Sektor Industri Drop, Pertumbuhan Ekonomi Memburuk

0
723

Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia triwulan I 2019 tumbuh sebesar 5,07 persen year on year (yoy). Capaian pertumbuhan ekonomi ini lebihrendah dari triwulan sebelumnya (triwulan IV 2018) yang tumbuh sebesar 5,18 persen yoy, meskipun sedikit lebih tinggi dari triwulan I 2018 (5,06 persen yoy).

Peneliti senior Indef Enny Sri Hartati menegaskan kualitas pertumbuhan Indonesia memburuk. Triwulan I 2019 sebenarnya pengeluaran Lembaga Non Pemerintah naik sampai 16%. Pengeluaran Pemerintah masih 18% tapi belanja-belanja yang langsung dinikmati oleh masyarakat seperti dana bantuan sosial sebenarnya bisa mendorong daya beli masyarakat. Namun berbagai macam potensi pengeluaran yang terjadi di tahun politik dan berbagai macam percepatan alokasi anggaran yang langsung dinikmati masyarakat sama sekali tidak menggerakkan sektor produktif.

“Itu persoalannya. Kalau kita lihat semua komponen yang bergerak di triwulan I 2019 adalah sektor konsumtif.  Pertumbuhan sektor industri kita sangat drop di bawah 4% dan ini terendah. Pertumbuhan sektor industri seburuk-buruknya masih sekitar 4%, faktanya di triwulan I 2019 hanya 3,86%. Ini tidak sekadar persoalanbiasa, karena bagaimana kita bermimpi di triwulan II, triwulan III dan triwulan IV 2019 nanti akan ada perbaikan?. Kuncinya adalah sektor produktif. Kalau sektor produktif ini lemah maka tidak akan berkelanjutan,” terangnya di acara Press Conference “Jalan Terjal Target Pertumbuhan: Respon Perkembangan Ekonomi Triwulan I” di Jakarta pada Rabu (08/05/2019).

Ia menilai Pemerintah selalu mengkambinghitamkan sektor global seperti harga komoditas, padahal sektor eksternal hanya 20% perannya. Ia menegaskan bahwa sumber utama pertumbuhan ekonomi kita justru berada di dalam negeri.

“Golden momen investasi seharusnya bisa dinikmati Indonesia. Dampak dari perang dagang membuat aliran investasi lari ke emerging market dan itu sudah dinikmati oleh Vietnam, Thailand dan Malaysia. Bank Indonesia mengatakan pertumbuhan ekonomi terjaga, kalau itu terus yang kita anggap kebenaran maka pertumbuhan 5%-an ini tidak akan pernah beranjak naik. Secara global, sebagian besar negara yang mengalami perlambatan pertumbuhan itu sangat tergantung kepada market. Indonesia basis pertumbuhannya adalah sumberdaya, artinya ketika pertumbuhan ekonomi hanya di 5%an jangan lagi-lagi mengkambinghitamkan faktoreksternal, tetapi inilah bentuk ketidakmampuan pemerintah dalam mengoptimalkan sumber pertumbuhan dalam negeri kita,” jelasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.