Top Mortar tkdn
Home Bisnis Fenomena Miliarder Beli Tim Olahraga Kian Marak, Valuasi Klub Terus Melonjak

Fenomena Miliarder Beli Tim Olahraga Kian Marak, Valuasi Klub Terus Melonjak

0
Fenomena Miliarder Beli Tim Olahraga Kian Marak, Valuasi Klub Terus Melonjak (Foto/Pertandingan NBA)

Fenomena Miliarder Beli Tim Olahraga semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Deretan transaksi bernilai miliaran dolar menunjukkan bahwa klub olahraga kini dipandang sebagai aset langka dengan potensi kenaikan valuasi jangka panjang, terutama ketika dunia bisnis mulai menghadapi ketidakpastian akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Minat investor kelas kakap terhadap industri olahraga tidak hanya didorong gengsi. Jumlah tim profesional yang terbatas, basis penggemar yang loyal, serta nilai hak siar yang terus meningkat membuat kepemilikan klub menjadi rebutan. Ketika jumlah calon pembeli bertambah sementara aset yang tersedia tetap sedikit, harga tim pun terdorong naik.

Mengutip CNN, Jumat (28/8/2026), bankir investasi spesialis transaksi tim olahraga Sal Galatioto menilai klub profesional memiliki daya tahan tersendiri terhadap disrupsi teknologi. Menurutnya, sebuah tim dengan sejarah dan basis pendukung kuat dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan banyak perusahaan yang saat ini dianggap dominan.

Galatioto, yang telah puluhan tahun menangani transaksi penjualan tim atau saham klub, mengatakan kesibukan di sektor ini justru semakin meningkat. Ia melihat banyak pembeli tidak menjadikan arus kas sebagai tujuan utama.

Menurutnya, kepemilikan tim lebih dekat dengan investasi pada aset langka, layaknya karya seni. Nilai jangka panjang, prestise, serta kelangkaan menjadi pertimbangan utama. Dalam konteks perkembangan AI yang berpotensi mengubah banyak model bisnis, tim olahraga dianggap sebagai salah satu aset yang relatif sulit digantikan teknologi.

Miliarder Beli Tim Olahraga dan Valuasi Klub Terus Melonjak

Profesor ekonomi College of the Holy Cross sekaligus pakar bisnis olahraga Victor Matheson mengatakan banyak sektor yang juga mampu bertahan dari dampak AI. Namun, kepemilikan tim olahraga menawarkan daya tarik yang berbeda karena memiliki unsur emosional dan status sosial.

Tren Miliarder Beli Tim Olahraga terlihat dari sejumlah transaksi besar sepanjang tahun ini. Mantan CEO Disney Bob Iger bersama investor Josh Kushner dikabarkan sepakat membeli saham pengendali Los Angeles Lakers dalam kesepakatan yang menilai klub NBA tersebut sekitar US$12,5 miliar.

Fenway Sports Group, pemilik Boston Red Sox, juga dilaporkan melepas 40 persen kepemilikan Liverpool kepada konsorsium yang melibatkan pendiri Amazon Jeff Bezos. Di Major League Baseball, San Diego Padres berpindah tangan dalam transaksi sekitar US$3,9 miliar.

Nilai tersebut melampaui pembelian New York Mets oleh Steve Cohen senilai US$2,4 miliar pada 2020. Sementara itu, penjualan Seattle Seahawks dilaporkan mendekati US$9,6 miliar. Minnesota Timberwolves dan Minnesota Lynx juga mencatat transaksi sekitar US$4,5 miliar.

Yankees turut menarik minat investor besar setelah Apollo Global Management menyuntikkan dana US$2,6 miliar untuk memperoleh kepemilikan minoritas.

Kepala kelompok hukum olahraga Herrick Feinstein, Irwin Kishner, melihat masuknya modal ventura sebagai sinyal bahwa investor semakin percaya terhadap prospek aset olahraga. Valuasi klub yang terus meningkat membuat sektor ini menarik bagi investor institusional.

Faktor lain yang memperkuat tren Miliarder Beli Tim Olahraga adalah perubahan industri media. Siaran pertandingan langsung masih menjadi konten yang mampu menarik penonton secara bersamaan, bahkan ketika kebiasaan konsumsi hiburan bergeser ke layanan on-demand.

Masuknya platform seperti Amazon, Apple, dan Netflix dalam persaingan hak siar ikut menaikkan nilai konten olahraga. Selain itu, pertumbuhan taruhan olahraga di Amerika Serikat juga memperbesar keterlibatan penonton.

Bagi investor, kombinasi kelangkaan aset, loyalitas penggemar, hak siar, dan pertumbuhan ekosistem digital menjadikan klub olahraga sebagai investasi yang semakin sulit diabaikan.

Exit mobile version