Legitnya Usaha Bakery Rumahan

0
812
bakery (dok usahabakery.com)

Usaha bakery  saat ini marak dijumpai dalam skala home industry, dan biasanya pelaku usaha pemula banyak yang merintis usaha bakery dari rumah dengan pemasaran secara online. Bakery rumahan atau homemade bakery bisa dimulai dengan modal awal yang relatif kecil sekitar Rp 10 juta sampai 15 juta  untuk membeli bahan baku dan peralatan. Usaha ini pun sudah dapat dimulai dengan melakukan produksi sesuai pesanan.

Proses produksinya pun dapat dilakukan di dapur rumah dengan memanfaatkan beberapa peralatan yang sudah ada. Keunggulan lain bakery rumahan adalah proses produksi dilakukan setelah ada pesanan, sehingga varian produk bakery yang dijual masih dalam keadaan fresh.

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, bahan baku impor untuk membuat varian jenis bakery, mulai  dari cake, roti, pastri hingga kue tradisional atau kue basah juga terpengaruh oleh menguatnya Dolar. Tak pelak  harga bahan baku produk bakery juga ikut melonjak.

Pakar kuliner Dedi Rustandi melihat, saat ini pelaku usaha bakery rumahan tetap bisa berkreasi untuk membuat aneka jenis bakery yang memenuhi selera konsumen. Namun kreasi yang dibuat  lebih ke arah simpel yang tidak banyak menggunakan bahan-bahan impor dalam jumlah banyak  ataupun dengan harga mahal. Sebaiknya hindari penggunaan bahan-bahan impor dalam jumlah banyak, karena sekitar 70 persen bahan baku bakery dari impor seperti ragi, terigu, susu, margarin.

”Seperti pisang coklat dengan penggunaan bahan baku pisang yang tidak impor. Atau bisa juga pancake namun hindari pancake dengan  bahan durian karena harga durian sangat tergantung Dolar dan saat ini harga durian per kilogramnya bisa sampai Rp 80 ribu,” papar Dedi.

Untuk itu, kata Dedi, pelaku usaha bakery rumahan sebaiknya lebih banyak berimprovisasi seperti misalnya membuat kue rasa green tea atau donat warna hitam, maupun menggunakan bahan baku lokal seperti ubi atau talas.

Pelaku usaha bakery rumahan menurut Dedi memang memiliki kelebihan terutama dari biaya yang  tidak besar untuk sewa tempat karena bisa dipromosikan secara online,  sehingga tidak terkena pajak. Selain itu kapasitas produksi belum terlalu besar seperti halnya bakery pabrikan  dan bisa dikerjakan atau ditangani sendiri sehingga lebih bisa menekan biaya operasional.

Hal lain yang menjadi keunggulan usaha bakery rumahan dibanding skala pabrikan menurut Dedi adalah tidak perlu waktu lama jika ingin membuat atau mengubah menu baru karena belum banyak tenaga kerja yang perlu dilatih, bahkan rata-rata ditangani oleh pelaku usaha sendiri.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pelaku usaha bakery rumahan. Menurut Dedi Rustandi, pelaku usaha bakery rumahan  dalam membuat produk biasanya tidak stabil atau konsisten karena belum ada standar baku resep yang dibuat.   Untuk itu perlu adanya standarisasi takaran bahan yang digunakan, kontinuitas usaha dengan melakukan operasional usaha secara kontinyu, dan juga tetap mengikuti tren bakery yang tengah berkembang.

Tren.

Selain cita rasa kue yang masih fresh, konsumen bakery  rumahan biasanya menginginkan untuk mengonsumsi produk bakery sesuai selera mereka. Bahkan jika ada tren baru yang sedang berkembang, konsumen sangat merespon positif karena ingin mengetahui citarasa produk baru tersebut. Untuk itu, para pelaku usaha bakery rumahan tetap harus mengetahui tren produk bakery yang tengah ramai di pasaran atau menciptakan inovasi yang berbeda.

Inovasi tersebut akan membuat konsumen tidak cepat bosan ketika menyantap menu yang Anda tawarkan. Dan ada baiknya, setiap 1 bulan sekali Anda menawarkan menu cake, roti ataupun cookies terbaru yang belum ada di pasaran.

