Bisnis Sepatu Slip On, Kecil Modalnya Gede Untungnya

0
2929
Sepatu slip on (dok ndo.bestpriceupdate.com)

 

Tren fesyen yang begitu cepat berkembang membuat peluang bisnis di bidang fesyen selalu menjanjikan. Selain pakaian, sepatu adalah salah satu produk fesyen yang begitu cepat berubah. Apalagi kecenderungan masyarakat yang mudah bosan dengan satu model memaksa pelaku usaha tak pernah berhenti menghadirkan produk baru.

Salah satu model sepatu yang saat ini banyak dipakai anak muda di berbagai tempat dan kesempatan adalan sepetu slip on. Sepatu yang beralas tipis (sol) tanpa tali, ringan namun nyaman dipakai ini memang pernah tren beberapa tahun lalu. Namun  dengan kreasi baru dari para pelaku usaha sepatu, sepatu slip on kembali booming.

Banyak pelajar, mahasiswa hingga remaja yang menggunakan slip on di berbagai tempat seperti mal, tampat hangout, tempat rekreasi, bus, kreta hingga ke sekolah. Booming slip on rupanya bukan hanya milik anak Jakarta. Tren yang sama juga menyebar ke berbagai kota besar dan daerah dengan cepat. Maklum dengan begitu cepatnya akases internet membuat semakin banyak orang mudah mengakses berbagai infomasi termasuk tren fesyen terbaru. Tak heran semakin banyak anak muda terlihat menggunakan sepatu slip on ini.

Menurut Zaki Ahmad, Pemilik Unno Royal Footwear, sejatinya, sepatu slip on sudah dikenal masyarakat, namun saat ini kembali tren karena model-modelnya yang sangat variatif. Kalau dulu  sepatu slip on tampil polos, kini mulai banyak desain yang diberikan. Begitu pun dari sisi warna bahan, dulu hanya hitam atau putih, namun saat ini warnanya yang sedang tren diminati cenderung warna-warna cerah dan lembut serta kontras dengan warna baju, misalnya merah, kuning, cokelat muda, pink, krem, putih tulang, dan lain-lain, dan ada pula yang bermotif seperti motif  pulkadot atau kotak-kotak.

Selain motif-motif tersebut, pelaku usah juga bisa memunculkan motifnya tersendiri seperti yang dijalankan oleh Joanne Fransisca, dari Dodoth Shoe Painting yang memunculkan motif sepatu lukis pada semua sepatu slip on-nya, walau sudah lewat sepatu lukis sudah lewat masanya, namun kembali boomingnya sepatu slip on ini ternyata kembali mengangkat usaha sepatu lukis yang dijalaninya.

Kreasi Baru

Model slip on saat ini desainnya sangat beragam, sehingga tak mudah membuat bosan konsumen. Salah satu modifikasi yang dilakukan pelaku usaha sepatu slip on adalah dengan menggunakan bahan dan aplikasi yang berbeda.

Bahan untuk sepatu slip on bisa dari kulit sapi, domba, kulit imitasi, beludru, kain kanvas, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan bahan denim seperti yang di produksi Mikael Kris produsen sepatu slip on merek Kael dari Kelapa Gading, Jakarta Utara. ”Sepatu slip on saya dibuat dari bahan denim karena digunakan untuk kegiatan-kegiatan santai,” ungkap Mikael.

Kreasi lainnya datang dari pemilik Aii Shoes, Apriyanti Rahayu. Ia menawarkan sepatu slip on dengan model sol sepatu yang warna-warni. “Biasanya sol hanya warna  cokelat dan hitam saja.

Selain itu, kenyamanan menjadi hal yang mutlak diperlukan. Misalnya untuk sol bisa dipilih sol dari karet. Apalagi bagi pasar di segmen menengah atas, kenyamanan dan  kualitas serta model sepatu sangat diperhatikan. Karena itu biasanya kelas menengah atas menyukai sepatu customized (sesuai selera konsumen).

Begitu pula dari bahan yang digunakan, biasanya dipilih bahan yang lebih berkualitas, misalnya jenis kulit suede asli bukan imitasi. Suede adalah kulit sapi yang dibalik dan disamak pada bagian dalamnya. Sehingga tampilannya bila dijadikan sepatu, kulit sepatunya akan seperti beludru, tetapi terlihat lebih bagus, santai dan mewah. Suede yang bahan dasarnya adalah kulit jelas memiliki daya tahan dan tampilan yang lebih baik dari kain beludru.

