78 juta ton, atau hampir 93 persen dari target nasional yang ditetapkan sebanyak 3 juta ton.

Pemerintah Jamin Distribusi dan Mutu Beras Tetap Terjaga

Menko Pangan Zulkifli Hasan menambahkan, pemerintah telah menggelontorkan sekitar 1,3 juta ton beras ke pasar dan menyalurkan 360 ribu ton untuk program bantuan pangan. “Stok kita di Bulog tetap dalam posisi aman. Masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.

Zulkifli juga menyoroti efek kebijakan pemerintah yang semakin terasa di tingkat petani. Menurutnya, harga gabah yang kini mencapai Rp6.500 per kilogram dan distribusi pupuk yang tepat waktu menjelang masa tanam membuat para petani merasa lebih sejahtera.

Selain menjamin ketersediaan beras, pemerintah juga mengintensifkan pengawasan terhadap mutu dan label pada kemasan. Arief menjelaskan bahwa beras premium harus sesuai kualitas yang tertera, dan apabila hanya terjadi peningkatan kadar “broken” (beras patah), maka harga perlu disesuaikan tanpa menarik produk dari rak.

“Jangan sampai rak-rak beras kosong hanya karena kualitas patahnya sedikit lebih tinggi. Ini bukan soal kualitas buruk, tapi soal penyesuaian harga yang adil untuk konsumen,” ujar Arief.

Data Panel Harga Pangan menunjukkan bahwa harga beras premium secara nasional mulai menurun, meski masih berada di atas HET. Penurunan terjadi di seluruh zona, termasuk penurunan di Zona 3 dari Rp18.390 menjadi Rp18.298 per kilogram.

Namun demikian, inflasi beras pada Juli 2025 tercatat meningkat 1,35 persen, tertinggi sepanjang tahun berjalan. Komoditas ini juga menyumbang kenaikan inflasi tahunan sebesar 3,82 persen menurut catatan BPS.

Menghadapi kondisi tersebut, Arief memastikan bahwa pengawasan mutu dan harga terus dilakukan secara ketat, termasuk kerja sama dengan Satgas Pangan Polri. Saat ini, Badan Pangan Nasional tengah mengkaji ulang kebijakan terkait klasifikasi mutu beras dan harga eceran tertinggi di berbagai wilayah, termasuk potensi zonasi harga antar wilayah Indonesia.

“Langkah perubahan kebijakan ini tidak bisa instan. Harus ada masa transisi agar penyesuaian bisa berjalan mulus,” kata Arief.

Salah satu regulasi yang tengah dibahas adalah revisi Peraturan Bapanas No. 2 Tahun 2023 mengenai klasifikasi mutu beras serta Peraturan No. 5 Tahun 2024 yang mengatur HET berdasarkan wilayah.

Warisan Tradisi Jadi Daya Saing, Produk Kriya Nusantara Naik Kelas

0

Sebagai bagian dari upaya penguatan industri kriya, Ditjen IKMA baru-baru ini menggelar webinar bertajuk Kolaborasi Kreatif Tingkatkan Nilai Ekonomi Produk Kriya Nusantara. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah bertukar praktik baik antar pelaku IKM, desainer, penggiat budaya, hingga Dekranasda dari berbagai provinsi.

Dalam kesempatan itu, Reni menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan produk kriya sebagai warisan budaya nusantara yang juga memiliki potensi ekonomi besar. Ia menilai, derasnya arus globalisasi dan kehadiran produk asing menuntut pelaku IKM kriya untuk terus berinovasi tanpa kehilangan akar budaya.

“Tantangan kita bukan sekadar mempertahankan, tapi juga mengembangkan. Edukasi nilai-nilai tradisional dan peningkatan kualitas produk adalah kunci untuk menembus pasar luar negeri,” ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci Sukses Manamu Handwoven

Salah satu kisah inspiratif datang dari Manamu Handwoven, brand kriya asal Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Lewat pendekatan kolaboratif, Manamu berhasil mengangkat dua unsur budaya lokal – Lulu Amah dan Mamuli – menjadi karya yang bernilai tinggi dan diterima pasar internasional.

Lulu Amah dikenal dengan seni tenun berbahan kawat baja, tembaga, hingga kuningan yang menghasilkan produk home décor seperti lampu dan perhiasan. Sementara Mamuli merupakan kriya berbasis logam kuningan dengan teknik tempa tradisional.

“Manamu membuktikan bahwa brand story yang kuat, kualitas terjaga, dan kepedulian terhadap komunitas lokal bisa menjadi modal utama untuk sukses di kancah global,” ujar Reni.

Kesuksesan Manamu juga didukung kerja sama dengan influencer dan media, yang memperkuat daya tarik visual sekaligus pesan sosial di balik setiap produknya.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Dickie Sulistya Aprilyanto, menambahkan bahwa inisiatif seperti webinar ini menjadi bukti nyata sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif dalam memajukan industri kriya secara berkelanjutan.

