Nikkei Asia Prize Nobatkan Nadiem Makarim Tokoh Teknologi Termuda Kategori Inovasi Ekonomi dan Bisnis

0
399

Nikkei Asia Prize kembali memberikan penganugrahan yang ke-24 untuk Inovasi Ekonomi dan Bisnis. Penghargaan ini telah rutin diberikan Nikkei Inc sejak 1996 bagi individu maupun organisasi yang berkontribusi pada pengembangan kawasan dan membantu menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Asia.

Nadiem dinobatkan sebagai tokoh teknologi penerima penghargaan termuda se-Asia di sepanjang sejarah Nikkei Asia Prize. Nadiem juga menjadi anak bangsa pertama yang berhasil meraih penghargaan bergengsi pada kategori inovasi ekonomi dan bisnis.

Menurut Nikkei, penghargaan diberikan karena peran serta GOJEK mendorong pertumbuhan ekonomi, memudahkan keseharian pengguna, hingga meningkatkan pendapatan mitranya.

Seperti diketahui GOJEK telah berkembang menjadi superapp, platform mobile on-demand terbesar pilihan masyarakat Indonesia. Dalam kurun waktu satu tahun, GOJEK yang berkantor pusat di Indonesia kini telah berekspansi ke Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina.

”Ini suatu kehormatan bagi kami menerima penghargaan dari Nikkei, institusi paling berpengaruh di Jepang yang diakui di Asia. Sejak awal mendirikan GOJEK, kami selalu berusaha untuk mempermudah hidup masyarakat dengan menggunakan teknologi. Saya bersyukur menjadi bagian dari tim inovatif yang mampu mewujudkan berbagai hal menjadi mungkin setiap harinya,” kata Nadiem.

Sebagai pemenang, Nikkei Asia Prize juga memberikan penghargaan senilai USD30.000 atau senilai dengan Rp430 juta. Reward tersebut akan disumbangkan Nadiem Makarim guna membantu biaya pendidikan anak dari para mitra driver GOJEK di Indonesia. Yang menarik, nilai donasi tersebut akan digandakan GOJEK, sehingga terdapat total dana sebesar USD60.000 (sekitar Rp860 juta).

Tokoh Indonesia yang telah mendapatkan penghargaan Nikkei Asia Prize di antaranya Bapak Kependudukan Indonesia Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (1996, kategori pertumbuhan regional), Christine Hakim (2002, kategori kebudayaan), serta Ki Manteb Soedarsono (2010, kategori kebudayaan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.