Kemampuan Serap Gabah Petani Menurun, Bulog Malah Impor Beras Khusus

0
12

Jakarta – Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI bersama Ketua Bulog dan jajarannya dalam rangka evaluasi dan monitoring kinerja Bulog. di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta (30/8/2021).

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menyoroti rendahnya realisasi pengadaan gabah oleh Bulog yang persentase  serapan selalu menurun setiap tahun. Menurutnya sejak 2017 hingga sekarang kurva penyerapan Bulog menunjukkan trend penurunan. Padahal, mestinya Bulog mampu optimalkan penyerapan terutama pada bulan Maret sampai Juni yang selama ini persentase serapannya hanya berkisar 50-65 persen terhadap total serapan per tahun.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Dirut Perum Bulog Budi Waseso ini, Legislator Fraksi PKS Slamet mencecar pertanyaan kepada Buwas soal importasi beras khusus yang dilakukan pemerintah dan dinilai sangat merugikan rakyat kecil terutama petani.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), adanya impor beras khusus sebanyak 41,6.000 ton dengan nilai 18,5 juta dolar AS per Juli 2021. Slamet mengatakan, pemerintah mengelak adanya importasi beras. Dan dalam kesempatan RDP dengan Bulog itu Slamet menanyakan status Kementerian Perdagangan apakah tidak termasuk bagian dari pemerintahan Presiden Jokowi.

“Saya menanyakan kepada pak Buwas kalo beras khusus itu legal apa ilegal?,” kata Slamet, dan Dirut Bulog pun menjawab ‘legal’. Ia menyampaikan, Presiden Jokowi memastikan bahwa di tahun 2021 ini tidak ada impor beras namun datanya menunjukkan adanya impor beras.

“Jangan sampai pemerintah ini hanya memilah-milah data yang faktanya ada impor tapi dikatakan tidak ada impor, saya sampaikan di meja yang terhormat ini agar datanya clear,” imbuhnya.

Mau disebut apa saja, kata Slamet beras yang sudah masuk ke wilayah Indonesia secara legal, itu artinya beras impor. “Jangan sampai pemerintah mengingkari,” tandasnya.