Bahkan dengan kreasi tersebut bisa meningkatkan jumlah pelanggan loyal. Salah satunya Karina Mecca dan Keshia Deshira, pemilik Dulcet Patisserie yang menawarkan variasi French Cakes dan aneka pastries yang low fat dan less sugar. Untuk itu digunakan Vegan Butter yang membuat kue kreasi Karina dan Keshia tidak terasa eneg.

Begitu pun untuk less sugar, dengan mengurangi takaran gula, mislanya jika rasa coklat maka lebih ditonjolkan rasa manis dari coklat, bukan rasa manis dari gula, corn syrup, atau glucose. Selain itu, Karina dan Keshai juga membuat kreasi dari bentuk kue, seperti kue sus tidak hanya dengan bentuk bulat tetapi juga berbentuk finger-shaped.Dan bagi para pelanggan vegetarian, ditawarkan  varian Vegan and Gluten Free yang terdiri dari dua jenis cakes yaitu Vegan & Gluten Free Chocolate Cake dan Vegan & Gluten Free Chocolate Cupcake.

Cindy dan Caesaria, pemilik Kokoci juga mengikuti tren roti yang tengah berkembang dengan membuat roti Jepang yang teksturnya lembut dan lumer, dan rasanya tidak terlalu manis. Saat ini Cindy dan Caesaria memiliki beberapa varian roti Jepang yakni Coco Rolls and Almond Rolls, dan Milky Vanilla Soft Bun.

Penggunaan bahan baku juga harus berkualitas, misalnya Eni Dayalti, pemilik Enny Bakery yang tidak menggunakan rhum dalam membuat produk bakery, serta mendaftarkan produk ke MUI untuk mendapatkan sertifikat halal, maupun dari Dinas Kesehatan. Selain itu, agar kue tetap terasa enak dan fresh, bisa diletakkan di etalase dengan suhu dingin tertentu.

Kekuatan Online

Tingginya biaya sewa untuk membuka toko membuat usaha bakery rumahan menjadi pilihan bagi para pelaku usaha bakery pemula. Dalam pemasaran ini, meski tak memiliki outlet, pelaku usaha bisa memanfaatkan  jasa delivery order online untuk mengirim pesanan  ke konsumen. Lambat laun, jika usaha sudah berkembang dan pendapatan mulai stabil, pelaku usaha bisa mendirikan outlet untuk lebih memperluas ekspansi usahanya.

Agar produk memenuhi selera konsumen, sebaiknya pelaku usaha perlu menyebar tester ke lingkungan terdekat, seperti keluarga, teman-teman dan mempromosikan produk melalui media sosial seperti Instagram, facebook, membuat website usaha  dan lainnya.

Meski begitu promosi secara konvensional dari mulut ke mulut juga efektif dilakukan. Pelaku usaha bisa menerima pesanan dari lingkungan keluarga, karyawan kantoran, dan berbagai acara seperti arisan maupun gathering.

Target pasar kalangan menengah atas lebih menjanjikan bagi para pelaku usaha, karena di kalangan menengah atas biasanya kerap melakukan event-event, atau hari-hari spesial sehingga lebih banyak permintaan.

Apalagi di kota kota besar prospek usaha ini cukup cerah dan punya market yang cukup banyak, seiring dengan gaya hidup masyarakat yang serba praktis sehingga banyak masyarakat  lebih memilih belanja online ketimbang harus membuang waktu dan tenaga di jalan. Termasuk memesan produk bakery dengan sistem online.

Untung Besar

Usaha bakery rumahan bisa meraih pendapatan cukup besar, seperti  Karina Mecca dan Keshia Deshira, pemilik Dulcet Patisserie yang bisa meraih omset hingga Rp 54 juta dengan keuntungan bersih sampai 50 persen. Banyaknya varian produk bakery yang ditawarkan ikut menunjang besarnya penjualan.

Begitu pun Cindy dan Caesaria, pemilik Kokoci yang dapat menjual ribuan buah roti per bulan. Dengan minimnya biaya operaisonal maka keuntungan bersih usahanya bisa sampai 70 persen. Melihat besarnya peluang untung, meski kondisi ekonomi dengan kenaikan harga bahan baku, namun terbukti usaha bakery rumahan masih tetap menjanjikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.