Kael Slip On, Jual Sepatu 100-200 Sepatu/Bulan Slip On Hingga Tembus Pasar Sewdia

0
108

 

Perkembangan fesyen sepatu tak hanya milik kaum hawa. Tren fresyen sepatu pria juga semakin menggeliat. Hal ini mendorong Mikael Kris terjun ke usaha pembuatan sepatu slip on pertengahan tahun 2012. “Perkembangan fesyen sepatu semakin pesat, bukan hanya wanita saja yang memperhatikan penampilan, pria juga ingin tampil menarik,” ujar Kris.

Di awal memulai usahanya, Kris mengeluarkan modal sebesar Rp 30 juta untuk membeli mesin jahit, mesin press, dan bahan baku seperti bahan denim dan bahan kanvas. Dalam menjalankan usahanya Kris lebih banyak membuat desain sedangkan untuk proses produksinya Kris mengerjakan lima orang karyawan. Meski demikian, Kris sangat terus mengawasi proses produksi sehingga sepatu yang dihasilkan sesuai dengan kualitas yang diinginkan.

Kris mengatakan bila saat ini ia lebih banyak memproduksi sepatu model slip on yang sedang diminati anak muda. “Permintaannya banyak datang dari anak muda, jadinya saya fokus buat model slip on daripada model lainnya,” ungkap Kris.

Nah untuk membedakan produk slip on buatannya dengan produksi orang lain, Kris memilih menggunakan bahan denin dan kanvas sebagai bahan bakunya. Benar saja, respons pasar akan produk sepatu slip on berbahan demin dan kanvas sangat bagus. Dalam satu bulan Kris bisa memasarkan 150-200 pcs sepatu slip on dengan omset yang mencapai Rp 52,5 juta.

Bahan Kanvas dan Denim

Menurut Kris, alasan ia memilih bahan kanvas juga bahan demin karena kedua bahan tersebut lembut sehingga cocok untuk sepatu jenis slip on yang biasa dipakai anak muda bersantai atau hangout bersama teman-temannya. Karena sepatu slip on banyak digunakan anak muda di berbagai kesempatan, maka Kris mengedepankan kualitas agar sepatu nyaman saat dipakai. Maklum sepatu yang dikenal dengan alas sepatu (sol) yang tipis, tanpa tali serta ringan itu tidak cepat membuat kaki pegal meski dipakai seharian.

Karena menitik mmeproduksi sepatu slip on sendiri secara handmade yang dikerjakan lima orang karyawan yang mengutamakan mode yang simpel, kualitas dan kerapian, maka Kris menjual satu pasang sepatu slip on dengan Rp 339 ribu untuk sepatu slip on dari bahan denim dan Rp 399 ribu untuk bahan kanvas.

Selain kedua model tersebut, Kris juga menerima pembuatan sepatu slip on secara custome yang disesuaikan dengan keinginan konsumen. Untuk sepatu custome, Kris mengatakan harganya Rp 130-400 ribu. Harga tersebut biasanya ditentukan oleh tingkat kesulitan dalam pengerjaannya dan juga jumlah pesanan. Semakin banyak jumlah yang dipesan maka harga bisa lebih murah.

Pemasaran

Menurut Kris, trik pemasaran lewat jejaring sosial, website sangat membantunya meningkatkan penjualan. Lewat dunia maya, sepatu slip on yang diberi merek Kael telah menyebar ke banyak kota hingga ke luar pulau seperti Kalimantan, Bali, Makasar, Riau, Yogyakarta dan Jabodetabek. Bahkan sepatu yang diproduksinya sudah masuk ke pasar Swedia walau belum banyak.

Selain melakukan pemasaran dengan memanfaatkan media internet, Kris juga mengaku melakukan pemasaran dengan rutin mengikuti pameran terutama pameran seperti yang digelar di Jakarta Convention Centre, Jakarta belum lama ini. Hal itu bertujuan untuk terus memasarkan produknya agar bisa lebih dikenal.

Kris juga membuka sistem kerjasama reseller sehingga produknya begitu cepat menyebar ke banyak daerah. “Hanya dengan membeli 5 pcs sepatu, maka konsumen sudah bisa jadi reseller dan mendapatkan potongan harga sebesar 20-30% tergantung jumlah pesanan,” jelasnya.

Saat ini banyak pesanan dari luar kota dan pulau yang memesan sepatu slip on berbahan demin dan kanvas yang datang melalui website. “Pemesan bisa hubungi saya atau kirim pesan via website saya,” tandasnya.

Pelayanan Konsumen

Sama dengan pelaku usaha lainnya, Kris mengaku kerap terkendala dalam hal melayani konsumen. Terkadang ada konsumen yang ingin membuat sepatu dengan berbagai kriteria yang mereka inginkan. Tak jarang perlu waktu lama untuk membuat sepatu pesanan konsumen tersebut. Hal ini tentu membuat jumlah sepatu yang dibuat tidak bisa banyak, sehingga kadang menghambat produksi sepatu lainnya.

Meski demikian, Kris tetap melayani permintaan konsumen. Menurutnya, konsumen adalah raja. Jadi setiap permintaan konsumen harus dilayani dengan baik. Begitu juga saat ada konusmne yang komplen bila produk yang dibelinya tak sesuai. “Memang konsumen kita itu macam-macam, dan banyak maunya. Tapi kita tetap layani dengan baik. Karena jika konsumen puas, ia akan kembali membeli produk kita, atau mempromosikannya pada orang lain,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.