Top Mortar tkdn
Home Ekonomi Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu

Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu

0
Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Konflik Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu (Foto Ilustrasi)

Pergerakan Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis siang, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen domestik yang belum sepenuhnya stabil. Mata uang Garuda tercatat melemah cukup tajam, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap sejumlah faktor eksternal dan internal yang saling berkelindan.

Berdasarkan data pasar, Nilai tukar rupiah turun 123 poin atau sekitar 0,72 persen ke posisi Rp17.304 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 13.32 WIB. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.181 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan tersebut tidak terlepas dari memanasnya situasi geopolitik global, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran. Ia menjelaskan bahwa kegagalan perundingan antara kedua negara menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurutnya, pertemuan yang difasilitasi oleh Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan karena Iran memilih tidak hadir. Keputusan tersebut dipicu oleh tindakan AS yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk insiden penangkapan kapal tanker Iran di kawasan Selat Hormuz.

Tekanan Global dan Lonjakan Harga Energi

Situasi geopolitik yang memanas membuat Iran disebut-sebut siap menghadapi konflik berkepanjangan. Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global, yang pada akhirnya turut menekan Nilai tukar rupiah.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan, dengan Brent mencapai kisaran 103 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 98 dolar AS per barel. Kenaikan ini memberi tekanan tambahan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dalam jumlah besar.

Dalam kondisi tersebut, kebutuhan impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari menjadi faktor krusial. Sementara total kebutuhan minyak nasional berada di kisaran 2,1 juta barel per hari, sehingga selisihnya harus dipenuhi melalui impor dengan biaya yang semakin tinggi.

Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran negara, terutama ketika harga energi global terus meningkat. Tekanan dari sisi eksternal ini menjadi salah satu faktor yang memperburuk pergerakan Nilai tukar rupiah di pasar.

Beban Domestik Tambah Tekanan Rupiah

Selain faktor global, tekanan terhadap Nilai tukar rupiah juga datang dari dalam negeri. Salah satunya terkait dengan utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo dalam jumlah besar, yang dinilai memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi turut memberikan dampak terhadap kondisi fiskal. Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite membuat beban subsidi meningkat, terutama di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Untuk menutup kebutuhan tersebut, pemerintah diperkirakan harus melakukan penyesuaian anggaran, termasuk mengalihkan dana dari sektor lain. Langkah ini berpotensi memperlebar defisit fiskal jika tidak diimbangi dengan penerimaan yang memadai.

Lebih lanjut, lembaga internasional seperti International Monetary Fund juga mengingatkan agar Indonesia lebih berhati-hati dalam memberikan subsidi terhadap komoditas tertentu. Kebijakan subsidi yang terlalu besar dinilai dapat memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas ekonomi, termasuk pada Nilai tukar rupiah.

Exit mobile version