
Rupiah Makin Loyo terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda kembali berada dalam tekanan setelah sejumlah sentimen global memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Pelemahan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah 35 poin ke posisi Rp17.880 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.845 per dolar AS. Selama sesi perdagangan berlangsung, mata uang domestik bahkan sempat terkoreksi hingga 55 poin sebelum akhirnya menutup hari di level tersebut.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih didominasi faktor eksternal. Menurutnya, investor global masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Selain itu, pasar juga menunggu kepastian terkait kebijakan moneter Amerika Serikat yang hingga kini masih menjadi perhatian utama pelaku keuangan global. Kombinasi faktor tersebut membuat pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih rentan.
Rupiah Makin Loyo Dipengaruhi Geopolitik dan Suku Bunga AS
Ibrahim menjelaskan bahwa kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil turut memengaruhi sentimen pasar. Meskipun upaya diplomasi dan pembahasan perdamaian di Timur Tengah mulai menunjukkan perkembangan positif, risiko terhadap pasokan energi global masih belum sepenuhnya hilang.
Pasar minyak dunia juga bergerak cukup fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir. Harga minyak sempat menguat setelah muncul laporan mengenai aktivitas militer baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Namun penguatan tersebut kemudian mereda setelah optimisme terhadap proses negosiasi kembali muncul.
Rupiah Makin Loyo karena investor masih melihat adanya risiko geopolitik yang dapat memengaruhi jalur perdagangan energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute penting distribusi minyak global.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi ekonomi Amerika Serikat. Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih berada di level tinggi, sehingga memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut biasanya membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
Selain inflasi, data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2026 hanya mencapai 1,6 persen, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 2 persen. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan juga meningkat menjadi 215 ribu.