Modal Kecil

Memulai usaha sepatu slip on, sebenarnya tak harus dilakukan dengan modal yang besar. Jika targetnya adalah konveksi sepatu tentu modal untuk memulainya besar. Namun jika ingin menjalankan usaha penjualan sepatu slip on (produk impor) bisa menjadi reseller salah satu distributor sepatu slip on yang menerapkan sistem drop ship (reseller hanya mencari pembeli, barang akan dikirim oleh produsen atau distributor ke pembeli atas nama reseller) yang kini banyak diterapkan dalam bisnis online.

Sementara untuk pembuatan sepatu slip on, bisa dilakukan secara makloon atau menyerahkan proses pembuatannya kepada pengrajin yang sudah berpengalaman membuat produk sejenis. Dengan menerapkan sistem pembayaran uang muka sebesar 50% dari total harga sepatu, maka bisa memangkas biaya produksi sepatu.

Dengan begitu modal yang dikeluarkan untuk pertama kali juga tidak terlalu besar, karena hanya mengeluarkan biaya produksi yang dibayarkan kepada pengrajin (makloon) tanpa harus membeli cetakan sepatu, mesin jahit, mesin press, dan mesin lainnya yang digunakan dalam pembuatan sepatu. Seperti yang dilakukan oleh Joanne Fransisca, yang menjalankan usaha ini dengan cara makloon untuk setiap sepatunya.

Namun Bila ingin memproduksi sendiri, investasi yang diperlukan bisa sampai Rp 30 juta yang ia keluarkan untuk membeli berbagai peralatan seperti mesin jahit, mesin pres, mesin oven sepatu dan bahan baku seperti bahan denim, dan bahan kanvas.

Dalam memulai usaha ini yang harus diperhatikan, pelaku harus sering mengeluarkan model baru, dan mempunya ciri khas sendiri untuk mereknya sehingga membuat merek tersebut diingat oleh konsumen. Model baru bisa dilakukan setidaknya 1 bulan 2 kali atau seminggu sekali. Untuk referensi bisa melihat internet, acara TV, sepatu-sepatu yang dipakai model atau selebritis, maupun dari pesanan konsumen sendiri. Pelaku usaha juga sebaiknya membuat merek sendiri  agar lebih dikenal oleh konsumen.

Pemasaran

Bagi pelaku usaha pemula tidak selalu harus memiliki toko. Dengan memiliki jaringan sosial atau teman yang luas, saat ini sudah banyak yang menjual melalui online, WA groups, dan sejenisnya. Kalau memiliki toko tentu saja harus memiliki lokasi sesuai dengan target pasar yang dibidik. Kalau anak muda, pilih mal yang target pengunjungnya anak muda. Bagi pemula yang tidak memiliki modal banyak, bisa menggunakan sistem kemitraan atau menggunakan sistem konsinyasi dengan pihak pengelola mal. Barang dibayarkan setelah terjual atau memberi komisi kepada pihak mal.

Sementara bagi pemula yang menggunakan toko secara konvensional, tentu perlu memajang mode-mode terbarunya di rak paling depan atau di pintu masuk toko. Biasanya mode terbaru justru tidak didiskon karena sudah memberikan value gaya bagi konsumen. Namun bagi pemula yang memasarkan via online atau internet, memakai diskon tentu lebih menarik bagi konsumen karena konsumen tidak bisa mencoba lebih dulu.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah menawarkan langsung pada teman-teman, mengikuti acara-acara pameran, dan membuat sistem reseller. Dengan melakukan sistem pemasaran di atas, produk sepatu slip on ini bisa lebih dikenal luas.

Untung Diatas 60%

Dari beberapa pelaku usaha yang memproduksi sepeatu sendiri yakni Kael Slip On yang bisa menjual 150 sepatu dengan opset Rp 52,5 juta. Namun karena besarnya biaya operasioanal seperti membayar karyawan maka keuntungan yang diperoleh hanya 35%. Sementara itu keuntungan terbesar diperoleh pelaku usaha yang membeli sepatu slip on jadi lalu dilukis dengan perolehan keuntungan hingga 62%. Nah pilihan ada di tangan Anda, mau mmeproduksi sendiri, makloon atau membeli sepatu slip on jadi lalu berkreasi diatas sepatu dengan lukis dan sebagainya. Lebih lengkapnya simak halaman-halaman berikut ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.