Ditinggal Paritel Besar, Sejumlah Mal Ubah Konsep

0
583

Membuka tahun 2019, dua paritel besar memutuskan munutup sejumlah gerainya. Setidaknya 26 cabang pusat perbelanjaan HERO resmi tutup di bulan Januari  dan 6 gerai di akhir Juli ini, sedangkan Central menutup 1 dari 3 gerainya pada Februari 2019.

Penutupan paritel besar telah terjadu sejak 2 tahun lalu dengan tutupnya 7 Eleven Juni 2017, Ramayana menutup beberapa gerai di bulan Agustus, Lotus di bulan Oktober, Matahari Dept Store meutup beberapa gerai pada Desember dan gerai lisensi dari Inggris Debenhams berakhir di tahun tahun 2017. Begitu juga di tahun 2018 GAP, Banana Republik, New Look, Dorothy Parkins dan Clarks menutup sejumlah gerainya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan tutupnya toko ritel melakukan penutupan adalah hal yang wajar. Sebab, penutupan tersebut bergantung pada kinerja toko itu sendiri.

Sementara itu, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan bisnis ritel di Indonesia tidak akan banyak terpengaruh tren belanja online (online shopping).

“Pengaruh (tren online shopping) tidak terlalu besar karena orang ke mal untuk cari pengalaman, tidak hanya beli barang,” katanya.

Berhentinya operasional gerai-gerai menjadi implementasi dari perubahan konsep. Kondisi ini tidak bisa disebut sebagai ‘penutupan’ atau melemahnya daya tarik bisnis ritel sebagai dampak dari digitalisasi.

Ferry menyebut saat ini ada kecenderungan tren menjadikan mal sebagai tempat untuk aktivitas bisnis (meeting). Berbeda dengan 2018, saat itu mal masih didominasi penyewa makanan dan minuman. Tahun ini, masyarakat akan banyak menjumpai, selain restoran, juga toko busana dan gerai kecantikan.

“Orang masih ramai datang ke mal untuk mencari sebuah pengalaman, bukan hanya beli barang. Shopping center juga sekarang jadi tempat meeting,” paparnya.

Senior Associate Director Retail Service Colliers Steve Sudijanto mengatakan, konsep penutupan retail Hero, Central Department Store dan Metro Department Store di Manado juga ditutup sementara karena paritel tersebut sedang melakukan perubahan konsep dengan adanya penetrasi online yang membuat dunia ritel berubah. Apabila dulu masyarakat yang ingin belanja harus pergi ke toko, kini mereka dapat melakukannya melalui Android.

Perubahan dunia ritel sudah dan akan terus terjadi. Steve menjelaskan, masyarakat dulu harus berbelanja di jam tertentu karena adanya pembatasan waktu operasional. Konsep ini kemudian diantisipasi dengan adanya minimarket 24 jam seperti Circle K. Kini, belanja menjadi lebih fleksibel dengan platform online. Dengan tuntutan digital, Stevel mengatakan, pelaku ritel harus melakukan reformasi konsep guna memenuhi cara belanja yang dapat mengakomodir dua tipe pembeli. Yakni, mereka yang suka berbelanja online dan atau offline atau juga kerap disebut sebagai pemasaran omnichannel.

Steve melihat, tren ini juga harus diantisipasi pusat perbelanjaan atau mall yang menjadi ‘rumah’ sejumlah ritel. Sebab, saat ini, pusat perbelanjaan bukan lagi digunakan sebagai tempat belanja, melainkan sosialisasi dan berbisnis.

Dengan kondisi ini, Steve menganjurkan, para pengembang harus beradaptasi, memahami keadaan pasar dan mengerti permintaan pasar. Pusat perbelanjaan harus semakin fokus ke tempat berbisnis, relaksasi dan rekreasi seperti kafe yang menjadi daya tarik utama masyarakat untuk singgah ke pusat belanja. Hal ini harus dilakukan tanpa menghilangkan fungsi sebagai tempat belanja.

Menghadapi minggatnya sejumlah paritel besar dari mal di banyak daerah, sejumlah mal melakukan perubhan wajah, strategi hinga meronovasi tenan-tenan salah satunya memperluas areal food court jadi area nyaman hangout penunjung.

Setelah Pondok Indal Mal menghadirkan lokasi food court terpisah yang buka hingga tengah malam, yang disusul pemindahan lokasi food court Grand Indonesia, perubahan juga dilakukan pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Demi menghadirkan suasana berbeda, pihak manajemen rela menutup food court selama 6 bulan hingga menghasilkan perwajahan baru yang lebih cozy. Food court yang berada dilantai 3 itu berubah muali dari sisi desain yang mengusung konsep modern dicampur sentuhan tradisional, hingga menciptakan suasana lapang dan tempat duduk memanjang sehingga asyik digunakan bersama-sama

Konsep baru foodcourt ini mempermudah pengunjung untuk melihat-lihat tenant di sekeliling foodcourt karena area dibiarkan terbuka tanpa sekat. sebanyak 760 kursi siap menampung pengujung mal. Tenant yang bergabung pun bertambah menjadi 24 gerai, yang terdiri dari makanan internasional hingga lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.