Ekspor hingga 900 Ton Tepung Porang per Tahun

1
10561

Menilik basic pendidikan Dhani Sudrajat, membuat siapapun tak menyangka ia adalah pengusaha sukses agribisnis. Pria yang akrab disapa Dhani ini merupakan lulusan D3 Pariwisata yang pernah bekerja sebagai chef  hingga membawanya keliling dunia. Namun, sejak umur 15 tahun ia sudah diajak ayahnya mengurus usaha tanaman Porang. Dari sanalah, Dhani memantapkan diri untuk meneruskan usaha keluarganya itu. Bersama kakak dan beberapa saudara dekatnya, Dhani mengembangkan usaha ini hingga menjadi perusahaan ekspor produk Porang kedua terbesar di Indonesia.

“Usaha ini sudah dijalankan Alm. Ayah saya sejak tahun 1964. Kebetulan kerabat kita menikah dengan orang Jepang, maka keluarga pun mantap menjalankan bisnis Porang ini karena di Jepang keberadaan Porang sangat dibutuhkan untuk industri,” terangnya.

Menurut Dhani, usaha ini berawal dari modal kepercayaan. Saat itu alm. ayahnya mendapat tawaran untuk suplai keripik/chips Porang dari rekannya di Jepang.  Namun karena belum memiliki mesin dan peralatan produksi maka rekannya di Jepang memberikan dana dan menghibahkan mesin. “Modal awal yang kami keluarkan lebih banyak untuk sewa gudang dan lainnya,” cetus Dhani.

Di awal usaha, Dhani mengekspor umbi porang berbentuk keripik/chips sebanyak 25 ton. “Dari hasil ekspor sebanyak 25 ton cukup untuk membiayai hidup kita sekeluarga selama satu tahun. Tapi saat itu ayah saya memutar uang hasil penjualan ke proyek lain yang ternyata membuat kami gulung tikar. Alhamdulilah seiring waktu berjalan, kami mampu membangun kembali usaha ini, dan sekarang fokus mengekspor tepung Porang,” jelasnya.

Prospek dan Persaingan. Menurut pria kelahiran Ciamis, 16 Juni 1966 ini, prospek bisnis Porang sekarang ini bisa dibilang sangat bagus. “Sebenarnya prospeknya bagus, gambarannya jika kita menanam seluas 1 Ha saja, hasil penjualan bisa mencukupi untuk hidup selama 1 tahun ke depan,” terangnya. Namun menurut Dhani, yang paling penting harus diperhatikan jika ingin memulai bisnis ini adalah memastikan pasarnya harus jelas. “Pasalnya Porang menyasar pasar industri, tak seperti hasil bumi lain yang bisa gampang dijual. Kalau dari segi budidaya saya yakin mudah dilakukan,” jelasnya.

Karena itu, Dhani siap membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin bekerja sama dengannya perihal pengadaan bahan baku Porang. “Saya siap membuka kesempatan dengan para petani, dengan syarat-syarat tertentu yang mungkin bisa saya jelaskan antarpersonal saja nantinya. Yang jelas intinya pihak yang ingin bekerja sama sama-sama mentaati kontrak saja. Kalau soal kuota kita nggak mempermasalahkan jumlahnya,” ungkap suami dari Nety Amalia ini ramah.

Dari segi persaingan, tak ada persaingan yang berarti terutama dari sesama eksportir Porang. Namun yang selalu menjadi masalah di bisnis Porang ini menurut Dhani adalah adanya spekulan-spekulan yang suka memainkan harga seenaknya. “Kalau persaingan antar-eksportir itu tidak ada. Tapi masalah suka muncul dari para spekulan yang mempermainkan harga seenaknya. Seperti ada kerusakan informasi harga karena adanya spekulan yang sengaja menimbun Porang,” tutur Dhani dengan raut muka kecewa.

Manfaat. Tepung Porang merupakan tepung hasil olahan umbi Porang atau yang dikenal dengan nama Iles-iles. Berdasarkan jenisnya, tepung Porang kasar mengandung glukomanan sebanyak 49-60% sebagai polisakarida utama, pati 10-30%, 2-5% serat, 5-14% protein berat, 3-5% gula tereduksi dan 3,4 % -5,3% abu, dan kandungan vitamin dan lemak yang cukup rendah. Karakteristik tepung Porang antara lain daya larut yang tinggi baik di dalam air panas maupun air dingin, dan memiliki tingkat kekentalan paling tinggi secara alamiah, yakni 10x lipat daripada tepung lainnya, dan stabil pada pH rendah.

