Gurihnya Untung dari  Budidaya Ikan Nila Hitam

0
576
nila hitam (dok nilaairderas.blogspot.com)

Ikan Nila Hitam merupakan salah satu ikan konsumsi yang tak kalah nikmat dengan Gurame dan ikan konsumsi lainnya. Memiliki daging tebal, gurih, tidak berbau lumpur dan tidak memiliki duri halus (seperti yang dimiliki ikan Mas), membuat ikan ini sangat potensial dijual dalam bentuk fillet ikan seperti dilakukan Aquafarm di Danau Toba Sumatera Utara yang bisa mengekspor fillet ikan Nila sebanyak 15 ton per hari.

Keunggulan ikan Nila Hitam dibandingkan Nila Merah, karena pada Nila Hitam selalu muncul jenis-jenis baru, sedangkan Nila Merah jenisnya itu-itu saja. Nah dengan perolehan jenis baru itu, banyak ikan Nila Hitam yang tahan penyakit, cepat besar sehingga cepat panen.

Beberapa jenis ikan Nila Hitam, antara lain nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia), GET (Genetically Enchanted Tilapia), GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tilapia), Nirwana (Nila Ras Wanayasa), BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia) dan GMT (Genetic Male Tilapia). Beberapa jenis Nila Hitam tersebut memiliki ciri yang serupa sehingga cukup sulit dibedakan.

Prospek dan Persaingan

Masih menurut Komar Sumantadinata, prospek budidaya ikan Nila Hitam sangat besar mengingat ikan ini mudah dibudidaya baik dalam kolam semen, kolam tanah atau keramba. Selain itu produksi benih saat ini baru terpenuhi 70% untuk permintaan lokal. Sebagai gambaran setiap hari dibutuhkan sebanyak 5 ton benih ikan Nila dari Sukabumi untuk dikirim ke Cirata, Jatiluhur Jawa Barat dan Tasikmalaya.

Hal serupa juga terjadi pada usaha pembesaran, yang mana para peternak baru memenuhi 75% kebutuhan pasar lokal. Untuk menanggulangi hal ini, Pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan Daerah rajin mensosialisasikan Nila Hitam unggul untuk dikembangkan melalui berbagai Balai Benih dan Budidaya Ikan Air Tawar.

Hal ini diakui Deny Rusmawan, petani pembenihan ikan Nila Hitam unggul dengan nama Dejee Fish. Sampai saat ini Deny masih kewalahan memenuhi permintaan benih ikan Nila unggul jenis GMT ke berbagai daerah di Indonesia. DeJee Fish baru memasok sekitar 1-2 juta ekor tiap bulan ke berbagai daerah baik di Jawa maupun luar Jawa. Deny tidak khawatir dengan persaingan pelaku lain, sebab dengan adanya mereka Deny bisa join/bekerja sama ketika kewalahan memenuhi permintaan.

Hal sama juga dialami Ujang, pemilik usaha pembesaran Nila Hitam di kawasan Parung-Bogor. Sebagai satu-satunya pelaku besar di usaha pembesaran Nila Hitam Bogor, Ujang juga masih kewalahan memenuhi permintaan Jakarta saja dan ia berencana akan memperluas lahan pembesaran yang baru mencapai 4 ha.

Menurut Rinaldi Vivenda, pemilik Gudang Ikan di Parung Bogor, usaha pembenihan Nila Hitam memiliki prospek yang lebih baik dibandingkan usaha pembesarannya. Sebab, menurut Rinaldi, dalam pembenihan tidak terlalu membutuhkan lahan yang terlalu luas jika dibandingkan dengan pembesaran. Tingkat pemilikan lahan para petani masih sangat sedikit, demikian juga dengan modal pakan.

Jadi dalam usaha pembesaran ikan, banyak peternak kecil yang menjadi petani plasma pada orang lain yang memiliki modal lebih besar. Sedangkan dalam usaha pembenihan bisa dilakukan petani kecil sebab tidak terlalu membutuhkan lahan dan modal besar baik untuk pengadaan indukan dan pakan.

