Saat Menteri Ketenagakerjaan Dorong Mahasiswa Jadi Pengusaha, Bukan Pekerja

0
272
Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri dalam kuliah tamu bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Menciptakan Masyakarat Berkeadaban yang Mandiri, Kreatif dan Berdaya Saing Global" di Universitas Nurul Jadid (Unja), Kab. Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (26/8).

Berempat.com – Di dalam sebuah kesempatan berbicara di hadapan mahasiswa sebagai dosen tamu, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri tampak lebih mendorong mahasiswa agar kelak menjadi pengusaha, bukan pekerja. Sebab, dalam kuliah tersebut Hanif menilai bahwa dengan menjadi pengusaha maka mereka bisa lebih responsif dalam menghadapi perubahan.

“Agar memberikan konstribusi signifikan kepada masyarakat dan negara, mahasiswa dan para alumni hendaknya dibekali skill dan kompetensi untuk bisa bersaing di pasar kerja atau memulai wirausaha, “ ujar Hanif dalam kuliah tamu bertema “Peran Perguruan Tinggi dalam Menciptakan Masyakarat Berkeadaban yang Mandiri, Kreatif dan Berdaya Saing Global” di Universitas Nurul Jadid (Unja), Kab. Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (26/8).

Menurut Hanif, sebagai langkah awal agar Kabupaten Probolinggo bisa memperbanyak jumlah pengusaha, maka yang diperlukan adalah memperkuat keterampilan dan kompetensi sumber daya manusia yang dipunya. Dengan memperkuat dua hal tersebut Hanif yakin anak muda Probolinggo mampu bersaing di kemudian hari.

Alasan Hanif mendorong mahasiswa UNJA agar menjadi pengusaha lantaran masih sedikitnya jumlah pengusaha di Indonesia saat ini. Menurutnya, saat ini jumlah pengusaha di Indonesia baru mencapai 3,1% dari total jumlah penduduk yang berjumlah 263 juta jiwa. Jumlah yang kecil dibandingkan dengan negara tetangga.

Untuk Malaysia saja, Hanif menyebut jumlah pengusahanya sudah mencapai 5% dan Singapura 7%.

Padahal, imbuh Hanif, syarat untuk bisa menjadi negara yang makmur ialah harus meningkatkan jumlah pengusaha. Bukan justru membuat mahasiswa terlalu berorientasi menjadi PNS atau pekerja selulusnya nanti. Sehingga nantinya mereka terlalu mengandalkan ketersediaan lapangan pekerjaan yang ada.

“Artinya ada PR besar di republik ini bagaimana anak-anak muda ini didorong bukan sekedar punya skill untuk bekerja. Tetapi yang penting bagaimana punya skill untuk menciptakan lapangan kerja, “ tegas Hanif.

Bagi Hanif, agar bisa sukses menjadi pengusaha yang dibutuhkan hanyalah dua hal, yakni kreatif dan inovatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.