Banyak manfaat dari tepung Porang ini, antara lain bisa digunakan sebagai obat alternatif untuk penderita beberapa penyakit berbahaya. Contohnya saja penyakit diabetes. Tepung yang bertekstur agak kasar ini pun dapat mengontrol gula darah dalam tubuh serta mengurangi glukosa, dan bisa mencegah penyakit tekanan darah tinggi. Selain itu tepung ini sangat berguna untuk mengurangi kolesterol dalam tubuh dan mencegah sembelit dan sangat berkhasiat bagi orang yang menderita obesitas karena tepung ini dapat mengurangi penyerapan lemak dalam tubuh sehingga menurunkan berat badan dan mengatasi obesitas.

Hal ini karena Porang bisa menimbulkan perasaan kenyang apabila dikonsumsi. Tepung Porang dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu yang dapat dibuat beraneka makanan, antara lain mie, tahu dan beras rendah kalori.

Manfaat lain tepung Porang bisa dipakai sebagai perekat atau lem, campuran bahan baku industri, bahan dasar industri perfilman, bahan baku kosmetik, hingga diolah menjadi minuman penyegar tubuh dan sebagai obat alternatif untuk penderita beberapa penyakit seperti diabetes dan kolesterol.

Harga dan Pemasaran. Dhani menjual tepung Porang merek CV Sanindo Putra seharga Rp 42 – 45 ribu/kg. Penjualan tepung Porang saat ini dikhususkan untuk pasar ekspor dengan  tujuan ekspor Jepang, Australia, dan Amerika. Tepung tersebut dikemas dalam karung plastik dan karung berbahan kertas packing semen dengan berat 25 – 50 kg/karung. Tepung Porang setelah dikemas kemudian dimasukkan ke dalam kardus dan dimasukkan lagi ke peti kemas/container. Diakui Dhani, ia mematok pemesanan dengan minimum order sebanyak 100 ton/tahun. “Kita melayani beberapa pangsa pasar yang lebih spesifik, baik segi warna, kekeringan, dan sebagainya. Jadi bisa dibilang tiap negara punya standar dam kuota tersendiri untuk tepung Porang yang mereka inginkan,” papar Dhani. Namun ia enggan menjelaskan standar dan kuota lebih detail.

Sistem pembayaran untuk penjualan ekspor tepung Porang menurut Dhani bisa melalui tiga cara, yakni pembayaran cash, LC (Letter of Credit), atau dibayar 2-3 minggu kemudian setelah barang diterima. Menurut Dhani, pemasaran tepung Porang ke luar negeri seperti yang ia lakukan bukan hal gampang karena berkaitan dengan pasar industri. Ia pun mengatakan, tiap negara punya standardisasi sendiri-sendiri menyangkut kriteria produk yang diminta dan mengeluarkan sertifikasi khusus kepada perusahaan eksportir. “Contohnya untuk Amerika, mereka tak sembarangan menerima tepung Porang. Hanya perusahaan eksportir yang memiliki certificate of registration saja yang barangnya bisa diterima. Dan CV Sanindo Putra merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi itu sejak tahun 2009 lalu,” jelas pria yang hobi jalan-jalan ini.

Menilik sistem pemasaran yang beriorientasi pasar ekspor, tak heran penjualan tepung Porang CV Sanindo Putra sudah berskala besar, dengan permintaan ekspor dari 1 negara per tahunnya saja sebanyak 300 ton. Saat ini ia melakukan ekspor ke 3 negara. Jika harga tepung Porang Rp 42 ribu/kg, maka omset yang diraup Dhani per tahun bisa mencapai Rp 12,6 miliar. Dengan keuntungan minimal 50% maka keuntungan yang didapat per bulannya sekitar Rp 525 juta. Sungguh nilai yang fantastis bukan?

Berbicara masalah keuntungan, Dhani lantas memaparkan bahwa setiap orang yang tertarik berbisnis ada baiknya justru tidak tergiur dengan melihat untung semata. “Kita harus ketahui resiko agar bisa antisipasi. Karena kita bermain dalam bisnis hasil bumi yang tak bisa diprediksi. Jika pasar overlap, pasar pun akan menyerap sedikit sedangkan barang melimpah. Saya berbicara begini karena saya pun sudah merasakan jatuh bangun berkali-kali. Jadi ada baiknya kita jangan memperhitungkan untung, karena kalau kita mengalami masa sulit, otomatis kita akan stuck dan sulit bisa bangkit lagi,” papar ayah dari Fikron dan Naufal ini

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.