BI Soroti Tingginya Undisbursed Loan, Kredit Perbankan Masih Lesu

0
56
BI Soroti Tingginya Undisbursed Loan, Kredit Perbankan Masih Lesu
BI Soroti Tingginya Undisbursed Loan, Kredit Perbankan Masih Lesu (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Laju pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 tercatat belum mampu menyamai capaian tahun sebelumnya. Bank Indonesia (BI) menilai perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh faktor permintaan, khususnya dari dunia usaha yang masih bersikap hati-hati dalam mengambil pembiayaan baru. Kondisi tersebut mencerminkan sikap wait and see pelaku ekonomi di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi domestik.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menjelaskan bahwa banyak perusahaan menunda ekspansi usaha yang membutuhkan tambahan kredit perbankan. Pelaku usaha dinilai masih mempertimbangkan risiko serta prospek ekonomi ke depan sebelum menambah kewajiban pembiayaan dari perbankan.

“Memang masih perlu dorongan lebih lanjut. Faktor dari sisi permintaan maupun penawaran sama-sama memengaruhi. Pertumbuhan kredit belum sekuat tahun lalu,” ujar Solikin dalam Taklimat Media di Kantor Bank Indonesia, Senin (22/12/2025).

Sikap kehati-hatian tersebut tercermin dari masih tingginya nilai komitmen kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan. Banyak korporasi sebenarnya telah mengantongi persetujuan pinjaman, namun memilih menunda pencairan karena strategi pembiayaan masih mengandalkan kas internal.

PT Mitra Mortar indonesia

Solikin menyebut, selama dana internal masih mencukupi dan biaya pendanaan eksternal dinilai relatif tinggi, penggunaan kredit perbankan belum menjadi prioritas. Perusahaan memilih menjaga likuiditas dan fleksibilitas keuangan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Permintaan Kredit Masih Tertahan dari Dunia Usaha dan Rumah Tangga

Selain dari sektor korporasi, permintaan kredit dari rumah tangga juga belum menunjukkan lonjakan berarti. BI menilai keputusan masyarakat untuk mengambil kredit sangat dipengaruhi oleh keyakinan terhadap pendapatan di masa depan, yang hingga kini masih berada pada level moderat.

“Keputusan rumah tangga untuk mengambil kredit sangat bergantung pada ekspektasi penghasilan ke depan. Dari hasil survei, keyakinan tersebut belum cukup kuat, sehingga konsumsi berbasis kredit masih tertahan,” jelas Solikin.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan telah menyediakan berbagai insentif likuiditas untuk mendorong penyaluran kredit perbankan. Namun, sebagaimana disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam berbagai kesempatan, dorongan dari sisi pasokan tidak akan efektif tanpa penguatan permintaan dari sektor riil.

“Likuiditas sudah kami sediakan, insentif juga banyak. Tetapi kalau tidak diserap oleh permintaan, dampaknya tentu terbatas,” ujar Solikin menegaskan kembali pandangan pimpinan BI.

Di luar faktor permintaan, BI juga mencermati masih tingginya biaya dana perbankan. Persaingan ketat dalam menghimpun dana pihak ketiga membuat bank menawarkan suku bunga simpanan khusus kepada nasabah besar. Kondisi ini mendorong naiknya cost of fund, sehingga ruang penurunan suku bunga kredit menjadi semakin sempit.

Praktik tersebut, menurut BI, secara langsung memengaruhi biaya penyaluran pinjaman. Ketika biaya penghimpunan dana tinggi, perbankan akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit perbankan, terutama pada segmen yang dinilai berisiko.

Ke depan, Bank Indonesia menilai stabilitas ekonomi, perbaikan ekspektasi dunia usaha dan rumah tangga, serta pengendalian biaya dana menjadi faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih sehat dan berkelanjutan.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan