Usaha Bawang Goreng Rasa

0
72

 

Bawang goreng adalah salah satu komponen pelengkap yang banyak digunakan pada aneka jenis kuliner di Indonesia seperti Bakso, Soto, Sate, Nasi Uduk, dan yang lainnya. Tanpa taburan bawang goreng yang punya rasa dan aroma yang khas, beberapa jenis makanan akan terasa kurang sempurna. Karena cukup banyak jenis makanan yang membutuhkan bawang goreng sebagai pelengkap, usaha pembuatan bawang goreng punya pasar yang cukup besar. Pengusaha-pengusaha makanan dari kaki lima hingga restoran adalah pasar utamanya.

Dulu bawang goreng di pasaran hanya ada satu rasa saja yakni rasa original. Namun sejak enam bulanan yang lalu, mulai muncul di pasaran bawang goreng dengan pilihan rasa pedas, rasa manis, dan rasa asin. Tanpa menghilangkan aroma dan rasa dasarya yang khas, penambahan rasa pada bawang goreng membuat rasa bawang goreng menjadi lebih kaya. Konsumen jadi punya pilihan dalam memilih rasa bawang goreng disesuaikan dengan citarasa masakan.

Selain itu, dengan penambahan rasa bawang goreng bisa berdiri sendiri sebagai sebuah makanan yang dinikmati langsung, tidak hanya menjadi sebuah komponen yang harus melekat pada makanan lain.

Bahan Baku. Bawang merah sebagai bahan utama pembuatan bawang goreng dihasilkan dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Tangerang, Balaraja, Sumenep, Bandung, Brebes, Bogor, dan Palu. Salah satu bawang merah terbaik untuk dijadikan bawang goreng adalah  bawang merah asal Palu, karena kadar airnya lebih rendah dibandingkan bawang merah asal daerah lain. Namun karena harga bawang merah asal Palu mahal, kebanyakan produsen bawang goreng menggunakan bawang merah dari Sumenep. Bawang Sumenep kualitasnya juga cukup baik, namun masih di bawah bawang merah Palu, dan harganya lebih murah.

Dalam membeli bawang merah untuk bahan baku usaha, sebaiknya dibeli di pasar-pasar induk seperti Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur, karena di sana pedagang besar biasanya sudah memisahkan berdasarkan jenis dan asalnya, sedangkan di pasar atau pedagang eceran, seringkali tidak melakukannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bawang merah antara lain, pertama, pilih bawang merah yang memiliki bentuk umbi yang tidak terlalu besar karena bawang merah dengan ukuran tersebut kadar airnya rendah. Kedua, perhatikan warnanya, bila warna bawang kebiru-biruan maka itu bukan bawang yang baik namun apabila warnanya merah itu menandakan bawang merah yang baik. Ketiga, pilihlah bawang merah yang teksturnya keras/sekel. Keempat, pastikan bawang merah yang masih ada akar di bagian bawahnya sebab apabila ada akarnya itu menandakan kesegaran bawang merah masih terjaga.

Pelengkap dan Peralatan. Selain bawang merah sebagai bahan utama, bahan baku lain yang digunakan adalah  minyak goreng padat, garam, gula, serta cabai merah kering yang sudah dihaluskan.Minyak goreng padat dipilih untuk menggoreng bawang merah karena jenis minyak ini dapat menghasilkan bawang goreng yang lebih kering sehingga kualitasnya lebih unggul dari bawang goreng yang menggunakan minyak goreng biasa, sementara cabai bubuk biasanya digunakan untuk varian rasa pedas.

Sedangkan peralatan yang perlu dipersiapkan adalah peralatan masak umumnya seperti pisau, talenan, wajan, namun apabila ingin menghasilkan kematangan sempurna pada bawang goreng gunakan deep fryer (penggorengan dalam), dan gunakanlah stopwatch sebagai pengukur waktu saat menggoreng, serta siapkan mesin spinner yang berguna sebagai peniris minyak bawang goreng dengan begitu bawang goreng menjadi renyah, dan rendah lemak.

Cara Membuat. Membuat bawang goreng diperlukan ketelitian saat mengorengnya. Untuk itu janganlah hanya mengandalkan kedua mata sebagai pengamatan untuk melihat kematangannya, gunakanlah stopwacth sebagai alat pengukur waktu mengoreng.

Langkah-langkah membuat bawang goreng anek rasa. Pertama kupaslah kulit bawang merah, lalu iris bawang merah bisa manual ataupun menggunakan alat pengiris bawang. Selanjutnta gorenglah bawang merah dengan suhu 60 °Celcius selama 12 menit, jika bawang berubah warna menjadi kuning kecokelatan angkatlah, lalu tiriskan dengan menggunakan mesin spinner. Bila sudah tiris minyaknya tuangkan bawang goreng ke sebuah wadah lalu dinginkan sekitar 4 menit, baru taburkan gula, garam dan cabai merah kering yang sudah dihaluskan lalu aduk-aduk hingga merata ke bawang goreng secara terpisah.

Untuk mengemas, saya memilih kemasan dari toples plastik PET dengan bentuk unik dan berbagi ukuran, tujuannya agar nilai marketing bawang goreng aneka rasa terkuak sehingga mempunyai daya tarik tersendiri. Selain botol kemasan juga bisa dibuat kemasan refill, dengan plastik biasa yang agak tebal dengan kapasitas 100 gram hingga 1 kg. Umumnya satu kilogram bawang merah mentah akan menjadi sekitar 0,3 kilogram bawang merah goreng dan memiliki daya tahan 4 – 5 bulan tanpa bahan pengawet.

Pemasaran. Banyak cara memasarkan bawang goreng kepada konsumen karena hampir semua makanan atau masakan memerlukan bawang goreng sebagai pelengkap ataupun topping . Namun bawang goreng rasa yang saya produksi, dengan bahan baku berkualitas dan kemasan apik, pasarnya lebih banyak kalangan menengah ke atas, karena harga jualnya  per 100 gr Rp 17.500 – 230 gr Rp 35.000. Untuk itu saya memilih supermarket sebagai lokasi pemasaran pada produk ini.

Banyak cara bisa dilakukan, misalnya menawarkan pada toko-toko bahan makanan, atau titip jual secara konsinyasi. Selain itu pemasaran juga bisa dilakukan ke cafe atau restoran dengan sistem kontrak. Guna memperluas pemasaran pada produk ini bisa menggunakan media massa cetak dan internet untuk berpromosi.

Prospek dan Kendala. Bawang goreng kerap digunakan banyak orang untuk menabur makanan di setiap masakan yang dibuatnya. Apalagi masyarakat Indonesia cenderung menggunakan bawang goreng siap saji dibanding membuat sendiri, maka momen ini bisa saja mendatangkan peluang usaha dengan prospek yang mengiurkan.

Meski begitu kendala dalam usaha pembuatan bawang goreng pasti selalu ada yakni tingginya harga bawang merah di pasaran saat suplai sedang menurun. Penyebabnya bila mendekati hari raya seperti lebaran, Natal, tahun baru, dan musim hujan. Sehingga membuat produsen bawang goreng kesulitan mendapatkan bawang merah dipasar.

 

Oleh: Yossa Setiadi. Ssos., MM,

Produsen Bawang Goreng Renyah (Bawang SOY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.