Baik Komar Sumantadinata (pakar nila hitam) dan Rinaldi Vivenda (pemilik Gudang Ikan)  menandaskan bahwa perputaran uang dari usaha pembenihan pun lebih cepat ketimbang usaha pembesaran. Menurut Komar Sumantadinata dari usaha pembenihan sudah bisa panen dalam waktu sebulan  untuk benih ukuran 2-3 cm, sedangkan pembesaran butuh waktu panen setelah 4-5 bulan.

Pakan yang diberikan bisa berupa pakan komersil alias pelet pabrikan atau pakan buatan seperti campuran tepung ikan, dedak halus, bekatul, tepung jagung atau tepung kedele. Dengan asupan pakan ini tentu menjadikan ikan ini memiliki kadar protein tinggi, dengan dosis pakan yang bagus yakni 3% dari bobot ikan. Plankton selain memberikan oksigen dalam air juga bisa menjadi pakan tambahan di air, demikian juga tanaman air lunak dari jenis paku-pakuan seperti lemna  yang biasa  tumbuh di kolam ikan.

Sentra budidaya ikan Nila Hitam, antara lain di Cirata, Jatiluhur, Tasikmalaya, Sukabumi Jawa Barat, Gresik, Lamongan, Bali, Jambi, Lubuk Linggau Sumatera Selatan, Danau Toba Sumatera Utara, Karang Intan-Kalimantan Selatan, Minahasa-Sulawesi Utara.

Keunikan dari ikan ini, yakni indukan jantan dan betina mengelurkan sperma dan telur ke luar tubuh kemudian ditampung ke dalam mulut indukan betina sehingga terjadi pembuahan di dalam mulut. Dua atau tiga hari kemudian telur akan menetas dan baru setelah 10-15 hari dikeluarkan dalam bentuk larva. Setiap indukan akan memijah setiap 30 hari sekali.

Untuk jumlah benih dalam satu kolam (padat tebar) dalam kolam pendederan (kolam pemeliharaan benih) jika masih bentuk larva sebanyak 50-100 ekor/m2, sedangkan pada kolam pembesaran sebanyak 20 ekor/m2 dan untuk pembesaran di keramba padat tebarnya 4-10 kg/m3.

Benih ikan Nila Hitam bisa dipasarkan baik ke usaha pembesaran, supplier atau ke Dinas-Dinas Pertanian seperti yang dilakukan oleh DeeJee Fish. Sedangkan Nila konsumsi bisa dipasarkan ke pasar tradisional, pasar induk, pengusaha catering dan rumah makan serta restoran. Benih ikan Nila siap jual mulai dari ukuran larva, ukuran 2-3 cm dan 3-5 cm. Sedangkan ikan Nila konsumsi, pasar lokal meminta ukuran 1 kg isi 5-6 ekor.

Lebih Untung Pembenihan

Menurut Komar dan Rinaldi, baik usaha pembenihan maupun pembesaran sama-sama memberikan untung yang cukup besar. Hal ini dialami pembudidaya Nila Hitam, yakni Deny Rusmawan sebagai pembenih dan Ujang sebagai peternak pembesaran ikan konsumsi.

Keuntungan yang mereka dapat sama-sama mencapai angka 60%. Meskipun demikian dari segi usaha pembenihan menawarkan penjualan yang lebih cepat karena benih bisa dijual mulai dari umur 15 hari dalam bentuk larva. Selain itu untuk permulaan usaha, pembenihan hanya membutuhkan modal kecil, misalnya untuk membeli indukan senilai Rp 4,6 juta, dan jumlah pakan yang tidak banyak karena benih ikan cepat dijual mulai umur 15 hari.

Berbeda dengan usaha pembesaran diperlukan pakan yang lebih banyak karena waktu panen dilakukan setelah 4-5 bulan setelah bobot ikan mencapai 300-500 gr, sedangkan pada pembenihan  pemberian pakan hanya dilakukan sampai benih siap jual berumur maksimal 45 hari saat benih berukuran 2-3 cm. Waktu panen yang lebih lama pada usaha pembesaran secara otomatis menyebabkan biaya produksi lebih tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.