Kebijakan Pemerintah dalam Penyediaan Rumah Bersubsidi

Rumah Subsidi

Jakarta – Untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat pemerintah mendorong kebijakan program rumah bersubsidi dengan hunian vertikal alias rumah susun dan dengan menciptakan demand. Hal tersebut telah diungkapkan oleh Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna.

“Kita dorong yang pertama tadi bagaimana rumah vertikal ini bisa menjadi primadonanya program. Itu baru dari sisi masyarakatnya,” kata Herry, Minggu (17/4/2022).

Saat ini pemerintah akan memprioritaskan rumah vertikal, dalam bangunan bertingkat rendah (low rise), dari penerima manfaat yang ingin memanfaatkan ruang vertikal.

“Yang subsidi misalnya, kita prioritaskan untuk vertikal untuk mengatasi tanah. Bayangkan kan, kalau dia satuan kan dapat satu unit, tapi kalau dia bisa 4, bisa 4 lantai di luasan yang sama,” terangnya.

Dengan membangun rumah vertikal, masalah mahalnya harga tanah juga bisa diatasi. Bila pada rumah tapak, satu bidang tanah hanya bisa dibangun satu rumah. Pada rumah vertikal, pengembang bisa membangun beberapa rumah sekaligus di atas satu bidang tanah yang sama.

Dengan demikian, mahalnya harga tanah bisa diantisipasi dengan banyaknya hunian yang dibangun.

“Dari sisi supply-nya kita buat kemudahannya. Bagaimana membuat rumah vertikal di perkotaan, dengan harga yang lebih efisien, tanah misalnya. Tapi setelah dicek tanah memang mahal, cuma kalau dia lantainya tinggi banget pengaruhnya nggak besar sebenarnya. Tanah iya masalah, cuma maksud saya itu bukan satu-satunya yang dominan sekali, karena sebetulnya kalau ini bisa disebar ya nggak masalah juga harusnya,” ungkap Herry.

Selanjutnya adalah dengan menciptakan demand. Ia menjelaskan, selama ini penjualan rumah subsidi dilakukan terbuka, yang penting calon pembeli memenuhi persyaratan. Akibatnya, calon pembeli rumah subsidi tersebar, sehingga muncul masalah lokasi kerja yang jauh dari rumah subsidi yang dibangun.

Padahal, lanjut Herry, hal itu bisa diatasi dengan penyediaan rumah berbasis komunitas. Misalnya, pembangunan rumah subsidi untuk pekerja pabrik di satu lokasi. Dengan demikian, masalah jarak dan masalah kepastian demand bisa diatasi sekaligus. Rumah subsidi yang dibangun pasti terjual karena ada kerja sama sebelumnya antara pengembang dengan pemberi kerja.

“Nah itu, yang seharusnya kita bayangkan selama ini supply itu bergerak mulai beli tanah, desain, terus sampai rumah jadi. Rumah jadi, baru dijual. Padahal lho nggak gitu, demand itu bisa kita rintis ini, ” katanya.

Hal tersebut diungkapkannya akan meringankan pembiayaan bagi pihak pengembang.

“Ketika dia (masyarakat) beli tanah, sudah boleh diskusi, mereka sudah terlibat. Sehingga, rumah jadi udah bisa langsung diisi gitu. Pembiayaan juga bisa lebih ringan buat si pengembang. Hal itu barangkali bisa menjadi perhatian termasuk cara ini saya tetap melihat cara ini cara yang inklusif. Nggak bisa supply-supply sendiri, itu nggak. Yang disupply ini pada akhirnya harus bisa diisi,” ujar Herry.

Herry menegaskan pembangunan rumah hingga siap dihuni masyarakat, pembiayaannya disesuaikan dengan pendapatan masyarakat.

“Caranya harus affordable. Harga affordable ini kan, artinya cicilan setiap bulan harus bisa sesuai dengan 30% dari pendapatanya. Sisanya bisa dimanfaatkan. Caranya yang pertama kita desain produknya dulu, mulai dari bunga. Bunga itu kan pilihan kalau ditaruh 5% pas saja, diinterpretasi yang bisanya pemerintah. Ini kan kita maunya 0%. Tapi sebetulnya bukan gitu,” katanya.

Ia mengungkapkan cara tersebut bisa dikombinasikan dengan cara menabung dan rent to own (sewa lalu memiliki).

“Sebelum dia mendaftar, dia menabung dulu. Ini sebagai uang muka pada waktunya nanti. Terus mungkin dikombinasikan dengan rent to all. Sebelum waktunya, dia ini dia sewa lagi, ada bagian yang dilakukan untuk membayar DP tadi. Sehingga, porsi yang dicicilnya nanti makin kecil,” jelas Herry.

Herry mengaku apabila pemerintah sudah menemukan konsepnya, cara tersebut bisa dilakukan.

“Jadi, teknik-teknik itu harus kita eksplor juga. Sehingga, intinya doubelity tadi bisa kita capai. Kalau ketemu konsep ini bisa berjalan, harusnya menurut Saya sih, kita bisa berani membangun rusun tadi dengan memastikan pembelinya,” pungkas Herry.