Booming Usaha Kuliner Ready to Cook

0
227
i Cook (dok i-cookculinary.com)

 

Tingkat kesibukan masyarakat di kota-kota besar yang semakin tinggi membuat masyarakatnya harus serba cepat dan instan dalam semua hal, tidak terkecuali soal makanan. Bila selama ini frozen food menjadi pilihan bagi mereka tidak punya banyak waktu untuk memasak, kini banyak masyarakat mulai memilih membeli bahan makanan siap masak (ready to cook). Dengan menu makanan yang lebih variatif membuat usaha ready to cook semakin diminati.

Menurut Pengamat Wirausaha Djoko Kurniawan, meski terbilang konsep baru dalam usaha kuliner khususnya di Indonesia, namun masyarakat dapat dengan cepat menerimanya. Pasalnya masyarakat sudah terbiasa dengan makanan cepat saji.

“Pelaku usaha kuliner kita semakin kreatif dengan mengusung konsep ready to cook yang sebenarnya mengadopsi konsep frozen food sebagai makanan instan yang mudah diolah oleh pelanggan, namun dengan menu yang lebih beragam,” ujar Djoko.

Berdasarkan fakta tersebut tentunya membuat peluang usaha makanan siap masak cukup menjanjikan untuk dijalankan tidak hanya di kota besar saja, tetapi juga sudah mulai tumbuh di kota-kota kecil, seperti yang dikatakan Pelaku Besar usaha makanan siap masak 15MinutesCooking, Wita Purbaningsih.

“Peluang usaha makanan siap masak masih sangat besar untuk dikembangkan khususnya di kota besar, namun di kota kecil usaha juga sudah mulai tumbuh,” ujar Wita.

Menu Bervariasi

Bisnis kuliner ready to coo menawarkan menu yang bervariasi dan umumnya merupakan menu rumahan sehari-hari. Tak hanya masakan nasional, banyak pelaku usaha menawarkan aneka menu tradisional maupun mancanegara, salah satunya adalah Black Garlic. Brand yang dirintis Juni 2014 ini tak hanya menawarkan menu dalam negeri tetapi juga aneka menu Asia hingga Eropa.

Bahkan agar pelanggan tidak cepat merasa bosan Black Garlic menghadirkan menu yang berbeda setiap pekannya.

“Kita selalu melakukan uji coba resep terlebih dahulu selama sebulan sebelum meluncurkan menu baru, karena menu kita selalu berganti setiap minggu. Misalnya dalam sebulan ini kita selalu menghadirkan aneka menu Nusantara yang berbeda setiap minggunya, maka bulan depan kita lebih banyak menawarkan menu Eropa,” ujar CEO Black Garlic, Imanuel Abraham.

Lain lagi dengan Berry Kitchen yang menawarkan aneka menu kreatif seperti Pasta Lelur Asin, Bakso Goreng Udang, Omurice Jepang, Rice Crispy, Kue Coklat Nuttela, Chicken Nungpao, Lontong Medan, Empal Gentong Khas Cirebon, Grilled Chicken Breast, Po Cai 3 Telur, Soup Asam Pedas Ala Szechuan, Sop Buntut, Hungarian Beef Stew, hingga Ikan Ala Thai.

Selain itu ada iCook yang menawarkan 70 varian menu yang di bagi menjadi 4 kategori sesuai dengan kebutuhan pelanggan yaitu iCook yakni bahan masakan segar yang siap dimasak menggunakan kompor, Microbox yakni makanan yang siap dalam sekejap karena tinggal dimasukkan dalam microwave, Kilokal yaitu bahan masakan bagi mereka yang diet, dan Quickmeal yakni sejenis makanan beku/frozen food yang bisa dimasak kapan saja.

Jika tiga brand sebelumnya lebih banyak mengandalkan menu olahan daging dan ayam, lain halnya dengan Darling Mang Uje yang menghadirkan 21 macam sayuran yang menyehatkan seperti Sayur Bening Bayam Jamur, Sayur Asam Kacang Merah, Sup Jamur Pedas, hingga Ketoprak Spesial, dan Gado-Gado Spesial,.

Suksesnya pelaku usaha melakukan penitrasi pasar tak lepas dari kebutuhan masyarakat akan makanan instant yang bisa siap dalam sekejap. Selain itu, inovasi produk dengan cara rutin mengeluarkan varian menu baru secara berkala agar pelanggan tidak cepat merasa bosan. Seperti dikatakan pemilik iCook, Ardi Lesmana, yang mengaku rutin mengeluarkan beberapa varian menu setiap bulannya agar pelanggan tidak cepat merasa bosan.

“Persaingan di usaha makanan siap masak semakin ketat ke depannya, untuk itu kita harus selalu melakukan inovasi,” ujar pria yang hobi mengendarai Moge ini.

Sehat dan Terjangkau

Selain praktis, salah satu kelebihan makanan siap masak adalah dari segi kesehatan. Pasalnya produk yang ditawarkan merupakan bahan segar yang semua bumbu dan proses masaknya dilakukan konsumen.

“Dengan memasak sendiri kita lebih bisa menjamin proses memasak yang baik seperti menggunakan minyak yang baru, bahan yang bermutu dan rasa yang terjamin. Disamping itu harganya akan lebih murah dibanding membeli makanan jadi di restoran,” ujar Imanuel.

Semua profil yang berhasil di himpun Wirausaha sepakat untuk tidak menggunakan bahan pengawet. Bahkan beberapa di antaranya tidak menggunakan penyedap berupa MSG  (monosodium glutamate), iCook misalnya yang menyediakan MSG secara terpisah.

“Untuk produk Kilokal dan Quickmeal kita tidak menggunakan MSG, namun untuk beberapa produk kita tetap menyediakan MSG secara terpisah sehingga pilihan ada di pelanggan,” ujar Ardi Lesmana selaku Pemilik iCook.

Tidak perlu khawatir soal harga, meski sangat menjaga kualitas bahan dan rasa namun harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau dan tidak jauh beda jika belanja bahan makanan di pasar. Mayoritas pelaku usaha msakana siap masak menawarkan harga jual berkisar antara Rp 50 – 150 ribu/box yang terdiri dari 1-3 menu. Namun harga lebih terjangkau ditawarkan Darling Mang Uje dengan berbagai menu sayuran mulai dari Rp 5 – 20 ribu/pack.

Dengan segala keunggulan tersebut maka tidak heran bila pelaku bisnis ready to cook s mengaku mampu meraup omset hingga puluhan juta tiap bulannya bulan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.