Strategi Sukses Kembangkan Kedai Kopi dengan Modal Patungan

0
411
Kedai Kopi (dok tangerangekspres.co.id)

 

Bekerja sama dengan orang lain (Patungan) dalam membuka usaha merupakan alternatif untuk memulai berbisnis. Meski demikian, memang pilihan ini ada kelebihan dan kekurangannya.

Dari segi manfaat, membuka usaha dengan patungan pasti akan meringankan beban atau menurunkan risiko dalam menjalankan sebuah usaha. Mengapa? Karena kekurangan modal bisa ditutup dengan melibatkan keikutsertaan orang lain. Juga dimungkinkan transfer pengetahuan atau keahlian kalau ternyata teman kita memiliki kompetensi bisnis yang lebih dari yang kita miliki. Jejaring atau network juga bisa bertambah luas karena ditambah dengan jejaring dari mitra. Selain itu risiko bisnis menjadi lebih tersebar karena kita tidak sendirian menanggungnya. Tentu dengan bekerja sama kita merasa terbantu dengan adanya mitra.

Segi buruknya terjadi kalau masing-masing pihak yang bekerja sama mulai mementingkan egonya. Ini bisa terjadi kalau salah satu pihak tidak mau kalah, maunya menjadi yang lebih unggul atau mendapat bagian yang lebih besar dari yang telah disepakati. Apalagi kalau sudah sukses, seringkali keinginan untuk menikmati kesuksesan sendiri atau serakah menjadi biang rusaknya kerja sama yang dibangun dari awal. Nafsu serakah ini yang berbahaya sehingga mengorbankan hubungan baik yang terbentuk. Kalau sudah urusan uang, seringkali hubungan baik dilupakan. Namun ini kembali pada sifat atau individunya dan tidak berarti memulai usaha dengan bekerja sama tidak bisa dilakukan.

Prinsip yang harus dipegang kalau kita mau membangun bisnis dengan cara patungan adalah pertama, pastikan bahwa kerja sama ini memungkinkan terjadinya sinergi. Jadi dalam memulai usaha bersama pertimbangkan sinergi yang akan terbentuk. Sebaiknya jangan bekerja sama dengan orang yang sama sekali tidak memberi nilai tambah pada bisnis yang akan dibangun.

Prinsip kedua, carilah mitra yang bisa dipercaya. Ini sangat penting. Kepercayaan adalah fondasi dasar untuk bekerja sama. Untuk itu, seringkali dalam memilih mitra kita lebih suka mengajak teman dekat atau dari lingkungan saudara. Meski ini tidak selalu sebagai jaminan tetapi perasaan kita lebih nyaman bergabung dengan orang yang sudah kita kenal lama. Namun demikian tetap perlu diperhatikan dan diamati sifat dan perilaku orang yang akan diajak sebagai mitra. Ada orang yang menggunakan “hallo effect” dalam menilai mitra. Artinya begitu bertemu langsung merasakan ada tidaknya getaran atau feeling, ‘chemistry’, komunikasi yang klop, kesamaan visi atau tujuan. Orang seperti ini mengandalkan perasaan batinnya. Meski ini barulah menilai dari kesan awal, tetap perlu menyelidiki lebih jauh mitra yang akan diajak.

Seperti dikatakan sebelumnya kejujuran sangat penting dalam bermitra. Kalau kita tahu seseorang gampang bohong atau sering menipu dari soal yang kecil maka sebaiknya pertimbangkan ulang kalau mengajaknya bermitra bisnis. Carilah mitra yang setia kawan. Dari segi perilaku juga perlu mengamati gaya hidup orang atau teman yang akan diajak bermitra. Hati-hati mengajak orang yang hidupnya hura-hura, pengeluaran pribadinya tak terkendali alias besar pasak daripada tiang. Jadi sebisa mungkin mengetahui kondisi “luar dalam” mitra yang akan kita ajak bekerja sama dalam bisnis.

Prinsip ketiga dalam bermitra bisnis adalah bedakan hubungan teman dengan bisnis. Artinya kita memiliki peran yang berbeda sebagai teman dan sebagai mitra bisnis. Sebagai mitra bisnis, urusan yang berhubungan dengan bisnis harus dihitung sebagai bisnis. Artinya perlu pemisahan dari segi modal usaha dan kepentingan pribadi. Uang yang keluar atau masuk di bisnis tidak boleh digunakan untuk keperluan pribadi begitu saja. Sebagai contoh mitra bisnis kita tidak boleh seenaknya menggunakan uang hasil bisnis untuk kepentingan pribadi.

Prinsip keempat, lakukan “hitam di atas putih”. Artinya segala keputusan atau kesepakatan tidak sekadar diucapkan di mulut. Segala sesuatunya harus dimatangkan di awal termasuk misalnya dalam setor modal atau pembagian hasil. Jangan sungkan memakai formalitas di sini. Kalau perlu, gunakan notaris atau saksi dengan menggunakan kertas bermeterai. Pembukuan atau catatan bisnis mutlak dilakukan. Saya temui kasus-kasus yang menyebabkan hubungan rusak dengan mitra karena segala sesuatu urusan bisnis tidak tercatat atau terdokumentasi dengan baik. Akibatnya di kemudian hari timbul perselisihan, saling tuduh, lupa atau melupakan kesepakatan yang hanya diucapkan. Jadi prinsip “hitam di atas putih” atau catatan mengenai penerimaan uang, penerimaan barang, setor modal, ambil uang, dll harus tegas dalam bermitra bisnis!

Semoga solusi ini menjawab masalah dalam membangun bisnis dengan bekerja sama atau bermitra. Selamat memulai usaha.

 

Oleh: Istijanto Oei,

Pelatih dan Konsultan Bisnis Prasetiya Mulya,

Penulis Buku: ”Jurus-jurus Sakti Wirausaha”

dan ”Rahasia Sukses Toko Tionghoa”

www.istijanto.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.