Risiko Perang Dagang Global bagi Indonesia Masih Lebih Rendah Dibanding Negara Lain

0
338
Ilustrasi. (Pexels.com/Julius Silver)

Berempat.com – Kondisi perdagangan global masih menunjukkan ketidakpastian. Perang dagang yang digalakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum juga surut. Bahkan, pada Senin (17/9) kemarin Trump kembali meningkatkan perang dagangnya terhadap Tiongkok.

Trump memaksakan 10% tarif pada impor Tiongkok senilai US$ 200 miliar. Bahkan, Trump mengancam akan menaikkan tarif lebih lanjut jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan. Namun Tiongkok justru menanggapi dengan mengatakan akan membalas.

Menurut laporan Reuters, hubungan Sino-AS yang memburuk ini turut mengurangi selera risiko investor dan arus keluar yang kian memburuk dari pasar negara berkembang. Pasalnya, negara-negara berkembang ini telah terpukul oleh meningkatnya suku bunga AS. Belum lagi kecemasan terhadap krisis keuangan yang dialami oleh Turki dan Argentina yang bisa saja terjadi pada negara mereka.

Beberapa negara, seperti Indonesia, Filipina, dan India pun mengambil kebijakan dengan menaikkan suku bunga demi menjaga nilai tukar mata uang masing-masing negara terhadap dolar AS.

Di samping itu, berdasarkan hasil survei yang baru saja dirilis oleh Thomson Reuters/INSEAD Asian Business Sentiment Survey pada Rabu (19/9), menunjukkan bahwa kepercayaan perusahaan Asia pada Juli-September 2018 terjerembap ke level terendah dalam 3 tahun terakhir.

Berdasarkan laporan yang ditulis Reuters, merosotnya kepercayaan perusahaan Asia disebabkan oleh ketakutan terhadap hantaman perang dagang global yang dapat memburuk. Krisis pada negaranya tentu saja menjadi persoalan.

Berdasarkan pandangan 6 bulan terakhir dari 104 perusahaan dari Indeks Thomson Reuters/INSEAD Asian Business Sentiment, pada kuartal Juli-September 2018 terjadi penurunan indeks di angka 58, terendah sejak kuartal 4-2015 lalu yang tercatat di angka 74.

Penurunan indeks pada kuartal 2 ini menjadi yang terendah kedua kali berturut-turut sejak survei dimulai pada tahun 2009.

Sektor industri, konstruksi, dan teknik menjadi yang terlemah sejak 2012 dengan subindeksnya di angka 45. Sementara sektor otomotif dan properti menjadi yang paling pesimis.

Namun, kendati demikian berdasarkan subindeks menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia dan India menjadi yang paling optomis setelah Thailand. Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, Indonesia yang sejatinya merupakan pasar ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara jsutru cenderung merasakan risiko perdagangan yang lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara lain.

“Meskipun kami optimis, kami sangat berhati-hati dalam ekspansi karena adanya faktor risiko eksternal,” ungkapnya sebagaimana dirilis dalam laporan Reuters.

Berbeda dengan kondisi di Filipina yang berdasarkan hasil survei mengalami penurunan kepercayaan dengan subindeks dari 94 menjadi 61. Namun, kendati demikian partisipan survei Metropolitan Bank and Trust tetap optimis setelah melihat dorongan infrastruktur pemerintah dan langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi.

“Setiap belanja infrastruktur baik untuk ekonomi, ini menciptakan kegiatan ekonomi. Ini akan membantu mengembangkan bisnis dari semua ukuran,” ungkap Anna Dominique Cudia dari departemen hubungan investor bank.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.