Mengulik Bisnis Selebritas

foto: Instagram/@yunshara36

Berkarier di dunia showbiz tentu menghasilkan pundi-pundi yang tidak sedikit. Meski begitu, hal ini tidak membuat para artis berpuas diri. Mereka memutuskan membangun usaha masing-masing sebagai bekal masa depan.

Para public figure ini menyadari bahwa karier di dunia entertainment tidak selamanya bertahan. Karena itu mereka merintis ragam usaha, mulai dari kuliner, biro perjalanan, usaha karaoke, hotel, alat kesehatan hingga bisnis batubara. Seperti apa para artis mengelola bisnisnya?

Glamour dunia hiburan tidak membuat para selebriti terlena. Karier di dunia hiburan saja tidak cukup. Karena itu, mereka menemukan passion baru dengan terjun ke dunia usaha.

Lakukan Pembeda.  Meski umumnya para artis ini merupakan pemain baru di dunia bisnis, keinginan untuk belajar membuat mereka bisa membuat produk yang unik sehingga bisa bersaing dan bertahan di tengah gempuran produk sejenis di pasaran. Seperti yang dilakukan Ferry Salim, sejak tahun 2011 merintis restoran Shabu Slim yang menyajikan berbagai menu makanan dan minuman, namun dengan spesialisasi menu Shabu-Shabu dan Sushi.

Disadari Ferry, restoran yang menawarkan makanan sejenis telah menjamur di pasaran. Karena itu, agar makanan yang dijual banyak peminat, ia melakukan pembeda.

“Konsepnya berbeda sekali. Karena kita mempunyai Shabu Bar, untuk Single Compact. Kemudian Conveyor Belt saya terpanjang, ini mencapai 70 meter. Kemudian restoran saya ini adalah restoran pertama yang membatasi orang makan, hanya boleh 1,5 jam. Lalu untuk anak-anak bukan saya ukur dari umur, untuk harga anak saya ukur dari tinggi badan, di bawah 120 cm saya hitung harga anak-anak. Kemudian untuk dekorasinya saya buat modern, kelihatannya anak muda,” tutur Ferry. Dengan menghadirkan hal yang berbeda, kini ia memiliki 3 gerai di Jakarta.

Tak hanya Ferry, langkah pembeda lain dilakukan Sahrul Gunawan juga patut dicontoh. Sahrul merintis usaha Travel Haji dan Umroh Avi Tour sejak tahun 2005. Setelah merintis selama satu dekade, ia mampu membangun 30 travel agent yang tersebar di berbagai kota/kabupaten di Indonesia. Hal inilah yang membuat Avi Tour mampu membawa 3.000 jamaah setiap tahun ke Tanah Suci. Apa kunci suksesnya?

“Pelayanan. Karena itu, saya lebih mengontrol di layanan yang kecil-kecil tapi itu berpengaruh di besar dengan kepuasaan konsumen. Misal ternyata di lapangan itu jamaah makan itu menggunakan piring plastik bukan piring makan seperti biasanya. Kalau terjadi seperti itu kan jamaah bisa foto dan upload ke sosial media dan itu bisa buat jelek nama saya juga. Makanya saya harus benar-benar kontrol semua itu,” ujar Sahrul.

Senada dengan Sahrul, Inul pun menegaskan bahwa bisnis yang dijalankannya tak mengandalkan nama beken semata.

“Bisnis itu harus ada sesuatu yang baru. Inul Vizta itu selalu ada inovasi-inovasi baru yang saya bangun. Misalnya saya bikin di Central Park seperti lukisan 3G jadi orang bisa berfoto, jadi nggak cuma datang nyanyi saja. Itu kita taruhnya di lobi, ternyata sukses karena banyak yang suka. Selain karena ini tempat orang datang untuk bernyanyi, istilahnya orang suaranya kayak Juminten, begitu masuk ke tempat saya suaranya jadi kayak Mariah Carey itu kan orang senang makanya audionya salah satu yang utama, juga desain interiornya harus sering diganti. Kalau ada orang yang complain, sekecil apapun harus diperbaiki. Karena itu untuk kemajuan bisnis kita ke depan,” ucapnya.

Tak jauh berbeda dengan Inul, bagi Bams, dalam menekuni dunia usaha, pelayanan merupakan kata kunci agar bisnis bisa berkembang.

“Cuma yang saya jaga hanya satu sih, walaupun itu simple tapi itu sangat penting, yaitu pelayanan terhadap klien, pokoknya service kita ke klien itu kayak raja deh. Itu sih kuncinya kalau dari saya ya. Soalnya kalo tentang strategi atau apa saya tidak kepikiran. Yang penting sebagaimana mungkin saya memberikan pelayanan yang nilainya lebih tinggi dari bisnis orang lain sih,” tegas Bams.

Langkah Antisipatif. Para artis yang terjun di dunia bisnis menyadari bahwa setiap usaha memiliki kendala dan risiko . Seperti yang dialami Yuni Shara. Ia menyadari bahwa menekuni bisnis batu bara bukan tanpa risiko. Karena itu, Yuni yang tidak memiliki pengalaman terjun di bisnis pertambangan memutuskan memiliki tim yang solid.

“Karena memiliki tim yang bagus, meski keuntungan berkurang 10-15% saya masih bisa bertahan,” terang Yuni. “Saya juga punya konsultan yang setiap saat memberikan masukan-masukan. Kena dampaknya (kenaikan Dolar) sih iya tapi gak sampe parah,” kata Yuni.

Sementara itu, Ferry menyadari Rupiah terus melemah, berusaha mengantisipasi dengan memperketat pengeluaran. Mulai dari uang lembur karyawan, pengiritan pemakaian listrik, pengetatatan uang transportasi serta menghentikan biaya promosi. Dengan langkah ini diharapkan masih bisa memperoleh keuntungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.