Kreasi Patch Work & Quilting Diminati Pasar Kelas Atas

0
83
Patch work (dok tildasworld.com)

 

Kerajinan patch work & quilting memang unik dan eksklusif, karena jarang sekali ditemukan patch work dengan desain dan motif kain yang sama, kecuali ada pesanan dari pembeli. Nilai keunikan dari patch work & quilting tersebut, terletak pada tingkat kesulitan desain, hal inilah yang membuat produk quilting memiliki nilai sangat eksklusif. Orang tentu tidak mau sama produknya dengan yang dimiliki oleh orang lain

Di luar negeri, patch work & quilting berkembang dengan baik. Banyak sekali komunitas yang mewadahi para pehobi ini. Mereka sering berkumpul, berdiskusi, gathering serta saling berbagi desain terbaru yang mereka ciptakan. Adakalanya, komunitas dengan dukungan perusahan peralatan patch work & quilting, secara berkala mengadakan kompetisi untuk memilih desain patch work & quilting yang dianggap terbaik dan unik.

Di negeri Sakura Jepang, quilting dilakukan secara manual (dengan jahit tangan) atau populer dengan istilah “handquilt”. Adapun quilting dari belahan dunia lain, tidak jarang dilakukan dengan mesin jahit, bahkan ada yang menciptakan mesin jahit khusus quilting. Mesin ini akan bekerja sesuai atau terprogram dengan desain patch work. Cara kerjanya sangat cepat, presisi dan mendekati sempurna. Namun, handquilt atau quilting ala Jepang dipandang lebih terhormat dan dihargai lebih mahal daripada quilt hasil kerja mesin. Inilah letak seninya patch work & quilting.

Namun, meskipun menggunakan mesin quilting, menurut Hari Sutji, salah satu pelopor machine quilting di Indonesia, proses pembuatan quilting dengan mesin juga tak bisa dianggap enteng. “Kalau pakai handquilt, pengrajin bisa menata dengan cermat, tanpa takut salah. Tetapi kalau pakai mesin, kecepatan tangan dan ketepatan jahitan menjadi hal yang paling utama dimiliki. Selain itu, dengan menggunakan mesin tangan lebih cepat lelah. Meskipun begitu hasil yang diproduksi tak kalah cantik,” jelas pemilik Farah Quilt ini.

Ragam Produk

Patch work & quilting, dalam aplikasi produk sangat beragam. Bisa dibuat dalam bentuk selimut dan bedcover dengan berbagai ukuran, hiasan dinding rumah (wall hanging), sarung bantal dan guling, tas, dan lain sebagainya. “Ada banyak produk yang bisa diaplikasikan dengan teknik patch work dan quilting. Bahkan yang terbaru yakni pembuatan sajadah dengan teknik tersebut. selain unik, juga terlihat cantik untuk ibadah,” jelas S. Nisa Hariadi, Owner Nisa The Art of Quilting

Supaya usaha semakin sukses, pelaku usaha harus kreatif dan mengikuti tren desain terkini. Untuk urusan ini bisa mencari ide-ide segar lewat internet atau majalah dan buku-buku. Tak cuma itu, pelaku usaha juga bisa menciptakan atau memadukan teknik patch work dengan kerajinan lain. Dengan demikian, penjualan tidak akan monoton dan lebih atraktif di mata konsumen.

Prospek Menguntungkan

Siapa bilang produk quilting kurang diminati dan tidak menguntungkan? Asal tahu saja, banderol harga sebuah bedcover dengan teknik quilting cukup mahal. Harganya mencapai Rp 4 juta per potong. Maklum saja, ini merupakan bagian kerajian tangan dan bahannya juga berkualitas.

Meski mahal, peminatnya cukup banyak. Pembeli suka karena motif dan desainnya yang unik dan lucu. Seperti yang diuangkapkan Hari Sutji, yang pernah menjual produk bed cover seharga Rp 10 juta per pieces. “Bisa dibayangkan, produk bed cover dengan harga segitu, pasti nggak ada yang percaya. Namun bagi orang yang menyukai seni quilting, pasti mereka tidak akan menawark lagi harga jualnya. Apalagi bila mereka melihat dan merasakan kualitas produk ini,” terangnya.

Tak mengherankan bila usaha ini dirasa sangat menguntungkan. Dengan omset minimal Rp 20 juta, pelaku usaha bisa mengantungi omset 50-70 persen. seperti yang dialami Eka Yunita, dengan omset Rp 40 juta, ia bisa mendapatkan keuntungan 50 persennya. Untuk menarik perhatian konsumen, pelaku usaha ada baiknya terus berinovasi dengan menciptakan desain-desain baru, yang lebih unik. Selain itu, harus menjaga kualitas produk. Persaingan dari usaha ini masih terbuka lebar, karena belum banyak pelaku usaha yang fokus mengerjakannya.

Sasar Kelas Atas

Dengan harga jual yang cukup mahal, membuat produk patch work dan quilting ini hanya bisa dibeli oleh konsumen yang memiliki seni tinggi dan berkantung tebal. Apalgi dengan nilai ekskluisfitasnya, membuat produk quilting  mampu menyasar segmen middle up atau kelas atas. “Produk quilting memang berkelas, jadi harganya cukjup mahal. Namun tetap saja ada yang beli. Agar lebih bisa memasarkannya, ada baiknya ditawarkan pada konsumen kelas atas,” jelas Handito Joewomo, pengamat marketing.

Selain melakukan pemasaran dari mulut ke mulut, pelaku usaha bisa mempromosikan produknya secara luas melalui media online. Selain itu media pemasaran yang paling pas dengan mengikuti berbagai pameran produk kreatif. Seperti yang kerap dilakukan Hari Sutji, S. Nisa Hariadi, Eka Yunita, dan pelaku usaha quilting lainnya. Hal ini dikarenakan dalam event pameran, akan banyak didatangi konsumen yang benar-benar menyukai dan membutuhkan produk kreatif.

Produk quilting ini tak hanya diminati konsumen lokal saja, tetapi juga sudah menembus pasar internasional. hal ini tentu saja membuat pelaku usaha mampu mengembangkan usahanya. Tertarik menggeluti usaha ini? Jangan lewatkan halaman-halaman berikut yang membahas seluk beluk usaha patch work dan quilting. Selamat membaca, dan salam sukses.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.