Segarnya Bisnis Minuman Jelly Kreatif

0
910

 

Menawarkan produk baru yang masih awam di masyarakat, bukan hal mudah dalam dunia usaha, meskipun produk tersebut terkesan unik dan menarik dilihat. Apalagi terjadi dalam produk yang berbau kuliner. Ketakutan masyarakat akan isu-isu yang merebak mengenai penambahan bahan pengawet ataupun pewarna kimia dalam makanan, membuat produk Jelly aneka bentuk dan warna ini sempat tidak dilirik konsumen.

Ragam Variasi Unik. Bisnis kuliner yang bergerak dalam hal penjualan Jelly, baik dalam bentuk produk ataupun olahannya, seperti Es jelly, Puding Jelly, atau capuran Es Campur memang saat ini mulai banyak bertebaran. Hal inilah yang membuat persaingan bisnis ini mulai terasa. Namun dengan banyaknya pelaku usaha sejenis, justru menciptakan banyak inovasi produk dan olahan Jelly, yang bertujuan untuk menarik perhatian konsumen lebih banyak.

Dulu Jelly lebih dikenal dengan bentuk bulat atau persegi saja. Namun, dengan kreativitasnya, Alfian, pemilik Mumu Jelly menggebrak pasar produk minuman kenyal ini dengan aneka warna dan bentuk Jelly, mulai dari bentuk angka, huruf, hewan, bintang, seafood, mie, sushi, telur bahkan bentuk pelangi lapis. Dengan ini, ia pun berharap mampu memberikan sensasi lain dalam menyantap Jelly.

Kreativitas dalam penyajian Es Jelly sudah dilakukakan oleh Theresia Maria Mia, pemilik outlet Es Jelly Mamamia. Wanita yang akrab disapa Mia ini menjual tiga varian Es Jelly, yakni  Es Jelly Mie Baso berisi Jelly berbentuk mie, Jelly bentuk telur puyuh, Jelly bentuk telur setengah, Jelly bintang, bentuk bunga, bentuk buah, dan Jelly mutiara. Ada juga Es Jelly Bubba berisi 10–15 Jelly berbentuk bulatan dari ukuran kecil hingga yang besar, dengan tambahan sirup rasa coco pandan, susu, air gula, dan es batu. Dan Es Jelly Cendol, bentuknya seperti cendol yang banyak dikenal masyarakat, hanya saja berbahan baku Jelly.

Inovasi rasa dan tampilan juga ditawarkan oleh Paksi Dewandaru, pemilik Monster Jelly. Produk Monster Jelly adalah minuman Jelly yang terdiri atas sirup Monster Jelly, yang diproduksi oleh pabrik di kawasan Tulung Agung, Jawa Timur, yang ditambah dengan hasil blenderan serbuk Monster Jelly dengan es cube hingga membentuk cairan berbusa yang dituangkan dalam kemasan cup lalu diberi potongan Jelly. Sehingga menghasilkan minuman Jelly segar dengan aneka rasa.

Ada beberapa varian rasa Monster Jelly Original mulai dari rasa anggur, strawberry, leci, melon, vanila dan moka yang dijual Rp 4 ribu. Ada pula Monster Jelly Special Punch berupa campuran beberapa rasa buah, Monster Jelly Squash Rp 4,5 ribu, Tea Tasty dan Milk Tasty.

Selain menyajikan aneka bentuk Jelly, untuk lebih menarik perhatian konsumen terkadang ditambahkan pula bahan baku lain, seperti buah buahan yang dilakukan oleh Acen, pemilik Es jelly dan Buah Acen. Ia menawarkan aneka variasi Es Campur dengan penggabungan ragam bentuk Jelly, dengan buah lengkeng, buah peach, potongan jelly konyaku, natta de coco, serta potongan jeruk nipis pontianak.

Strategi Pemasaran. Meskipun memiliki kreasi dan inovasi produk yang menarik, tanpa adanya promosi dan pemasaran yang matang, sudah pasti tidak akan mampu mengembangkan bisnis tersebut. Hal ini pun juga disadari oleh Rusdi Yamani. Menurutnya, setiap pelaku usaha sudah pasti memiliki kiat sukses dan startegi marketing sendiri dalam mengembangkan usahanya.

Seperti yang dilakukan Rusdi, ia gencar berpromosi lewat media cetak, mengikuti pameran, dan menyebar brosur, hingga pemasaran dari mulut ke mulut agar Lovely Jelly miliknya bisa dikenal luas. “Bagi saya promosi yang baik itu sangat menunjang naik tidaknya seuatu usaha, maka dari itu saya selalu menyiapkan biaya khusus untuk kegiatan promosi,” ungkapnya.

Selain memantapkan teknik promosi dan pemasaran, pelaku usaha juga bisa menentukan segmentasi konsumen. Menurut Kafi Kurnia, pengamat Marketing, meskipun produk Jelly ini memiliki target pasar yang sangat luas, karena disukai oleh banyak kalangan  mulai dari anak-anak hingga orangtua, namun ada baiknya juga melihat segmen pasarnya, apakah mengah ke bawah atau ke atas. Hal tersebut dimungkinkan untuk membuat produk sesuai budget dan keinginan pasar.

Untung Besar. Dengan peminatnya yang cukup banyak, sudah pasti bisnis penjualan Jelly ini memiliki prospek yang cukup cerah, terlebih dalam hal pemasukan bersih. Banyak pelaku usaha penjualan Jelly ini mampu meraup untung cukup besar, yakni sekitar 40% lebih dari omset setiap bulan.

Sebut saja Akui, pemilik Es Jelly Mutiara, yang mampu menghasilkan pemasukan minimal Rp 12 juta lebih setiap bulan, dengan laba bersih mencapai 47-50%. Ada juga Unik Harianti, pemilik Unik Jelly dengan pendapatan per bulan Rp 30 juta serta untung bersih mencapai 43% bahkan lebih.

Kendala Usaha. Kendala usaha yang cukup mengganggu penjualan produk Jelly dan olahannya adalah musim hujan, yang terkadang membuat pemasukan menurun. Banyak juga pelaku usaha yang menemui kerugian, karena barang jualannya tidak laku, dan untuk menyiasatinya, pelaku usaha mengurangi bahan baku pembuatan Es Jelly agar tidak terbuang sia-sia bila tidak laku terjual. Hal inilah yang mampu meminimalisir kerugian.

Namun di luar kendala cuaca, diprediksikan bisnis kuliner penjualan Jelly ataupun Es Jelly akan semakin berprospek. Terlebih jika banyak bermunculan inovasi dan kreasi baru yang mampu menarik perhatian konsumen.

Penghasilan yang cukup besar dengan minimal untung bersih 40% dari omset, tentunya membuat bisnis ini memiliki potensi yang cukup cerah. Nah, pasti ini membuat Anda semakin tertarik bukan? Jadi, untuk Anda yang ingin membangun bisnis penjualan produk Jelly dan olahannya, bisa langsung membaca ulasannya di halaman-halaman berikut ini. Dan semoga memberikan inspirasi untuk Anda!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.