Warung Leko, Investasi Rp 1,5 Milliar Dijanjikan Untung Rp 90 Juta per Bulan

0
8848
Warung Leko (dok pingpoint.co.id)

 

Berawal dari Hobi menyantap berbagai menu makanan, membawa pria yang akrab disapa Felix ini sejenak terpikir untuk memiliki usaha kuliner. Meski tak memiliki latar belakang sebagai pengusaha restoran atau tata boga, namun tak menyurutkan niat Felix membuka usaha kuliner yang khusus menyajikan menu iga sejak 16 November 2006 yang diberi nama Warung Leko.

“Saya ini seorang arsitek yang doyan makan, makanya tertarik buka usaha kuliner. Awalnya terpikir bikin masakan buntut, karena ibu saya suka memasak buntut. Tapi setelah dipikirkan kembali saya putuskan untuk membuka usaha makanan iga dengan menggunakan bumbu buntut ibu saya,” kenangnya.

Felix meyakini usaha yang dirintisnya memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan, terlebih pada saat itu masih sangat jarang usaha kuliner iga. Walaupun di awal usaha ia pernah hanya memperoleh pemasukan sebesar Rp 75 ribu satu hari, namun dengan keyakinan yang kuat, 2-3 bulan berikutnya usahanya mulai menampakkan hasil yang mulai berkembang.

Salah satu menu yang ditawarkan Iga Sapi Penyet yang masih terbilang menu baru saat itu, sehingga antusiasme masyarakat untuk mencoba begitu besar. Apalagi Iga Sapi Penyet Warung Leko menawarkan citarasa daging iga yang khas dengan trik-trik pengolahan secara khusus, dan juga dari bahan baku  daging. Bumbu-bumbu yang digunakan pun diolah dari berbagai rempah asli Indonesia. Dengan proses pengolahan sedemiian rupa, sehingga bumbu dapat meresap sampai ke dagingnya, ditambah rasa sambal pedas khas Warung Leko, membuat santapan ini semakin nikmat.

Harga yang ditawarkan untuk seporsi Iga Sapi Penyet dihargai Rp 25 ribu. Sementara untuk menu lain seperti Iga Goreng harganya Rp 25 ribu/porsi, Iga+Otot Penyet Rp 25 ribu/porsi, Iga Goreng Tepung Penyet Rp 37 ribu/porsi, Iga+Otot Goreng Tepung Penyet Rp 30 ribu dan Nasi Goreng Iga Rp 20 ribu. Harga tersebut belum termasuk nasi putih Rp 4 ribu dan dan minuman Rp 4,5-9,5 ribu. Rata-rata satu orang makan bisa menghabiskan 35-50 ribu.

“Semuanya menu  menjadi menu favorit di Warung Leko, karena memiliki keunggulan masing-masing,” paparnya berpromosi.

Tak heran jika dalam waktu setengah tahun saja usahanya sudah mulai dikenal. Satu tahun usahanya berjalan,  Felix  pun mulai mengembangkan usahanya melalui sistem waralaba.

Investasi Besar.

Di tahun 2007, Felix mulai menawarkan kerja sama dengan sistem waralaba yang didahului dengan mengurus legalitas usaha termasuk mendaftarkan merek Warung Leko di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

”Saya tertarik mewaralabakan karena usaha ini memiliki prospek yang besar dan agar bisa berkembang lebih cepat,” ujar pria yang hobi makan dan nonton ini.

Terbukti, sejak diwaralabakan, saat ini Warung Leko telah memiliki 1 gerai milik sendiri dan 32 gerai milik Terwaralaba dan yang tersebar di berbagai kota besar. Hebatnya lagi, tak ada satu pun gerai yang tutup sejak awal.

Nah, untuk menjadi Terwaralaba Warung Leko dibutuhkan investasi sebesar Rp 1,5 miliar yang berlaku untuk masa kerja sama selama 5 tahun yang bisa diperpanjang dengan biaya 1% dari total investasi. Dari investasi tersebut Terwaralaba tidak perlu pusing membayar sewa tempat atau mencari peralatan karena semuanya sudah termasuk dalam biaya investasi tersebut.

“Pokoknya Terwaralaba terima bersih tinggal jualan saja. Kita siapkan semuanya termasuk sewa tempat untuk lima tahun di manapun lokasinya baik di mal atau ruko di pinggir jalan strategis tidak mengubah besarnya investasi,” jelas pria kelahiran Surabaya 29 April 1983.

Demi menjaga kualitas rasa di setiap gerai, calon karyawan akan mendapat training meliputi cara mengolah dan menyajikan menu masakan iga kepada konsumen selama 2-4 minggu.

Pria yang baru saja mempunyai momongan ini mengatakan, jika lokasi menjadi sangat penting. Untuk itu pihak Pewaralaba memiliki seleksi ketat  berkait dengan lokasi usaha dengan memperhatikan aspek strategis,  seperti di dalam lingkungan perkantoran, perumahan, di dalam mal, atau lingkungan yang banyak dilalui banyak orang dan tidak pernah sepi. Tempat-tmpat itu akan direnovasi dengan konsep mewah.

“Kita juga akan kontrol satu atau dua kali dalam satu bulan. Tim kita juga siap membantu jika Terwaralaba menemui kendala atau membutuhkan konsultasi,” jelas pria yang mengaku mendapatkan untung dari franchise fee yang dibayarkan Mitra sebesar 1% dan royalty fee 3% dari omset setelah dipotong pajak yang dibayarkan Terwaralaba setiap bulan.

Terwaralaba diwajibkan membeli bahan baku berupa bumbu khas Iga Sapi Penyet kepada Pewaralaba (pemilik merek waralaba). Tidak ada minimal pembelian yang harus dipenuhi Terwaralaba, hanya saja semua ongkos kirim ditanggung Terwaralaba. Terwaralaba dijadwalkan balik modal dalam waktu 1-1,5 tahun setelah usahanya berjalan dengan target penjualan 200-300 porsi per hari.

Jika diasumsikan dari konsumen yang datang makan menghabiskan yang Rp  35-50 ribu, maka omset yang didapatkan sekitar Rp 300 juta per bulan dengan keuntungan bersih sebesar 30% atau sekitar Rp 90 juta per bulan setelah dikurangi biaya belanja bahan baku dan operasional bulanan.

Meski demikian, diingat Felix  besar kecilnya omset yan bisa diraih  sangat tegantung ke pihak  Terwaralaba  atau Mitra. Bila Mitra  giat menjalankan usahanya , maka target omset pasti akan tercapai.

Promosi.

Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, Felix meningkatkan kegiatan promosinya dengan memberikan dukungan berupa spanduk dan brosur-brosur kepada setiap Terwaralabanya dan mengkreasikan menu-menu baru yang berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.