“Kriya bukan sekadar estetika, tapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Dickie.

Dengan kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, diharapkan kriya lokal Indonesia semakin diperhitungkan di pentas global tanpa kehilangan akar budayanya.

Mau Penjualan Naik? Manfaatkan Google Maps untuk Bisnis Sekarang!

Di era digital kayak sekarang, banyak pemilik usaha berlomba-lomba tampil di media sosial, tapi lupa satu hal penting: Google Maps untuk Bisnis. Padahal, platform ini bukan cuma buat cari alamat, tapi juga bisa jadi mesin penghasil pelanggan baru. Bayangin, orang yang lagi cari kopi enak atau bengkel terdekat bisa langsung diarahkan ke tempatmu—asal bisnismu muncul di Google Maps dengan data lengkap dan review bagus.

Banyak pelaku UMKM belum sadar bahwa Google Maps untuk Bisnis bisa jadi alat promosi gratis yang efektif. Ketika orang mengetik nama tempat tertentu, seperti “warung terdekat”, “laundry 24 jam”, atau “kafe dengan Wi-Fi”, Google langsung menunjukkan hasil berdasarkan lokasi terdekat dan rating. Jadi, kalau bisnismu nggak ada di sana, potensi kehilangan pelanggan jelas besar.

Cara Maksimalkan Google Maps untuk Meningkatkan Omzet Bisnis, Apa Bisa?

1. Daftarkan Bisnis Lewat Google Business Profile
Langkah pertama: daftarkan dulu bisnismu secara resmi lewat Google Business Profile. Isi lengkap nama usaha, alamat, jam operasional, nomor telepon, foto produk, hingga link ke website atau media sosial.

2. Minta Review dari Pelanggan Puas
Review positif itu aset. Minta pelanggan yang puas untuk kasih bintang lima dan komentar jujur. Semakin tinggi rating, semakin besar peluang bisnismu muncul di urutan teratas pencarian lokal.

3. Gunakan Foto yang Menarik dan Relevan
Orang lebih percaya kalau bisa melihat seperti apa tempat atau produk yang akan mereka beli. Upload foto makanan, suasana toko, testimoni, bahkan video singkat pun boleh. Kesan visual yang kuat bikin orang lebih yakin datang.

4. Rutin Update Info
Jangan biarkan data bisnismu basi. Misalnya jam buka berubah, atau ada promo baru—update segera. Google akan lebih “percaya” pada akun yang aktif dan responsif.

5. Tambahkan Kategori yang Tepat
Pastikan kamu memilih kategori bisnis yang sesuai, misalnya: “kedai kopi”, “barbershop”, atau “service AC”. Ini membantu sistem Google mencocokkan bisnismu dengan pencarian yang relevan.

6. Gunakan Fitur Tanya Jawab dan Balas Ulasan
Fitur ini bikin bisnismu terasa aktif dan ramah. Jawab pertanyaan dari pengunjung, dan beri ucapan terima kasih untuk setiap review. Interaksi ini punya pengaruh besar terhadap keputusan calon pelanggan.

7. Pantau Insight Google Maps
Google Business Profile menyediakan insight: berapa orang yang melihat profilmu, dari mana mereka datang, dan tindakan apa yang mereka ambil. Data ini bisa jadi panduan untuk strategi promosi berikutnya.

Dengan sedikit usaha dan konsistensi, Google Maps bisa jadi “etalase digital” yang bantu bisnismu ditemukan lebih banyak orang. Jangan tunggu pesaingmu lebih dulu memanfaatkannya. Mulai optimalkan sekarang—karena makin cepat kamu hadir di peta digital, makin besar peluang omzet ikut naik!

Fenomena Warga Mengibarkan Bendera One Piece Hingga Viral Sampai Luar Negeri!

0

Memasuki bulan Agustus yang identik dengan semangat kemerdekaan, fenomena unik terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Alih-alih mengibarkan Bendera Merah Putih seperti tradisi tahunan, sebagian masyarakat justru terlihat mengibarkan Bendera One Piece—bendera dengan simbol Jolly Roger khas bajak laut dalam anime populer asal Jepang. Fenomena ini dengan cepat menarik perhatian publik, memicu perdebatan di media sosial, dan mendapat sorotan dari pejabat negara hingga media internasional.

Simbol tengkorak berikat kain dan dua tulang bersilang yang merupakan identitas kapal Bajak Laut Topi Jerami dalam serial One Piece itu kini terlihat di berbagai tempat, mulai dari gang sempit hingga jalanan kota. Beberapa warga mengaitkan aksi mengibarkan Bendera One Piece sebagai bentuk protes sosial, simbolisasi perlawanan terhadap ketidakadilan, atau ekspresi kejenuhan terhadap kondisi sosial-politik saat ini.

