Top Mortar tkdn
Home Ekonomi Kurs Rupiah Setelah Lebaran Naik Tipis, Sentimen Global Masih Mendominasi

Kurs Rupiah Setelah Lebaran Naik Tipis, Sentimen Global Masih Mendominasi

0
Kurs Rupiah Setelah Lebaran Naik Tipis, Sentimen Global Masih Mendominasi (Foto/CNBC Indonesia)

Pergerakan Kurs Rupiah Setelah Lebaran menunjukkan penguatan tipis pada awal perdagangan usai libur panjang Idulfitri 2026. Meskipun demikian, tekanan dari faktor global masih membayangi pergerakan mata uang Garuda dalam jangka pendek.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu, 25 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.895 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga pukul 09.57 WIB. Angka tersebut menguat sekitar 2,5 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.897,5 per dolar AS. Sementara itu, data dari Yahoo Finance menunjukkan posisi yang sedikit berbeda, yakni di kisaran Rp16.978 per dolar AS.

Meski menguat, tren Kurs Rupiah Setelah Lebaran diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa pergerakan rupiah berpotensi melemah dalam rentang perdagangan harian. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah dapat bergerak di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS.

Tekanan Global Masih Dominan

Pergerakan Kurs Rupiah Setelah Lebaran tidak lepas dari pengaruh kondisi global yang masih bergejolak. Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah gangguan distribusi minyak mentah di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak global. Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah, baik Brent maupun crude oil, yang masing-masing mengalami kenaikan signifikan sejak konflik berlangsung. Kenaikan harga energi ini pada akhirnya memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, kebijakan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz juga turut memengaruhi sentimen pasar. Iran disebut masih membatasi jalur tersebut, khususnya bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Hal ini memperpanjang ketidakpastian dan menjaga tekanan terhadap Kurs Rupiah Setelah Lebaran.

Faktor Domestik Ikut Berperan

Di dalam negeri, pemerintah juga menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas ekonomi, khususnya terkait pengelolaan defisit anggaran. Pemerintah tengah mengkaji langkah-langkah strategis agar defisit tetap berada di bawah ambang batas 3 persen terhadap produk domestik bruto.

Upaya tersebut dilakukan dengan menekan pengeluaran yang dinilai kurang prioritas, sekaligus menjaga keseimbangan fiskal di tengah tekanan eksternal. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi persepsi pasar terhadap Kurs Rupiah Setelah Lebaran.

Dengan kombinasi tekanan global dan penyesuaian kebijakan domestik, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan bergerak dinamis dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar pun diharapkan tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi sebagai acuan dalam mengambil keputusan.

Meski sempat menguat, arah Kurs Rupiah Setelah Lebaran masih bergantung pada stabilitas global dan respons kebijakan pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi nasional.

Exit mobile version