Tas Sepeda Hydropack Aerodinamis Makin Diminati

0
642

 

Pria yang akrab disapa Erlan ini menceritakan jika usaha yang digelutinya sekarang dimulai dari hobinya mengayuh sepeda MTB (mountain bike). Pada saat itu Erlan merasa hobinya tersebut sangat menguras kantong karena harga sparepart dan perlengkapan sepeda cukup mahal. Karena hal itu, pada tahun 2010 Erlan membuka usaha penjualan sparepart sepeda second yang didapat dari beberapa toko sepeda dan kemudian dijual kembali melalui internet. “Memang waktu itu saya belum terlalu serius jalaninya, tapi tetep penjualannya bagus banget. Dari situ saya mikir hobi saya ini bisa menghasilakan duit, jadi kenapa nggak saya seriusin,” kenangnya.

Dari sparepart second, Erlan mulai berpikir merambah ke fashion sepeda. Setelah memperhatikan dan merasakan, ia menilai tas sepeda dan jaket cukup bagus untuk dikembangkan dalam bisnisnya. “Saya sempat searching tas dan jaket sepeda harganya masih mahal. Sedangkan buat saya membeli barang itu dengan harga mahal pasti berpikir dua kali. Dan saya rasa banyak orang yang berpikir seperti saya,” cerita pria kelahiran Jakarta ini. Hal itu membuat Erlan berpikir untuk membuat tas dengan kualitas yang tidak kalah bagus namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Modal Awal. Setelah mencari informasi ke sana ke mari, Erlan kemudian mendatangi seorang pengrajin tas di daerah Bandung, dan memilih salah satu sampel tas. “Kebetulan dia (pengrajin) sudah punya beberapa sampel tas yang sudah pernah dibuat. Dari sampel tersebut ada satu tas yang memang sesuai dan menurut saya akan laris. Dari situ saya modifikasi bentuk dan menambahkan fungsi, kenyamanan, dan safety menjadi tas sepeda,” jelasnya. Herlam mulai memproduksi 100 tas sepeda rancangannya dengan biaya produksi (modal awal) sebesar Rp 5,5 juta pada pertengahan 2011. Sayangnya karena pengrajin dan Erlan baru pertama kali memproduksi tas sepeda, produksi awal sebanyak 5 buah yang digunakan untuk sampel gagal dan tidak dipasarkan oleh Erlan.

Dari kegagalan tersebut Erlan mulai merevisi material bahan yang tidak cocok, jahitan yang kurang bagus, dan beberapa tambahan. “Memang harga produksinya murah, tapi kalau modelnya kaya begitu saya yakin nggak akan diserap pasar juga,” tambahnya. Alhasil dengan penambahan dan perbaikan tersebut, tas sepeda yang dirancang Erlan pun mulai diproduksi dan dipasarkan melalui internet.

Hydropack. Tas yang diproduksi Erlan adalah tas ransel hydropack yang dikhususkan untuk pengendara sepeda. Dijelaskan Erlan tas ransel sepeda tidak sebesar bag pack untuk harian, umumnya tas sepeda memiliki ukuran yang lebih kecil yang memiliki volume hanya sekitar 8-10 liter saja disesuaikan dengan kebutuhan bersepeda. Dari segi bentuk, ukuran tas sepeda selalu lebih kecil dari lebar badan pemakainya yang ditujukan untuk aerodinamis. Pada tas buatannya, ukuran yang diambil Erlan adalah 19 x 45 x 15 cm (Lebar x Tinggi x Dimensi).

Dari segi fungsinya, tas hydropack biasanya hanya dikhususkan untuk membawa water bladder (wadah pembawa air minum) bermuatan 1,5 sampai 2 liter air minum. Namun pada tas buatan Erlan, bagian dalam ditambahkan multifungsi pocket (kantung) untuk menyimpan dompet dan barang kecil lainnya, serta satu gantungan multifungsi untuk menggantung kunci mobil/motor. “Biasanya yang dibawa hanya sebuah baju, jaket hujan, dan water bladder (untuk membawa air minum),” jelasnya. Pada bagian tali gendong dilengkapi dengan slot flexible berbahan elastis untuk menahan selang water bladder. Sedangkan jalur selang water bladder keluar dari bagian depan atas tali gendong untuk menghindari air masuk saat sedang hujan yang juga bisa digunakan untuk jalur kabel head set handphone atau music player.

