Franchise My Nitro Tawarkan Peluang Omset hingga Rp.30 Juta Sebulan

0
499

Perusahaan pengisian angin nitrogen, My Nitro, menargetkan 1.000 outlet bisa terpasang tahun ini. Skema waralaba atau franchise tersebut dibuka dengan investasi sekitar Rp 60 juta per unit. “Kami terbuka untuk umum, teknologinya juga sudah ada, jadi kami siap kalau ada yang mau kerja sama atau sistem franchise,”ujar Founder dan CEO My Nitro, Muchlis, beberapa waktu lalu.

Meskipun saat ini My Nitro baru memiliki 13 outlet, namun Muchlis menuturkan bahwa target 1.000 unit outlet bukan hal mustahil. Menurutnya sudah banyak investor yang tertarik. “Kenapa saya berani sebut angka 1.000 unit, karena investor sudah minta untuk mengembangkan itu. Mungkin dalam waktu dua bulan ke depan sudah ada sekitar 122 outlet di Jabodetabek,”tambahnya.

Saat ini outlet angin nitrogen kebanyakan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU. Namun untuk My Nitro akan melebarkan sayap ke toko retail dari Alfa Group. “Kami enggak hanya di SPBU, makanya saya launching di Alfa karena pasarnya besar. Kalau SPBU jumlahnya cuma 7 ribu, sedangkan Alfa ada 15.500 lokasi. Dua kali lipat,” jelasnya.

My Nitro memiliki alat pengisian angin nitrogen yang terbilang canggih dan kekinian. Proses kerjanya berbasis self service yang mirip mesin ATM. Waralaba My Nitro pun beroperasi secara digital, konsumen melakukan semuanya secara mandiri. Mulai dari sistem touchscreen hingga pembayaran cashless dengan uang elektronik (E-Money, Brizzi, TapCash, Flazz) dan dompet elektronik (Shopeepay, Gopay, LinkAja, OVO, Dana dll).

“Alatnya juga sudah ramah lingkingan, tidak ada lagi struk kertas. Kalau orang butuh struk, tinggal input alamat email dan real time struk akan dikirim via email. Setiap transaksi bisa dilihat di dashboardnya,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 turut berimbas pada My Nitro, terutama memasuki bulan Maret 2020 sejak awal kasus Covid-19 diumumkan. “Puncaknya itu di Maret dan April 2020, turun sampai 40 persen,” kata Muchlis.

Meski pemasukan menurun drastis, pihaknya mengklaim tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya. “Tapi kami masih bertahan, tidak ada PHK satu pun pada karyawan,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu didukung oleh alat pengisian nitrogen milik My Nitro yang sudah berbasis digital dengan keunggulan sistem pembayaran cashless (non-tunai). “Sehingga kerja kami sangat efisien, meski traffic menunjukkan penurunan yang cukup jauh,” tambahnya.

Peluang Franchise. CV Mucha Persada sebagai perusahaan pengisian nitrogen pada ban kendaraan dengan brand My Nitro juga menawarkan skema waralaba atau franchise bagi siapa saja yang mau berinvestasi. “Kami terbuka untuk investor, satu alat My Nitro ini harganya Rp 60 juta,” terang Muchlis.

Ia menjelaskan, selain harganya yang cukup terjangkau dibandingkan beberapa franchise lainnya, investor mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis My Nitro ini. “Karena kerjanya sangat efisien, owner enggak perlu kontrol setiap hari, tinggal lihat handphone saja,” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa omzet per hari yang bisa dihasilkan dari bisnis pengisian angin nitrogen berbasis digital ini bisa mencapai puluhan juta. “Kalau bicara usaha retail, jadi omzet sebulan itu antara Rp 5 juta sampai Rp 30 juta,” tambahnya.

Ia mencontohkan, omzet outlet My Nitro di Lampung, Sumatera Selatan bisa mencapai Rp 30 juta per bulan. Sedangkan outlet di Serang, Banten disebutkan bahwa omzet paling kecil sekitar Rp 10 juta selama sebulan. “Jadi memang kami menebar di lokasi yang sangat strategis,” imbuh Muchlis.

“Kalau profit mungkin bisa sekitar 25 persen, pokoknya selama belum ditemukan ban yang tanpa tekanan udara, itu masih bisa hidup,” sambungnya.