Penghentian sementara perdagangan saham kembali terjadi setelah IHSG Kena Trading Halt untuk kedua kalinya dalam waktu berdekatan. Pemerintah menilai kondisi tersebut lebih dipicu oleh reaksi sesaat pelaku pasar dan bukan mencerminkan pelemahan mendasar pada ekonomi nasional. Tekanan yang muncul diperkirakan bersifat sementara dan tidak berlangsung dalam jangka panjang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kejadian IHSG Kena Trading Halt merupakan efek kejut atau shock akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap sejumlah sentimen global. Menurutnya, gejolak tersebut diperkirakan hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga hari sebelum kembali mereda.
Ia menjelaskan bahwa pasar saham Indonesia kerap dipersepsikan sebagai pasar frontier, sehingga lebih sensitif terhadap isu eksternal maupun perubahan persepsi investor global. Meski demikian, Purbaya menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat dan tidak menunjukkan tanda-tanda pelemahan struktural.
Selain itu, ia kembali mengingatkan tentang pergerakan saham-saham spekulatif yang selama ini menjadi sorotan regulator. Saham dengan volatilitas tinggi dinilai paling rentan terdampak ketika tekanan pasar meningkat, sehingga ikut mendorong penurunan tajam indeks.
Tekanan Pasar Dinilai Tidak Cerminkan Fundamental Ekonomi
Menurut Purbaya, gejolak yang terjadi saat IHSG Kena Trading Halt tidak mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Ia menilai saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil di tengah volatilitas.
Ia juga menyarankan agar investor tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan jangka pendek. Fokus pada saham dengan fundamental kuat dinilai menjadi strategi yang lebih aman dalam menghadapi dinamika pasar yang fluktuatif.
Sebagaimana diketahui, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham pada Kamis pagi sekitar pukul 09.26 WIB melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS). Langkah ini diambil setelah IHSG mengalami penurunan tajam hingga mencapai batas 8 persen.
Pada saat penghentian dilakukan, IHSG tercatat turun 665,89 poin atau melemah 8,00 persen ke level 7.654,66. Perdagangan kemudian kembali dibuka pada pukul 09.56 WIB tanpa perubahan jadwal sesi perdagangan yang telah ditetapkan.
Sentimen MSCI dan Optimisme IHSG ke Depan
Purbaya menilai tekanan pasar saham kali ini juga dipengaruhi oleh sentimen terkait evaluasi indeks yang dilakukan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Evaluasi tersebut mencakup aspek transparansi dan tata kelola bursa efek Indonesia.
Ia menyebut catatan dari MSCI akan ditindaklanjuti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas sektor keuangan. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Meski IHSG Kena Trading Halt terjadi hingga dua kali, Purbaya tetap optimistis terhadap prospek pasar saham Indonesia. Ia meyakini IHSG masih memiliki ruang penguatan dan berpeluang menembus level 10.000 pada akhir 2026, seiring membaiknya sentimen dan stabilitas ekonomi nasional.
Ia menegaskan bahwa volatilitas merupakan bagian dari siklus pasar. Selama fundamental ekonomi tetap terjaga, tekanan jangka pendek dinilai tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan oleh pelaku pasar.





