Top Mortar Gak Takut Hujan
Home Bisnis UMKM Produksi 5.000 Meja Belajar Lipat Dari Limbah Kayu

Produksi 5.000 Meja Belajar Lipat Dari Limbah Kayu

0

Saat mendapat informasi dari seorang kerabat yang tinggal di Manado, Sulawesi Utara bahwa belum ada penjual meja belajar lipat kayu di daerah tersebut, Faisal tertarik untuk memproduksi meja belajar lipat kayu, untuk dipasarkan ke sana, karena ia melihatnya sebagai peluang besar. Dibantu oleh Andi pamannya, Faisal mulai merintis usaha dengan menempati rumah sang paman di Cileungsi sebagai tempat produksi.

Faisal mengeluarkan modal awal yang totalnya sekitar Rp 6 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli peralatan produksi seperti gergaji mesin berbentuk bulat yang dibelinya seharga Rp 1,3 juta, mesin serut kayu seharga Rp 850 ribu, serta bahan baku seperti kayu jati dan triplek. Karena, belum memiliki pengetahuan dan keterampilan membuat meja belajar lipat kayu, maka Faisal membeli meja belajar lipat kayu yang banyak dijual di pasaran untuk dijadikan contoh dan patokan dalam membuat meja belajar lipatnya. “Ternyata membuat meja ini tidak terlalu sulit, sekali melihat saja sudah bisa membuatnya,” terang Faisal.

Awalnya Faisal hanya memproduksi 500 meja belajar lipat, untuk dikirim ke kerabatnya yang berada di Manado yang menjadi  distributor pertama meja belajar lipat produksinya. Dari situ permintaan akan meja lipat mulai bertambah hingga ke kota-kota tetangga seperti Makassar. Dengan bertambahnya pesanan, maka Faisal menganggap perlu melakukan penambahan peralatan usaha. Faisal menghabiskan hingga Rp 30 juta untuk investasi tambahan membeli beberapa peralatan seperti mesin pemotong dan lain-lain. Walaupun baru berjalan sekitar enam bulan, kini dalam sebulan, Faisal bisa mengirimkan hingga 5.000 buah meja belajar lipat dengan omset mencapai sekitar Rp 60 juta.

Variasi Produk. Faisal membuat dua jenis meja lipat. Jenis pertama ialah meja lipat penuh, yang bagian permukaan meja maupun kaki meja bisa dilipat dan yang kedua ialah meja lipat sebagian yang hanya bagian kakinya saja yang bisa dilipat.

Meja lipat penuh terbagi dalam tiga ukuran, meja lipat penuh ukuran 45 x 15 cm (ukuran paling panjang) dijual dengan harga Rp 17 ribu per buah, ukuran 40×15 cm (ukuran sedang)  Rp 15 ribu per buah dan meja lipat penuh ukuran 33 x 20 cm (ukuran kecil) Rp 13.500. Sedangkan meja lipat separuh hanya ada ukuran 40 x 33 cm dijual dengan harga Rp 12 ribu. “Untuk saat ini meja lipat jenis lipat sempurna dengan ukuran sedang paling diminati oleh konsumen,” ujar Faisal.

Meja-meja tersebut pada bagian permukaannya dihiasi gambar dari poster tokoh kartun dan karakter lain yang tengah disukai anak-anak, antara lain Barbie, Naruto, Power Ranger, Upin Ipin, Sponge Bob, Princess, Spiderman, Ben 10, Barbie dan Thomas & Friend.

Diakui Faisal, produk meja lipat buatannya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk yang lain terutama dalam hal kerapian dan kehalusan kayu yang digunakan. “Kalau meja lipat lain kayu yang digunakan tidak dibersihkan atau diserut terlebih dahulu jadi masih kelihatan kasar, sedangkan produk saya halus,” tambahnya sambil memperlihatkan contoh meja lipatnya.

Dari 5.000 meja lipat yang dijual, 3.000 buah dikirim ke Manado (Sulawesi Utara) dan sekitar 2.000 buah dikirim ke bebeberapa daerah di  Sulawesi Selatan, seperti Makassar dan ada sebagian kecil yang dijual di Jabodetabek.

