Tarik Wisatawan dengan Kekuatan Storynomics

(Dok: kemenparekraf.go.id)

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan bahwa destinasi wisata yang dibalut dengan storynomics yang kuat dapat menarik lebih banyak wisatawan.

Hal tersebut disampaikan Menparekraf Sandiaga dalam Weekly Press Briefing yang berlangsung secara hybrid, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (27/6).

Desa Wisata Pecinan Glodok, Jakarta Barat, memiliki storynomics tourism yang kuat karena merupakan hasil akulturasi dari budaya Tionghoa, Sunda, Betawi, hingga Jawa.

Selain itu juga, Desa Wisata Habib Basirih dan Desa Wisata Taman Loang Baloq yang memiliki kisah spiritual yang mendalam, dimana di desa tersebut tersimpan makam para ulama besar. Desa Wisata Habib Basirih saja per harinya mampu menarik antara 5 sampai 10 ribu orang.

“Cerita-cerita seperti ini yang akan kami terus kembangkan karena ini merupakan cerita-cerita yang sangat memiliki akar di kehidupan lokal setempat tetapi juga bisa dikemas menjadi promosi-promosi sebuah destinasi wisata yang akan berdampak terhadap kebangkitan ekonomi,” kata Menparekraf Sandiaga.

Hadirnya storynomics tourism menjadi gaya baru dalam promosi pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air. Inovasi dengan pendekatan storynomics tourism diharapkan dapat menarik wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar 4-7 juta kunjungan hingga akhir 2021.

Secara harfiah, storynomics tourism sudah akrab dengan keseharian wisatawan nusantara. Singkatnya, storynomics adalah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture, dan menggunakan kekuatan budaya sebagai nyawa dari destinasi.

Pendekatan storynomics tourism akan membantu membangun interpretasi dan imajinasi wisatawan akan sebuah objek wisata. Misalnya, konsep storynomics tourism di wilayah Likupang, Sulawesi Utara.

Dalam cerita setempat, Likupang ini dikenal sebagai tempat turunnya bidadari surga. Jika folklore tersebut dijadikan sebuah narasi yang menarik, tentunya wisatawan akan sangat tertarik dan antusias mendatangi “tempat turunnya bidadari” tersebut.

Selain cerita legenda atau folklore, storynomics tourism juga dapat berangkat dari cerita sejarah. Sebuah tempat dengan cerita sejarah yang besar berpotensi dikembangkan dengan pendekatan storynomics tourism dalam menarik wisatawan.