Top Mortar tkdn
Home Bisnis UMKM Dari Kayu ke Produk Modern, Inovasi UMKM Samarinda Curi Perhatian

Dari Kayu ke Produk Modern, Inovasi UMKM Samarinda Curi Perhatian

0
Dari Kayu ke Produk Modern, Inovasi UMKM Samarinda Curi Perhatian (Dok Foto, Sumber: Kementerian UMKM)

Perkembangan UMKM Samarinda terus menunjukkan arah positif, terutama dalam hal inovasi berbasis bahan baku lokal. Salah satu contoh menarik datang dari pelaku usaha yang memanfaatkan kayu menggeris menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari jam tangan hingga aksesori modern. Tren ini memperlihatkan bagaimana UMKM Samarinda tidak hanya bertumpu pada produk konvensional, tetapi juga mulai merambah sektor gaya hidup dengan pendekatan kreatif.

Adalah Iendy Zelviean Adhari, penggagas brand Menggeris, yang mengembangkan potensi kayu lokal menjadi produk fungsional sekaligus estetis. Meski memiliki latar belakang sebagai akademisi di bidang ekonomi syariah, Iendy justru menekuni riset kayu secara mandiri. Ketertarikannya pada dunia seni dan kreativitas menjadi titik awal lahirnya inovasi tersebut.

Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa pendekatan seni yang diterapkan dalam produk memiliki nilai yang bisa diukur secara langsung oleh pasar. Produk seperti jam tangan dan kacamata dipilih karena mampu memadukan aspek fungsi dan estetika. Konsumen pun dapat dengan mudah menilai kualitasnya, baik dari segi desain maupun ketahanan bahan.

Kayu menggeris yang digunakan dikenal memiliki karakteristik kuat dan tahan terhadap serangan hama. Sifat ini menjadikannya sebagai bahan yang ideal untuk produk jangka panjang. Tidak heran jika produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM Samarinda ini memiliki daya tahan yang cukup tinggi, sekaligus menawarkan nilai eksklusivitas karena berbasis material lokal.

Inovasi Tanpa Limbah Jadi Nilai Tambah

Keunggulan lain dari usaha ini terletak pada strategi produksi yang efisien. Iendy menerapkan konsep zero waste dengan memaksimalkan seluruh bagian kayu yang tersedia. Potongan utama difokuskan untuk pembuatan jam tangan, sementara sisa bahan diolah menjadi produk lain seperti kacamata dan strap smartwatch.

Pendekatan ini membuat proses produksi menjadi lebih optimal sekaligus ramah lingkungan. Bahkan potongan kayu yang lebih kecil masih dimanfaatkan untuk membuat aksesori tambahan seperti pelindung ponsel dan tempat kartu. Dengan demikian, tidak ada material yang terbuang sia-sia.

Lebih jauh lagi, inovasi tidak berhenti pada produk padat. Serbuk kayu hasil produksi juga dimanfaatkan melalui riset lanjutan. Dari limbah tersebut, dikembangkan bahan aromatik yang berpotensi menjadi produk parfum dengan aroma khas kayu menggeris. Ini menjadi bukti bahwa kreativitas dalam UMKM Samarinda mampu menciptakan nilai tambah dari setiap tahap produksi.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pelaku usaha lokal tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga pada keberlanjutan dan efisiensi. Inovasi berbasis bahan lokal seperti ini diharapkan dapat memperkuat daya saing UMKM Samarinda di pasar yang lebih luas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Exit mobile version