Produksi. Untuk memproduksi meja lipat, Faisal memanfaatkan kayu-kayu limbah industri yang merupakan kayu sisa dari perusahaan-perusahaan mebel yang ada di sekitar tempat produksinya. Faisal memilih kayu Jati Belanda untuk bahan baku pembuatan meja lipatnya terutama untuk kaki meja sedangkan untuk permukaan mejanya Faisal memilih papan triplek dengan ketebalan 1,5 cm dengan harga per lembar Rp 47 ribu. Kayu Jati Belanda dipilih Faisal sebagai bahan baku selain karena mudah didapat, kayu ini juga memiliki beberapa keunggulan di antaranya memiliki urat kayu yang bagus (garis-garis kayunya teratur), ringan namun kuat dan apabila dipaku tidak pecah. Harga limbah kayu Jati Belanda per batang sebesar Rp 2.500. “Karena kayu itu kayu limbah maka ukuran dan jumlah dalam satu ikat tidak menentu,” tambahnya.

Selain bahan baku kayu dan triplek Faisal juga menggunakan poster bergambar kartun yang dibelinya dari pasar sekitar rumahnya  dengan harga Rp 550 per poster. Dalam sebulan Faisal menghabiskan anggaran sekitar Rp 30 juta untuk membeli bahan baku seperti kayu Jati Belanda dan papan serta bahan-bahan pendukung seperti poster dan lain-lain.

Menurut Faisal, membuat meja belajar lipat tidaklah sulit, yang pertama dilakukan adalah memotong papan atau triplek sesuai dengan ukuran meja yang diinginkan, misalany dengan  ukuran 45×15 cm, 40×15 cm, 33×20 cm dan ukuran 49×33 cm. Setelah memotong papan, langkah berikutnya ialah memotong kayu untuk kaki meja dengan ukuran yang sangat bervariasi seperti 20 dan 30 cm.

Papan yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempeli poster yang dinginkan. “Untuk meja lipat penuh, papan dipotong dua dengan ukuran yang sama,” jelasnya. Setelah dipasang poster, kemudian papan dirangkai dengan kayu yang dijadikan kaki meja. Poster yang digunakan untuk meja belajar lipat ini adalah poster biasa dari kertas karton yang banyak dijual di pasar dan setelah itu poster dilapisi plastik PP, agar poster lebih terlindungi serta tidak gampang rusak.

Pemasaran. Karena Faisal adalah pemain baru dalam usaha pembuatan meja belajar lipat dan untuk pasar Jabodetabek sudah dibanjiri oleh para pemain lama, maka Faisal memilih memasarkan produknya ke luar  Jawa  seperti Manado Sulawesi Selatan)  dan sekitarnya. Untuk pasar luar Jawa masih sangat terbuka karena saat ini belum banyak pelaku usaha ini yang menyasar pasar tersbut,” tambahnya. Untuk mencari konsumen dari daerah yang jauh, selain lewat kerabatnya yang menjadi distributor, Faisal juga memanfaatkan internet.

Untuk memperluas pasar, Faisal menggunakan sistem distributor dan keagenan untuk menjual produknya. Syarat menjadi distributor, pembelian awal minimal Rp 5 juta dan selanjutnya jumlah pemesanan minimal Rp 5 juta per bulan. Sedangkan untuk menjadi  Agen, pembelian awal minimal Rp 2,5 juta dan selanjutnya jumlah pemesanan minimal Rp. 2,5 juta per bulan. Disarankan untuk Distributor maupun Agen, mengambil semua jenis meja lipat yang diproduksi Faisal, agar banyak pilihan yang bisa diberikan kepada konsumen. Keuntungan untuk agen dan distributor adalah mendapatkan harga yang lebih murah dari harga yang ada selain itu akan medapatkan bantuan promosi. Untuk biaya pengiriman sendiri, seluruhnya ditanggung pembeli, menggunakan jasa pengiriman seperti TIKI.

Dalam rangka merambah pasar yang belum tergarap terutama di daerah maka Faisal akan membuat beberapa tempat produksi di beberapa lokasi seperti Solo maupun Jember. Untuk memenangkan persaingan dengan usaha sejenis Faisal selalu melakukan inovasi baik itu dari segi bentuk maupun gambar-gambar yang ditampilkan pada meja belajar buatannya.

Saat ini, Faisal juga sudah mulai menawarkan produk meja belajar lipatnya ke beberapa perusahaan. “Saya sudah mulai menawarkan meja belajar ini sebagai media pormosi, jadi gambar/poster yang tadinya adalah gambar kartun nantinya akan diganti menjadi gambar perusahaan atau lainnya,” terang Faisal.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Exit mobile version