Produk Tempe asal Indonesia semakin mendapat tempat di pasar internasional. Makanan berbahan dasar kedelai yang selama ini identik dengan konsumsi sehari-hari tersebut mulai dikembangkan menjadi berbagai olahan modern untuk menjangkau konsumen mancanegara. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bahkan berhasil membawa produk olahannya ke berbagai negara.
Di dalam negeri, tempe telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat. Hidangan ini mudah ditemukan di berbagai daerah, mulai dari warung makan sederhana hingga restoran modern dan hotel berbintang. Perkembangan industri kuliner turut mendorong tempe hadir dalam bentuk sajian yang lebih beragam.
Peluang tersebut dimanfaatkan sebuah UMKM asal Bogor yang berhasil memperluas pemasaran produknya ke 12 negara. Pasar ekspornya mencakup Malaysia, Thailand, Filipina, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, India, Qatar, Arab Saudi, Kanada, dan Amerika Serikat.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumen luar negeri, pelaku usaha tersebut mengembangkan sejumlah inovasi. Langkah ini sekaligus menjadi solusi atas tantangan pengiriman tempe konvensional yang memiliki masa simpan relatif singkat.
Beberapa varian yang dipasarkan meliputi frozen tempe, keripik tempe, ready meal tempe, protein crunchy bites, hingga tepung tempe. Ragam olahan tersebut dirancang untuk menyasar konsumen global yang membutuhkan pilihan makanan praktis dengan kandungan protein nabati.
Produk Tempe Dikembangkan dengan Standar Mutu Internasional
Ekspansi ke pasar luar negeri turut menuntut konsistensi kualitas dan keamanan pangan. Karena itu, UMKM asal Bogor tersebut menerapkan proses produksi modern dengan dukungan sejumlah sertifikasi, seperti BPOM, halal, HACCP, FSSC, US FDA, dan China GACC.
Pengawasan mutu juga dilakukan secara rutin melalui pengujian sampel produksi setiap hari di laboratorium independen. Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan Produk Tempe yang dihasilkan terbebas dari kontaminasi bakteri berbahaya sebelum dipasarkan kepada konsumen.
Upaya memperluas pasar internasional juga dilakukan pelaku UMKM dari Kota Batu, Malang. Daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra industri makanan olahan ini turut mengembangkan keripik tempe untuk memenuhi permintaan pembeli dari luar negeri.
Produk keripik tempe asal Kota Batu dilaporkan telah menembus pasar Asia Tenggara dengan volume ekspor lebih dari satu ton. Sejumlah negara tujuan pengiriman meliputi Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Brunei Darussalam.
Keberhasilan dua UMKM tersebut memperlihatkan peluang pengembangan Produk Tempe di pasar global masih terbuka. Inovasi bentuk olahan, ketahanan produk selama distribusi, serta pemenuhan standar keamanan pangan menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan pemasaran.
Dengan pengembangan produk yang semakin beragam, tempe berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu komoditas pangan olahan Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional.
