Bisnis Barber Shop Cetak Omset Puluhan Juta Sebulan

0
112
Bisnis Barber Shop Cetak Omset puluhan Juta (dok Twitter Bujang)

 

Rutinitas mencukur, atau menata rambut tiap bulan membuat usaha pangkas rambut selalu ramai. Hal itu pula yang membuat Angga Kesnha D membuka usaha pangkas rambut dengan nama Bujang Barber Shop pada Desember tahun lalu. Apalagi dengan keahlian mencukur yang dimilikinya secara otodidak sejak di bangku sekolah membuat Angga tidak merasa kesulitan dalam memulai usahanya.

Bisa dibilang usaha cukur rambut yang dijalankan Angga bukan cukur rambut biasa yang banyak ditemui di pinggir jalan. Dengan mengusung brand Bujang Barber Shop, Angga mencoba memberikan sensasi cukur rambut yang berbeda. Dengan suasana tempat yang lebih nyaman, konsep usaha yang berjiwa muda dengan barberman yang semuanya berusia kurang dari 25 tahun serta gaya cukur yang mengikuti tren gaya rambut anak muda masa kini membuat Bujang Barber Shop tak pernah sepi pelanggan.

Konsep Minimalis

Rasa nyaman yang ditawarkan, langsung terasa saat memasuki Bujang Barber Shop berukuran sekitar 3×4 meter ini. Kesejukan pendingin ruangan yang begitu terasa menyambut konsumen yang datang. Selain itu, adanya perangkat TV LED dan VCD setidaknya mengusir rasa bosan konsumen menunggu giliran. Selain itu di ruangan cukur itu juga disediakan wastafel untuk mencuci tangan atau membasuh wajah dan rambut dan mencoba bebrapa model rambut seperti model-model tatanan rambut yang terpasang di dinding.

Angga memang sangat memerhatikan konsep interior ruangan. Agar terasa homey, Angga memilih menggunakan lantai kayu. Begitu juga dengan ornamen meja dan kaca cermin digunakan furnitur kayu dengan warna cokelat muda. Sementara itu bagian dinding sengaja diekspos batu bata yang dicat warna putih. Di dinding batu bata ini pula dipasang poster-poster film dan penyanyi legendaris Elvis Presley yang dikenal dengan tatanan rambutnya yang selalu rapi dan mengkilap.

“Kita memang sengaja dominasi dengan ornamen kayu dan menonjolkan dinding batu bata agar terkesan hangat dan homey sehingga konsumen nyaman,” jelasnya.

Dalam membangun usaha barbershop dengan konsep minimalis ini Angga mengeluarkan modal sekitar Rp 30 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli dua buah kursi cukur biasa (standar), peralatan cukur, TV LED dan VCD, meja dan cermin kaca, juga untuk biaya sewa tempat. “Biaya sewa tempat menghabiskan dana yang paling besar (Rp 15 juta, -red),” ujar Angga.

Style Rambut

Tidak jauh berbeda dengan barbershop modern yang mulai bermunculan saat ini, Angga juga menawarkan berbagai gaya/style potong rambut yang banyak diminati anak muda. Paling tidak ada sekitar 32 style yang ditawarkan yang bisa dilihat dari poster yang terpasang di dinding.

Dari puluhan style yang ada, ada dua style rambut yang menjadi idola yaitu Rockabilly dan Undercut. Kedua model tersebut banyak dipilih karena memang sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Walaupun konsep cukur rambut yang ditawarkan Bujang Barber Shop sangat nyaman dan berkelas, namun ongkos cukur cukup terjangkau. Sekali cukur plus pijat konsumen akan dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk dewasa dan Rp 10 ribu untuk anak-anak. “Proses cukur hingga pijat memakan waktu sekitar 20 menit,” jelas Angga.

Hal lain yang membuat beda antara hasil cukuran Bujang Barber Shop dengan pangkas rambut lain adalah diberikannya minyak rambut Pomade yang membuat tatanan rambut semakin gaya. “Pomade ini minyak rambut yang dikenal sejak jaman Elvis Presley yang membuat rambut tampil rapi dan terkesan basah. Nah Pomade ini kembali tren di kalangan anak muda saat ini. Abis cukur kita kasih Pomade dan ditata rambutnya sehingga lebih macho,” jelas Angga.

Untung 50%

Walaupun baru berjalan sekitar 8 bulan namun dengan berbagai kualitas cukur dan konsep tempat cukur yang nyaman, Bujang Barber Shop tidak pernah sepi pengunjung. Dalam satu hari, barbershop yang buka dari pukul 10:00 – 21:00 WIB ini bisa kedatangan sekitar 40 pengunjung dengan omset yang didapat sekitar Rp 18 juta tiap bulan.

Setelah dikurangi biaya bulanan seperti gaji 3 orang karyawan yang biasa disebut barberman sekitar Rp 6 juta dan biaya lain mulai dari listrik hingga perawatan alat yang mencapai Rp 3 juta, maka keuntungan yang bisa diperoleh Rp 9 juta atau 50% dari omset. “Pengeluaran bulanan paling besar untuk membayar karyawan,” jelas Angga. Melihat prospek yang sangat menjanjikan, tidak heran Angga sudah bisa balik modal pada bulan ke-4.

Pemasaran dan Kendala

Kesuksesan yang dialami Angga dalam menjalankan usaha barbershop ini tidak lepas dari pemasaran yang dilakukan. Sejak membuka usaha hingga saat ini, Angga terus melakukan berbagai promosi dalam menjalankan usahanya. Saat memulai usaha, Angga menarik konsumen dengan cara mengadakan potong rambut gratis selama satu minggu mulai dari pukul 13:00 hingga 17:00. Untuk mendukung momen tersebut Angga memasang spanduk di pintu masuk kompleks perumahan tempatnya membuka usaha.

“Pada saat pergelaran piala dunia beberapa bulan lalu saya juga mengadakan nonton bareng untuk lebih mendekatkan diri dengan konsumen,” ujar Angga.

Selain mengadakan event untuk menarik konsumen, Angga yang hobi fotografi juga mencoba memasang foto hasil cukur rambutnya di Twitter dan Facebook. Tidak sampai di situ, untuk lebih memanjakan konsumen, Bujang Barber Shop memberikan kopi gratis bagi konsumen yang datang di pagi hari mulai dari pukul 10:00 hingga pukul 12:000.

Seperti usaha cukur pada umumnya, kendala uatama usaha cukur adalah melayani permintaan konsumen. Keinginan konsumen yang macam-macam harus dilayani dengan sabar sehingga tak jarang barberman melakukan pemotongan secara bertahap yang membuat proses memotong menjadi semakin lama.

“Saya sampaikan pada karyawan agar selalu berkonsentrasi pada konsumen yang sedang mereka pangkas rambutnya walaupun antrean banyak,” ujar Angga. Selain itu, karyawan juga diminta untuk selalu berkomunikasi kepada konsumen seputar gaya cukur yang diinginkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.