Mau Punya Kedai Kopi, Waralaba Ini Tawarkan Investasi Terjangkau

0
239
Kedai kopi (dok theculturetrip.com)

 

Hobi nongkrong sambil nyeruput kopi di kedai kopi menginspirasi Yudi Haryanto untuk membuka usaha kedai kopi. Awalnya, pria yang akrab disapa Joedy ini tak begitu tertarik terjun ke bisnis kedai kopi. Padahal sebagai produsen pengolah kopi, ia mampu meracik berbagai jenis kopi yang banyak dipesan berbagai kedai kopi yang saat ini menjamur hingga ekspor ke Korea, dan Jepang. Namun tradisi ngopi sudah menjadi lifestyle dan mendatangkan untung besar pun menarik Joedy membuka kedai kopi dengan nama Coffee Break di Sawojajar, Malang, Jawa Timur, Januari 2007.

”Awalnya saya cuma mensuplai kopi ke berbagai kedai kopi dan sebagian ada juga permintaan ekspor. Tapi melihat kedai kopi jadi bisnis paling liquid, membuat saya pun tertantang buka kedai kopi. Kalau orang saja ambil kopi dari saya bisa sukses, mengapa saya tidak?” terangnya bersemangat.

Berbakal pengalaman mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi dengan berbagai macam tingkatan kualitas, dan dibantu seorang rekannya yang kebetulan seorang peracik kopi (barista) semakin memantapkan langkah suami dari Sherly Novitasari, SE, ini menjalankan bisnis barunya itu.

“Saya gunakan berbagai jenis kopi mulai dari Robusta, Arabica, dan Robinson (kopi lampung jenis exerta). Ke depan kita pun akan coba tawarkan kopi luwak yang memang banyak di-request pelanggan,” terang pria kelahiran 23 Juli 1983 ini.

Coffee Shop

Dalam menjalankan bisnis kedai kopinya, Joedy menawarkan minum kopi berkualitas racikannya baik diminum di tempat (dine in) maupun dibawa pulang (take away).

“Saya sengaja buat konsep usaha yang nyaman seperti coffee shop yang banyak ditemui di berbagai mal. Meski berkonsep coffee shop, namun sajian kopi dan makanan yang ditawarkan sangat terjangkau. Kita ingin orang nongkrong sepuasnya di Coffee Break Cafe tapi tetap tak menguras kantong,” beber anak ke-3 dari 4 bersaudara ini.

Berbagai jenis kopi disajikan di Coffee Break seperti Espresso, Cappuccino, dan Latté baik yang nikmat disajikan dingin maupun panas. Selain kopi, juga disajikan aneka macam makanan seperti Tofu Crispy, Roll Sandwich, atau  Deluxe Fried Rice. Harga yang ditawarkan pun tak membuat kantong jebol yaitu berkisar Rp 5-15 ribu per porsi.

”Menu unggulan dari Coffee Break yaitu Cappuccino, karena menu Cappucino terdiri dari 4 rasa, yakni kopi, susu, creamer, serta float,” tutur Joedy. Kini ia telah memiliki dua cabang Coffee Break di Malang, Jawa Timur.

Wajar kiranya jika sejak pertama kali dibuka, Coffee Break langsung mendapat tempat di hati masyarakat. Tak heran jika dalam sehari Joedy mampu menjual rata-rata 120 cup kopi. Jika ditambah penjualan makanan, pria yang hobi membaca buku dan browsing internet ini mengaku mampu meraup omset sebesar Rp 3-5 juta tiap hari.

Waralaba

Kesuksesan Joedy dalam mengembangkan usahanya menarik minat masyarakat untuk menjadi Mitra Coffee Break. Namun baru Januari 2009 Joedy membuka kesempatan kerja sama waralaba Coffee Break.

”Dari awal sih sudah banyak yang ingin jadi Mitra kita, tapi saya mau lihat dulu pasang surut usaha selama dua tahun sehingga setelah diwaralabakan Mitra tidak akan merugi karena kami membuat asumsi perhitungan usaha riil berdasarkan pengalaman,” paparnya bangga.

