Pemerintah Diminta Fokus Produksi Vaksin Merah Putih, Bukan Vaksin Asing

0
31
(Dok: PakMul.id)

Jakarta – Universitas Airlangga menyerahkan bibit Vaksin Merah Putih kepada PT. Biotis Pharmaceutical. Serah terima bibit vaksin dilakukan secara simbolis dari Rektor Univesitas Airlangga Muhammad Nasih kepada Direktur PT Biotis, FX Sudirman di Aula Gedung Garuda Mukti pada Selasa (9/11), disaksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto menyambut baik prosesi serah terima bibit (seed) vaksin Merah Putih dari Universitas Airlangga kepada PT. Biotis Pharmaceuticals ini.

Serah terima ini menandakan proses uji praklinis Vaksin Merah Putih telah berjalan sukses. Untuk kemudian dilanjutkan dengan uji klinis tahap 1 hingga 3 oleh PT. Biotis Pharmaceuticals. BPOM dan WHO menyatakan siap mendampingi proses uji klinis ini hingga vaksin Merah Putih dapat diproduksi secara massal.

“Dengan serah terima bibit vaksin ini harusnya Pemerintah fokus memproduksi Vaksin Merah Putih hasil karya anak bangsa. Bukan malah mewacanakan dan mendukung pembangunan pabrik vaksin buatan asing di dalam negeri,” kata Mulyanto.

Sebelumnya diberitakan, bahwa Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan akan menggandeng perusahaan China untuk membangun pabrik vaksin di Indonesia.

Pemerintah akan memfasilitasi pendirian pabrik vaksin, yang berbasis mRNA tersebut dan direncanakan akan berproduksi pada bulan bulan April tahun 2022.

Mulyanto mengkritik langkah tersebut, karena seharusnya Pemerintah memprioritaskan produksi vaksin Merah Putih, apalagi para ahli kita mampu memproduksi vaksin tersebut.

“Kita mesti menggenjot, mengawal dan memproduksi Vaksin Merah Putih hasil riset anak bangsa dengan berbagai kebijakan dan insentif, yang mungkin, bukan malah mempromosikan pembangunan pabrik vaksin asing di Indonesia.

Ini terkesan asing minded. Dan rela pasar domestik kita, yang besar ini, digerogoti oleh pabrik vaksin asing. Ini soal jiwa merah putih dan kedaulatan teknologi kita.

Sebagai bangsa yang berdaulat kita harus terus berjuang mengembangkan kemampaun teknologi dan inovasi domestik untuk memproduksi dan menjaga pasar dalam negeri.

Bahkan kalau vaksin Merah Putih ini berlebih, dapat kita ekspor ke berbagai negara yang membutuhkan. Ini akan menjadi sumber devisa baru bagi negara,” ujar Mulyanto.

Menurut Mulyanto, dalam Konsorsium Riset Covid-19, yang dikoordinasikan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), ada 11 platform riset vaksin Merah Putih yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM.

Riset Vaksin Merah Putih berbasis platform virus yang dimatikan (inactivated virus), yang dimotori Universitas Airlangga, adalah platform riset yang paling progresif.

Bila uji klinis tahap 1-3 berjalan lancar, maka diperkirakan EUA (emergency use authority) Vaksin Merah Putih dari BPOM akan keluar pada bulan Maret 2022, untuk kemudian diproduksi massal bekerja sama dengan PT. Biotis Pharmaceuticals.