Dari sisi safety-nya tas hydropack buatan Erlan juga dilengkapi dengan tali pengaman dada dan perut sehingga aman dan tidak goyang digunakan di medan yang ekstrem sekalipun. Selain itu, Erlan juga menggunakan bahan parasit waterproof berkualitas yang tahan air, pada bagian punggung belakang juga diberikan busa yang berfungsi sebagai sirkulasi udara untuk menambah kenyamanan dalam bersepeda. Sementara pada bagian luar ditambahkan tali elastis multifungsi untuk mengikat barang bawaan yang tidak masuk dalam tas dan juga dilengkapi reflector stripes yang menyala ketika terkena cahaya, sehingga aman bersepeda di malam hari.

Produksi. Tas sepeda yang diberi label Erlando Hydropack ini berwarna hitam dengan tiga pilihan kombinasi biru, abu-abu, dan merah. Harga jual tas ini juga terbilang cukup murah. Jika pada umumnya tas merek luar dan lokal yang sudah memiliki nama menjual produk sejenis dengan harga Rp 250 sampai jutaan rupiah, maka Erlando Hydropack hanya menjual dengan harga Rp 95 ribu saja. Bahkan jika membeli setengah lusin atau lebih, maka Erlan akan memberikan harga grosir yaitu Rp 75 ribu per pcs.

Untuk urusan produksi, Erlan menyerahkan sepenuhnya ke pengrajin di daerah Kopo, Bandung untuk mengerjakan produknya mulai dari belanja bahan baku, sampai finishing. “Karen saya pikir Bandung sangat lengkap mau cari bahan apa aja ada di situ dan pengerajin juga banyak. Jadi saran saya kalau mau buat ya main-main saja ke daerah situ, pilih pengrajin yang cocok,” ujar lelaki jangkung kelahiran 1976 ini.

Biaya produksi satu buah tas sepeda hydropack siap jual, Erlan mengeluarkan sebesar Rp 55 ribu lengkap dengan logo mereknya. Meski demikian, desain tas tetap dilakukan oleh Erlan sendiri dengan memperhatikan tren di pasaran. “Untuk tas, baru model hydropack ini yang saya keluarkan. Tapi pasti ke depan akan ada model lainnya, tapi untuk saat ini saya juga sudah buat jas hujan sepeda,” tuturnya.

Dalam sebulan Erlan mampu memproduksi dan menjual sedikitnya 50-60 tas sepeda dengan omset rata-rat sebesar Rp 5,7 juta. Dijelaskan Erlan, keuntungan yang diraih dari omset tersebut sekitar 35-40% atau sekitar Rp 2 – 2,3 juta per bulan.

Pemasaran. Pertama kali memperkenalkan produknya, Erlan memanfaatkan komunitas pecinta sepeda MTB di perumahan tempat tinggalnya. Erlan menawarkan produknya dengan harga grosir pada saat itu, baru kemudian dari teman-temannya tersebut mulai datang pesanan 6-10 tas untuk mereka jual kembali. Setelah merasa produknya sudah diterima, maka Erlan mulai memasarkannya melalui internet dengan memanfaatkan situs jual beli gratis di bukalapak.com.

Selain memasarkan produknya melalui online, Erlan juga bekerja sama dengan sebuat toko sepeda di bilangan Bintaro, Tangerang, dengan sistem titip jual. Meski begitu diakui Erlan jika konsumennya datang dari informasi yang didapatkannya melalui internet. “Penjualan malah lebih banyak dari online. Kalau dari persentase ya sekitar 90% penjualan datang dari online,” jelasnya. Dari internet pasarnya tidak hanya datang dari wilayah Jakarta, melainkan banyak datang dari Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Kendala. Sejak memulai usahanya tersebut, Erlan masih tercatat sebagai salah satu karyawan di sebuat perusahaan swasta yang bergerak di bidang IT. Karena hal itu pula, Erlan merasakan kendala, terutama kesulitan membagi waktu antara bekerja dengan usaha.

Namun sampai saat ini Erlan bisa mengatasinya dengan membatasi kegiatan usahanya pada waktu libur di hari Sabtu dan Minggu. “Di luar itu saya fokus sama kerjaan. Makanya saya lebih fokus promo melalui online dan barang akan saya kirim pakai jasa pengiriman JNE atau TIKI. Jadi gak terlalu mengganggu pekerjaan,” bebernya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.