Untuk itu Joedy mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan seperti membuat SOP (Standard Operating Procedure), mendaftarkan brand Coffee Break ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI), mendirikan badan usaha di bawah payung CV Berkat Jagad Raya yang menghabiskan biaya sebesar Rp 10 juta.

”Kebetulan ada karyawan kami yang pernah bekerja di salah satu waralaba, sehingga tidak sulit untuk membuat SOP serta mengurus perizinan lainnya,” terangnya.

Investasi

Terdapat 5 paket waralaba yang ditawarkan di antaranya Tipe 1 Mini Bar dengan investasi Rp 17,5 juta, Tipe 2 Cup Coffee investasinya Rp 30 juta, Tipe 3 Extreme Bar Rp 40 juta, Tipe 4 Classic Booth Rp 55 juta dan Tipe 5 Cafe Bar Rp 75 juta. Dengan investasi tersebut Terwaralaba akan mendapatkan 1 unit booth, 1 unit dispenser, mesin standar espresso, dan mixer, 3 lusin gelas, gelas cangkir, piring, sendok, garpu, dan pisau makan, 1 unit standing banner, dan 1 rim (500 lembar) brosur.

Yang membedakan paket satu dengan yang lainnya adalah desain booth dan jumlah perlengkapan yang akan Terwaralaba peroleh. Khusus untuk Tipe 3, 4 dan 5 Terwaralaba juga mendapatkan 2 unit dispenser, mixer, mesin standar Espresso, 4 lusin gelas, gelas cangkir, piring, sendok, garpu, dan pisau makan, 2 unit standing banner, 1 unit neon box.

Joedy mengatakan, dari modal yang dikeluarkan sudah termasuk franchise fee selama 5 tahun yang bisa diperpanjang dengan membayar sesuai paket yang diambil namun akan mendapatkan diskon 20%. Sedangkan kewajiban membayar royalty fee sebesar 3% dari omset tiap bulan akan dipungut mulai di tahun kedua.

”Karena royalty dikenakan pada tahun dua, banyak yang tertarik dengan sistem waralaba yang kami tawarkan. Dengan demikian untuk tahun pertama, Terwaralaba bisa fokus untuk balik modal,” ucapnya.

Dijelaskan Joedy, Terwaralaba ditargetkan mampu balik modal dalam waktu 3 bulan dan paling lama 6 bulan, dengan target penjualan sebanyak 70 cup tiap hari. Jika asumsikan harga jual rata-rata 1 cup Rp 10 ribu, maka omset yang didapatkan mencapai Rp 21 juta per bulan, dan setelah dikurangi biaya sewa tempat, biaya pembelian bahan baku, dan biaya operasional lainnya maka Terwaralaba akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 10,5 juta per bulan.

Agar Terwaralaba mampu mencapai target omset yang ditetapkan dan cepat balik modal, Joedy menyarankan Terwaralaba memilih lokasi usaha yang ramai atau dekat dengan pusat keramaian seperti mal, bandara, rumah sakit, kampus, dekat sekolah serta di pujasera yang memiliki meja dan kursi.

Guna semakin mengenalkan brand Coffee Break dan sistem waralabanya, Joedy mengaku mempunyai budget khusus untuk kegiatan promosi sebesar Rp 10 juta per bulan. Tak heran bila Coffee Break gencar melakukan promosi untuk menarik minat pelanggan seperti buy 2 get 2 free, pulang bawa HP, ataupun minum sampai klenger. Sedang untuk menjaring Terwaralaba Joedy memasang iklan di media serta rutin mengikuti pameran.

Sejak diwaralabakan dua tahun lalu hingga kini Coffee Break telah memiliki 23 Terwaralaba yang di antaranya tersebar di Jakarta, Samarinda, Bandung, Pontianak, Surabaya, Yogyakarta, Cirebon, hingga Medan. ”Setiap tahun saya selalu menargetkan menjaring 50 Terwaralaba baru, bahkan saya ingin Coffee Break go international,” ujarnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.