Bisnis Penyewaan Alat Fotografi Moncer Selama Pandemi

0
67
Bisnis pre wedding (dok bisnisfotografi21.blogspot.com)

Selama pandemi kebutuhan rapat, seminar hingga wisuda online meningkat tajam. Tak heran jika bisnis penyewaan alat-alat fotografi mengalami peningkatan.

Menurut Nurul Fajar, pemilik Rental Kamera.Com di Jl.Salak No.6 Bogor, hampir 70% peralatan fotografi digunakan penyewa untuk kebutuhan dokumentasi wedding dan ada beberapa yang mengggunakan untuk membuat video klip. Umumnya para penyewa perorangan, bukan dari kalangan perusahaan. Selain itu bisa pula dari kalangan pemilik studio foto, mengingat di akhir pekan kadang-kadang ada beberapa studio foto kekurangan peralatan karena order meningkat.

Modal Bagi Pemula. Memulai usaha ini tentu saja harus atas dasar hobi. Karena itu, paling tidak pelaku usaha cukup memahami mengenai peralatan fotografi termasuk cara mengoperasikan alat dan pemeliharaannya yang bisa dipelajari secara otodidak dari fotografer atau melalui kursus.

Bagi usaha pemula bisa memulai dengan modal kecil terlebih dahulu dengan menyasar target pasar kalangan perorangan para fotografer profesional, amatir atau hobiis. Menurut fotografer senior Darwis Triadi, cukup dengan modal Rp 50 juta hingga Rp 100 juta sudah bisa merintis usaha ini untuk membeli peralatan seperti lampu studio, kamera dan lensa. Pelaku juga harus pintar mengambil celah pasar dengan menyediakan peralatan yang banyak diminati oleh penyewa.

Hendaknya dalam menjalankan bisnis ini pelaku usaha menganggap bahwa peralatan yang disewakan dalam bisnis ini adalah sebuah barang investasi, bukan jenis barang yang cepat habis, sehingga nilainya hanya turun berdasarkan harga pasar.

Menurut Nurul Fajar di sinilah perlunya memasukkan biaya penyusutan dalam tarif sewa yang berguna jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan pada alat. Menghadapi kondisi kerusakan alat, bila kerusakan tidak disebabkan oleh kesalahan selama penggunaan sebaiknya pelaku usaha tidak perlu minta ganti kepada penyewa, karena bisa jadi peralatan tersebut memang sistemnya yang rusak dan tidak ada bekas jatuh atau kesalahan penggunaan.

Pelaku usaha bisa mengantisipasi kondisi tersebut dengan memasukkan biaya penyusutan dan biaya servis ke dalam tarif sewa, misalnya sebesar 10% dari tarif sewa. Biaya penyusutan dan servis ini juga harus melihat jenis alatnya, misalnya untuk lensa biaya penyusutannya lebih sedikit dibandingkan kamera mengingat harga jual lensa relatif stabil, misalnya harga tahun ini Rp 20 juta, dalam 2 tahun mendatang masih bertahan di harga tersebut atau berkurang sedikit. Karena itu, sebaiknya alat yang dibeli dalam kondisi masih baru sehingga pemilik tahu track record penggunaan alat tersebut. Meski begitu bisa pula membeli peralatan seken, namun harus mengetahui persis kondisinya, jangan sampai baru dibeli kemudian cepat rusak.

Dalam menentukan tarif sewa sebaiknya juga berdasarkan jenis peralatan dan kualitas mereknya atau harganya, namun secara umum tarif sewa kamera biasanya lebih mahal dibandingkan lensa atau aksesorisnya karena paling cepat harus diganti.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah memperhatikan masa penggantian peralatan fotografi. Misalnya untuk kamera sudah saatnya diganti dengan melihat hitungan berapa kali kamera mengambil gambar (shutter count), dan rata-rata setelah 150 ribu kali bisa diganti dengan yang baru. Atau setelah 1-2 tahun pemakaian sebaiknya diganti dan kamera yang lama bisa dijual lagi. Dengan memperhatikan kondisi peralatan fotografi secara baik, tentu sangat menunjang perkembangan usaha, mengingat bila alat yang disewa ternyata mengalami kerusakan pada saat akan memotret event penting tentu akan membuat kecewa penyewa dan turut berdampak pada nama baik usaha.

Karena itu saat serah terima peralatan yang akan disewa sebaiknya dicek terlebih dahulu kondisinya lalu diserahkan ke penyewa untuk dicek di tempat terlebih dahulu. Bila perlu disertakan juga surat jalan atau inventory bahwa penyewa sudah menerima peralatan dalam kondisi baik, sehingga nantinya tidak ada komplain.
Hindari Risiko. Sebaiknya pelaku usaha memperkenalkan jasa lewat orang-orang yang dikenal terlebih dahulu, untuk menghindari risiko penipuan. Selain itu untuk menyiasati modus-modus penipuan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain bila penyewa belum tentu dikenal, pelaku usaha harus menyediakan kru pengawal alat atau disebut juga asisten yang mengantar dan mengawasi penggunaan alat. Jadi tidak cukup jika hanya menggunakan kartu identitas saja. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menetapkan aturan deposit sesuai harga barang yang disewa, misalnya untuk kamera second seharga Rp 5 juta, maka penyewa harus melakukan deposit sebesar Rp 5 juta juga berupa uang atau barang dan akan dikembalikan jika peralatan selesai disewa.

Persyaratan tersebut tentu saja sangat tergantung pada pemilik usaha sendiri. Menurut Nurul Fajar, pelaku usaha yang masih baru merintis usaha biasanya menetpkan persyaratan yang jauh lebih ringan, hanya dengan KTP dan KK saja, tanpa ada jaminan deposit, namun tentu saja secara perhitungan hal itu terlalu berisiko.

Dengan sedikit pengetahuan mengenai operasional peralatan fotografi, bisnis penyewaan peralatan fotografi memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan. Sebagai gambaran dari harga pembelian kamera kondisi baru Rp 20 juta, jika disewakan minimal 1 minggu 2 kali atau 8 kali dalam 1 bulan dengan tarif Rp 400 ribu, maka dalam 1 tahun bisa meraih omset Rp 38,4 juta. Itu baru dari satu alat saja. Seperti halnya Ananda Citra, Pemilik Raja Sewa Kamera yang bisa meraup omset hingga Rp 70 juta per bulan dengan keuntungan hingga 57% dan balik modal setelah 4 bulan usahanya berjalan. Jika Anda ingin menjalankan bisnis yang peluangnya masih terbuka lebar ini, berikut Peluang Usaha sajikan ulasan lebih jauh mengenai kiprah pengusaha yang telah sukses di bisnis ini, hingga panduan merintis usaha, info peralatan, tips usaha hingga kursus.