Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis UMKM Nyalakan Jiwa Entrepreneurship, Kemendikbud Lakukan Kegiatan Kewirausahaan

Nyalakan Jiwa Entrepreneurship, Kemendikbud Lakukan Kegiatan Kewirausahaan

0

Memiliki jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) yang kuat, jujur, kreatif, dan disiplin menjadi salah satu kunci utama kompetensi peserta didik dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan di era abad ke-21. Untuk mewujudkan hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) menyelenggarakan kegiatan kewirausahaan Jenjang SMP Tahun 2020.

Direktur SMP, Mulyatsyah mengatakan kegiatan pelatihan kewirausahaan ini bukanlah dalam arti mengharuskan dan menjadikan para peserta didik menjadi pengusaha, akan tetapi pada prinsipnya adalah peserta didik bisa memahami dan menjiwai semangat kewirausahaan.

“Seseorang yang akan menjadi wiraswasta sejati lahir dari sebuah proses. Bukan lahir tiba-tiba saja. Oleh sebab itu, tentu anak-anakku sekalian harus memiliki jiwa yang ulet, semangat juang yang pantang menyerah, selalu melihat ke depan dan melihat halangan atau tantangan adalah peluang untuk masa depan,” disampaikan Mulyatsyah dalam sambutannya saat membuka acara Kewirausahaan Angkatan I, melalui video virtual di Jakarta, pada Senin (21/09/2020).

Mulyatsyah berharap para peserta didik memiliki jiwa yang jujur. Ia meyakni, usaha apapun akan berhasil jika dibangun dengan cara-cara yang jujur. “Cara yang jujur akan membuat perkembangan pada usaha kita. Nantinya di masa depan akan (tercapai) keberhasilan, itu tinggal menunggu waktu,” terangnya.

Jiwa pengusaha lanjutnya, adalah seseorang yang memiliki semangat kreativitas. Dikatakan Mulyatsyah, tanpa kreativitas, segala hal akan menjadi sulit. “Orang yang kreatif, selalu optimis. Oleh sebab itu kalian harus memahami dan belajar bagaimana menanamkan jiwa-jiwa optimisme itu,” ungkapnya.

Mulyatsyah mengatakan, setelah mengikuti kegiatan ini para peserta didik diharapkan dapat menyerap karakter-karakter positif yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Hal tersebut ia sampaikan kepada 100 peserta didik SMP yang hadir melalui dalam jaringan (daring).

“Ketika kalian sudah menyelesaikan masa pendidikan SMP, SMA, kuliah, nanti kalian akan masuk ke dunia kerja. Tunjukkan bahwa kalian ini layak untuk menjadi anak-anak pilihan, dan kalian layak untuk menjadi agen perubahan karakter positif di sekolahnya masing-masing,” terangnya.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam empat angkatan. Angkatan I telah dilaksanakan tanggal 21-22 September 2020. Siswa yang terpilih oleh dinas pendidikan adalah wakil kabupaten/kota yang telah menunjukkan prestasinya, baik akademik maupun non akademik.

“Saya melihat kecerahan, keceriaan dari kalian semua. Dari wajah-wajah yang ditampilkan adalah wajah-wajah yang rindu untuk belajar, wajah-wajah yang memandang akan masa depan yang baik,” kata Mulyatsyah.

Para peserta diberikan pembekalan dari narasumber yang kompeten di bidangnya seperti perwakilan Direktorat SMP, praktisi kesehatan, praktisi yang sudah berhasil mengembangkan usaha mulai dari sekolah, peserta didik yang sedang merintis dan mengembangkan unit usaha sendiri dan praktisi pendidikan di bidang media sosial.

Rincian materi yang disampaikan yaitu kebijakan Direktorat SMP, bahaya narkotika dan merokok, pemanfaatan media digital sebagai media kewirausahaan, komunikasi dalam kewirausahaan, motivasi suprasional, pemanfaatan media sosial secara bijak dalam pengembangan kewirausahaan, serta praktik baik sebagai siswa penggerak pengembangan kewirausahaan.

Salah satu narasumber dari salah satu perguruan tinggi di Banten, Ade Husnul menyampaikan kepada para peserta didik, bagaimana mahir berkomunikasi sehingga mampu mengkomunikasikan usahanya. “Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari menjadi wirausaha adalah bagaimana cara kita memperkenalkan produk kita pada orang banyak. Bagaimana orang bisa beli produk kita kalau kita tidak kenal produk kita,” ujarnya.

Ade menambahkan, jika para peserta didik ingin menjadi pengusaha yang sukses, para peserta didik harus memulai dengan penguatan aspek berbahasa. “Sebelum berpikir produknya apa, sebelum berpikir cara menjualnya bagaimana. Aspek berbahasa dulu dikuasai,” ujarnya.

Aspek berbahasa tersebut antara lain menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. “Dengarlah apa yang orang-orang katakan tentang keinginan. Bacalah berbagai sumber pengetahuan dan informasi agar mampu membaca peluang. Sampaikan produkmu dengan cara unik dan menarik perhatian. Tulislah rangkuman produkmu dengan kata atau kalimat slogan yang mudah,” demikian jelas Ade.

Exit mobile version