Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis UMKM Peluang Besar dari Sayuran Jepang

Peluang Besar dari Sayuran Jepang

0
sayuran-jepang-mahal-selangit (dok sekolahjepang.com)

Sayuran Jepang merupakan jenis sayur-sayuran yang awalnya dikonsumsi masyarakat Jepang sehari-hari dan kini sudah banyak disukai masyarakat Indonesia. Kebutuhan sayuran Jepang semakin meningkat dengan semakin maraknya resto yang menyajikan menu makanan Jepang. Apalagi masyarakat Jepang dan Korea di Indonesia juga ingin menikmati menu asli mereka.

Jenis sayuran Jepang sangat variatif, antara lain Bayam Jepang (Horenzo), Terong Jepang (Nasubi), Lobak Jepang (Daikon), Mizuna, Shiso Gobo, Wasabi Timun Jepang (Kyuri), Labu Jepang (Zuchini), Shungiku, Kabocha, Sawi Putih (Hakusai), Sawi Hijau (Komatsuna), Toge Jepang, Tomat Jepang, Bawang Daun (Negi) dan sebagainya. Namun tingkat kebutuhan semua sayuran itu berbeda-beda. Seperti dijelaskan Santoso, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan dan Swadaya (P4S) Agrofarm Cianjur, perbedaan musim akan berdampak pada perbedaan sayuran yang diminati. Misalnya pada musim hujan, masyarakat akan lebih menyukai sayuran daun, sedangkan pada musim kemarau/panas biasanya lebih disukai sayuran umbi dan sayuran buah, seperti Lobak Jepang, Zucchini, Timun Jepang dll.

Sayuran Jepang dan olahan  sebenarnya berpotensi ekspor. Namun sayang belum banyak pelaku usaha yang bisa memenuhi permintaan secara rutin dalam jumlah banyak. Untuk itu, P4S Agrofarm bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Fakultas Pertanian beberapa universitas mulai gencar mengadakan seminar dan pelatihan agrobisnis. Salah satunya agrobisnis sayuran eksotik Jepang dan Korea. Para peserta yang serius di bidang ini biasanya dijadikan mitra. Walhasil, sejauh ini sudah banyak mitra petani yang bergabung dari Aceh sampai Papua.

Prospek dan Persaingan

Santoso melihat, tiap tahun perkembangan kebutuhan sayuran Jepang terus meningkat. Terkait dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, dan jumlah investor juga bertambah. Anas D Susila, pakar sayuran dari Institut Pertanian Bogor menjelaskan bahwa usaha budidaya sayur yang berkualitas dengan pasar eksklusif (kalangan menengah atas), peluangnya akan prospektif karena dipasarkan ke perkotaan di mana masyarakatnya memiliki daya beli yang tinggi.

Pelaku besar dalam usaha ini juga terbilang masih sangat sedikit. Sehingga memberi peluang bagi yang memiliki semangat juang agribisnis. Hal ini jelas terlihat dari pengalaman petani-petani sayuran eksotik Jepang yang kewalahan dalam memenuhi permintaan. Pasalnya baru terpenuhi sekitar 20% dari permintaan yang ada. Namun hal tersebut tetap membawa hikmah. Sebab menurut Santoso, dengan belum banyak pesaing, membuat produsen sayuran bisa menentukan harga jual sendiri, dan harganya pun tidak fluktuatif.

Harga Tinggi

Menurut Tatan Tarjuna, pemilik CV Yan’s Fruit and Vegetable, harga sayuran eksotik Jepang bisa 3-5 kali lipat harga sayuran lokal. Ditambahkan Santoso, Ketua P4S Agrofarm Cianjur, kalaupun harganya ada yang naik turun, tetap saja masih lebih tinggi dari ongkos produksi.

Pengalaman Santoso yang juga pemilik Agro Segar (supplier sayuran eksotik), agar bisa sukses dan berhasil, maka para pelaku harus menghasilkan produk yang kontinyu dan berkualitas bagus, apalagi sasaran pasarnya cukup spesifik. Ada baiknya memiliki jaringan, mitra atau membuat inti plasma agar kegiatan agribisnisnya bisa terus beroperasi.

Karakter sayuran Jepang pada umumnya sama dengan sayuran untuk menu khas Eropa dan Amerika. Selain di dataran tinggi, ada juga sayuran Jepang yang ditanam di dataran rendah. Sayuran daun dan ubi lebih cocok ditanam di dataran tinggi minimal 800 mdpl, sedangkan sayuran buah bisa ditanam di dataran rendah (300-700 mdpl).

Sayuran dataran tinggi sudah diintroduksi oleh bangsa Belanda tahun 1600-an. Menurut pengamat agribisnis F. Rahardi budidaya sayuran dataran tinggi sudah menjadi kultur masyarakat pegunungan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. Khusus masyarakat dan restoran Jepang menuntut kualitas lebih tinggi dari rata-rata. Karena tingginya tuntutan kualitas ini, tidak semua orang mampu memenuhinya. Dari 100 orang petani di Cipanas misalnya, tak sampai 10 orang yang mampu memenuhi permintaan sayuran Jepang.

Menurut F Rahardi, ada beberapa jenis sayuran eksotik Jepang dan korea yang tidak dijumpai di restoran cepat saji, tetapi disajikan pada restoran yang 100% memakai sayuran Jepang. Antara lain Mizuna (Brassica juncea var. japonica), Shiso (Perilla frutescens), Gobo (Arctium lappa), dan Wasabi (Wasabia japonica). Kebetulan sayuran-sayuran tersebut tidak pernah ada di restoran cepat saji ala Jepang semacam Hoka-hoka Bento. Terlebih Wasabi yang hanya digunakan dalam menu Sashimi (ikan mentah).

Pemasaran.

Sayuran Jepang lebih banyak dipasarkan ke resto dan swalayan khas Jepang. atau bisa juga dilempar ke supermarket umum. Supaya bisa masuk ke resto atau swalayan tersebut, tentu saja harus ditawarkan secara langsung atau door to door. Guna memperluas pemasaran, sebaiknya pelaku usaha rajin mengikuti pameran (misalnya pameran Flona, pameran Flori dan Flora Nasional, pameran Agrinex dll), atau memiliki hubungan baik dengan dinas pertanian setempat. Melalui pameran agribisnis, produknya bisa diperkenalkan oleh orang-orang dinas kepada khalayak umum. Selain mengikuti pameran, bisa membuat website usaha.

Dalam pengiriman, jika pelaku tidak memiliki mobil pengangkut yang dilengkapi cold storage, bisa disiasati dengan cara pengiriman sayuran dilakukan pada malam hari setelah di-packing pada sore hari. Untuk itu perlu dilakukan panen pada pagi hari. Seperti yang telah diterapkan Guslee dari Okiagaru Farm. Cara lainnya, yaitu menggunakan box styrofoam berisi es batu, sehingga sayuran yang ada didalamnya bisa tetap segar mengingat daya tahan sayuran cukup singkat pada suhu biasa.

Bagi para pemula disarankan terlebih dulu menjadi supplier sayuran agar bisa memiliki banyak jaringan dan mengetahui celah pasar. Setelah sudah cukup mengenal pasar dan keinginan pasar, barulah bisa terjun menjalankan usaha budidaya.

Biaya produksi yang tidak terlalu tinggi, panen cepat, dan sasaran pasar kelas menengah atas membuat para pelaku usaha bisa meraih untung yang cukup besar. Seperti Okiagaru Farm dan CV Yan’s Fruit and Vegetable yang mampu meraih untung hingga 40%, dengan omset tiap bulannya mencapai ratusan juta rupiah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version