Pemerintah Waspadai Potensi Ancaman Simbol

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan, dalam keterangannya menyebut bahwa tindakan ini tidak bisa dianggap remeh. Pemerintah mengingatkan bahwa penggunaan simbol non-nasional menjelang perayaan Hari Kemerdekaan dapat berpotensi menimbulkan polemik dan mengganggu persatuan. Mahfud juga menekankan bahwa jika tindakan ini mengarah pada bentuk penghinaan terhadap simbol negara atau memicu instabilitas, maka langkah hukum bisa saja diambil.

Di sisi lain, media asing juga mulai menyoroti tren ini. Beberapa outlet menyebutnya sebagai bentuk ekspresi budaya populer yang tak biasa menjelang peringatan kemerdekaan. Namun ada pula yang menggarisbawahi kekhawatiran pemerintah Indonesia terhadap kemungkinan disinformasi dan penyalahgunaan simbol.

Tren yang Membuat Bendera One Piece Malah Laku Keras!

Tak hanya memicu reaksi politik, lonjakan permintaan terhadap atribut One Piece juga dirasakan oleh para pedagang. Di Makassar, misalnya, sejumlah pedagang mengaku heran karena pembeli lebih banyak mencari bendera bajak laut ketimbang Bendera Merah Putih. Beberapa pelapak bahkan kehabisan stok karena permintaan yang melonjak drastis.

Menurut pengamat budaya, fenomena ini mencerminkan kekuatan budaya pop Jepang yang sudah mengakar dalam keseharian generasi muda Indonesia. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menuntut kedewasaan dalam menempatkan simbol budaya dalam konteks nasionalisme dan peringatan hari besar negara.

Pemerintah sendiri mengimbau masyarakat agar tetap mengutamakan simbol-simbol resmi negara menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Kebebasan berekspresi tetap dijamin, namun harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap identitas nasional.

Tarif Listrik Terbaru Mulai Agustus, Siapa yang Harus Bayar Lebih Mahal?

0

Memasuki awal bulan, pemerintah melalui PLN resmi mengumumkan Tarif Listrik Terbaru yang akan berlaku sepanjang Agustus 2025. Penyesuaian ini menyasar 13 golongan pelanggan non-subsidi yang sebelumnya sudah dikenakan tarif sesuai mekanisme pasar. Kebijakan ini menuai perhatian luas karena memengaruhi rumah tangga menengah ke atas hingga sektor industri besar.

Perubahan Tarif Listrik Terbaru ini dilakukan seiring dengan evaluasi berkala terhadap beberapa faktor penentu tarif, seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP), inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta harga batu bara acuan. Kementerian ESDM menegaskan bahwa mekanisme penyesuaian ini sudah sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 28 Tahun 2016.

Penyesuaian Tarif Berlaku untuk Golongan Tertentu

Adapun golongan yang terkena dampak penyesuaian tarif ini di antaranya adalah pelanggan rumah tangga dengan daya 3.500 VA ke atas (R-3), pelanggan bisnis besar (B-3), dan industri besar (I-4). Tarif dasar untuk R-3 misalnya, ditetapkan sebesar Rp1.699,53 per kWh, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara untuk sektor industri, tarifnya naik mengikuti fluktuasi harga energi global dan kurs.

Namun, pemerintah tetap mempertahankan subsidi untuk 25 golongan pelanggan, seperti rumah tangga 450 VA, UMKM, dan fasilitas sosial keagamaan. Artinya, pelanggan bersubsidi tidak terdampak kenaikan tarif dan tetap mendapatkan perlindungan dari gejolak ekonomi makro.

PT PLN menyatakan, penyesuaian tarif ini merupakan bagian dari upaya menciptakan transparansi dan efisiensi dalam distribusi energi nasional. Kenaikan tarif juga diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat dalam menggunakan energi secara hemat dan bertanggung jawab.

“Kami berkomitmen untuk terus menjaga pasokan listrik tetap andal, meskipun ada dinamika harga energi global. Transparansi tarif menjadi kunci agar publik memahami alasan di balik setiap penyesuaian,” ujar perwakilan PLN.

Di sisi lain, beberapa kalangan menilai kenaikan ini dapat berdampak pada daya beli masyarakat kelas menengah. Meski tidak menyasar golongan berdaya rendah, efek domino terhadap harga barang dan jasa lainnya tetap menjadi perhatian.

Meski begitu, pemerintah menyebutkan bahwa kebijakan ini juga akan mendorong efisiensi di sektor industri dan menstimulasi penggunaan energi terbarukan dalam jangka panjang. Selain itu, subsidi energi yang lebih tepat sasaran diharapkan mampu menekan beban fiskal negara.